WHAT'S NEW?
Loading...

Ketaatan kepada penguasa merupakan salah satu dari USUL AKIDAH Ahlus Sunnah wal Jamaah


بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيــــــــــــــــــمِ


Ketaatan kepada penguasa merupakan salah satu dari ushul aqidah ahlissunnah wal jamaah, yang jika diselisihi maka akan mengeluarkan pelakunya dari Ahlus Sunnah. Hal ini ditunjukkan oleh amalan dan ucapan para ulama salaf yang mana mereka menyebutkan permasalahan ini dalam kitab-kitab aqidah Ahlus Sunnah yang mereka tulis.

Imam Ahmad rahimahullah berkata dalam risalah Ushul As-Sunnah:

“Wajib untuk mendengar dan taat kepada para pemimpin dan amirul mukminin, baik dia orang yang baik maupun orang yang jahat.”

Imam Ibnu Abi Hatim berkata dalam risalah Ashlu As-Sunnah atau dikenal juga dengan nama I’tiqad Ad-Din:

“Saya bertanya kepada ayahku (Abu Hatim) dan juga Abu Zur’ah mengenai mazhab ahlussunnah dalam masalah pokok-pokok agama, dan mazhab yang keduanya mendapati para ulama di berbagai negeri berada di atasnya, dan mazhab yang mereka berdua sendiri yakini.

Maka keduanya berkata,
“Kami menjumpai para ulama di berbagai negeri, di Hijaz, di Irak, di Mesir, di Syam, dan di Yaman. Maka di antara mazhab mereka adalah …. Kami mendengar dan taat kepada pimpinan yang Allah serahkan urusan kami kepadanya, dan kami tidak melepaskan diri dari ketaatan kepadanya.”


Imam Ath-Thahawi berkata dalam kitab Al-Aqidah Ath-Thahawiah:

“Kami memandang bahwa menaati penguasa yang merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah Azz wa Jalla adalah suatu kewajiban, selama mereka tidak memerintahkan kepada kemaksiatan. Kami mendoakan mereka agar mendapatkan kesalehan dan kebaikan.”

Al-Barbahari rahimahullah berkata dalam Syarh As-Sunnah,

“Wajib untuk mendengar dan taat kepada para pemimpin dalam perkara yang dicintai dan diridhai oleh Allah. Barangsiapa yang memegang tampuk khilafah di mana seluruh manusia sepakat menerimanya dan meridhainya, maka dia dinamakan amirul mukminin. Tidak halal bagi siapapun untuk tinggal satu malam dalam keadaan dia meyakini bahwa dirinya tidak memiliki pemimpin, baik pemimpin itu adalah orang yang saleh maupun orang yang jahat.”

Mufaffaquddin Ibnu Qudamah rahimahullah berkata dalam Lum’ah Al-I’tiqad,

“Termasuk sunnah (tuntunan Islam) adalah mendengar dan taat kepada para penguasa dan pimpinan (amir) kaum muslimin, baik penguasa yang soleh maupun yang jahat. Selama dia tidak memerintahkan kemaksiatan, karena tidak ada ketaatan kepada seorangpun dalam bermaksiat kepada Allah.”


Imam Al-Lalaka`i dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahlussunnah wal Jamaah menyebutkan aqidah beberapa orang imam ahlissunnah dalam permasalahan ini di antaranya:

[Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah]

Beliau berkata, “Wajib untuk bersabar di bawah kepemimpinan penguasa, baik dia berbuat baik maupun berbuat jahat.

[Ali bin Abdillah Al-Madini rahimahullah]

Beliau berkata, “Tidak halal bagi seorangpun yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk tinggal semalampun kecuali dalam keadaan dia mempunyai pimpinan, baik pimpinan itu saleh maupun jahat.

[Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari rahimahullah]

Beliau berkata: “Saya telah berjumpa dengan 1000 orang lebih ulama, di Hijaz, Makkah, Madinah, Kufah, Bashrah, Wasith, Baghdad, Syam, dan Mesir. Saya berjumpa dengan mereka berulang-ulang kali dari generasi ke generasi, dari generasi ke generasi.” Kemudian beliau menyebutkan sebagian kecil dari nama-nama para ulama tersebut, lalu kembali berkata. “Maka saya tidak pernah melihat seorangpun di antara mereka yang berbeda pendapat dalam masalah-masalah berikut: … Dan kami tidak akan mengganggu penguasa pada urusannya, berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam, “Ada 3 perkara yang hati seorang muslim tidak akan dengki terhadapnya: Mengikhlaskan amalan untuk Allah, menaati penguasa, dan komitmen dengan al-jamaah, karena doa kepada penguasa akan mengenai juga rakyatnya.”

[Abdurrahman bin Abu Hatim Muhammad bin Idris]

Beliau berkata, “Kami mendengar dan taat kepada kepada orang yang Allah Azza wa Jalla serahkan urusan kami kepadanya.”

[Sahl bin Abdillah At-Tasturi]

Beliau pernah ditanya, “Kapan seseorang mengetahui kalau dirinya berada di atas sunnah? Beliau menjawab, “Jika dia mengetahui kalau dalam dirinya adal 10 perkara.” Di antara yang beliau sebutkan adalah, “Tidak meninggalkan shalat berjamaah di belakang setiap penguasa, penguasa yang curang maupun yang adil.


Maka semua dalil-dalil di atas ditambah dengan kesepakatan para ulama salaf di berbagai zaman dan tempat, menunjukkan bahwa ketaatan kepada pemerintah bukanlah masalah kecil atau masalah sampingan dalam agama. Bahkan dia merupakan salah satu tonggak tegaknya agama, karena tanpa adanya ketaatan kepada penguasa maka yang ada adalah kerusakan dimana-mana, dan keadaan yang kacau jelas mempengaruhi keberagamaan setiap orang.


Artikel asal: Wajibnya Taat Kepada Penguasa
http://al-atsariyyah.com/wajibnya-taat-kepada-penguasa.html

Ketaatan kepada penguasa merupakan salah satu dari USUL AKIDAH Ahlus Sunnah wal Jamaah


بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيــــــــــــــــــمِ


Ketaatan kepada penguasa merupakan salah satu dari ushul aqidah ahlissunnah wal jamaah, yang jika diselisihi maka akan mengeluarkan pelakunya dari Ahlus Sunnah. Hal ini ditunjukkan oleh amalan dan ucapan para ulama salaf yang mana mereka menyebutkan permasalahan ini dalam kitab-kitab aqidah Ahlus Sunnah yang mereka tulis.

Imam Ahmad rahimahullah berkata dalam risalah Ushul As-Sunnah:

“Wajib untuk mendengar dan taat kepada para pemimpin dan amirul mukminin, baik dia orang yang baik maupun orang yang jahat.”

Imam Ibnu Abi Hatim berkata dalam risalah Ashlu As-Sunnah atau dikenal juga dengan nama I’tiqad Ad-Din:

“Saya bertanya kepada ayahku (Abu Hatim) dan juga Abu Zur’ah mengenai mazhab ahlussunnah dalam masalah pokok-pokok agama, dan mazhab yang keduanya mendapati para ulama di berbagai negeri berada di atasnya, dan mazhab yang mereka berdua sendiri yakini.

Maka keduanya berkata,
“Kami menjumpai para ulama di berbagai negeri, di Hijaz, di Irak, di Mesir, di Syam, dan di Yaman. Maka di antara mazhab mereka adalah …. Kami mendengar dan taat kepada pimpinan yang Allah serahkan urusan kami kepadanya, dan kami tidak melepaskan diri dari ketaatan kepadanya.”


Imam Ath-Thahawi berkata dalam kitab Al-Aqidah Ath-Thahawiah:

“Kami memandang bahwa menaati penguasa yang merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah Azz wa Jalla adalah suatu kewajiban, selama mereka tidak memerintahkan kepada kemaksiatan. Kami mendoakan mereka agar mendapatkan kesalehan dan kebaikan.”

Al-Barbahari rahimahullah berkata dalam Syarh As-Sunnah,

“Wajib untuk mendengar dan taat kepada para pemimpin dalam perkara yang dicintai dan diridhai oleh Allah. Barangsiapa yang memegang tampuk khilafah di mana seluruh manusia sepakat menerimanya dan meridhainya, maka dia dinamakan amirul mukminin. Tidak halal bagi siapapun untuk tinggal satu malam dalam keadaan dia meyakini bahwa dirinya tidak memiliki pemimpin, baik pemimpin itu adalah orang yang saleh maupun orang yang jahat.”

Mufaffaquddin Ibnu Qudamah rahimahullah berkata dalam Lum’ah Al-I’tiqad,

“Termasuk sunnah (tuntunan Islam) adalah mendengar dan taat kepada para penguasa dan pimpinan (amir) kaum muslimin, baik penguasa yang soleh maupun yang jahat. Selama dia tidak memerintahkan kemaksiatan, karena tidak ada ketaatan kepada seorangpun dalam bermaksiat kepada Allah.”


Imam Al-Lalaka`i dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahlussunnah wal Jamaah menyebutkan aqidah beberapa orang imam ahlissunnah dalam permasalahan ini di antaranya:

[Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah]

Beliau berkata, “Wajib untuk bersabar di bawah kepemimpinan penguasa, baik dia berbuat baik maupun berbuat jahat.

[Ali bin Abdillah Al-Madini rahimahullah]

Beliau berkata, “Tidak halal bagi seorangpun yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk tinggal semalampun kecuali dalam keadaan dia mempunyai pimpinan, baik pimpinan itu saleh maupun jahat.

[Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari rahimahullah]

Beliau berkata: “Saya telah berjumpa dengan 1000 orang lebih ulama, di Hijaz, Makkah, Madinah, Kufah, Bashrah, Wasith, Baghdad, Syam, dan Mesir. Saya berjumpa dengan mereka berulang-ulang kali dari generasi ke generasi, dari generasi ke generasi.” Kemudian beliau menyebutkan sebagian kecil dari nama-nama para ulama tersebut, lalu kembali berkata. “Maka saya tidak pernah melihat seorangpun di antara mereka yang berbeda pendapat dalam masalah-masalah berikut: … Dan kami tidak akan mengganggu penguasa pada urusannya, berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam, “Ada 3 perkara yang hati seorang muslim tidak akan dengki terhadapnya: Mengikhlaskan amalan untuk Allah, menaati penguasa, dan komitmen dengan al-jamaah, karena doa kepada penguasa akan mengenai juga rakyatnya.”

[Abdurrahman bin Abu Hatim Muhammad bin Idris]

Beliau berkata, “Kami mendengar dan taat kepada kepada orang yang Allah Azza wa Jalla serahkan urusan kami kepadanya.”

[Sahl bin Abdillah At-Tasturi]

Beliau pernah ditanya, “Kapan seseorang mengetahui kalau dirinya berada di atas sunnah? Beliau menjawab, “Jika dia mengetahui kalau dalam dirinya adal 10 perkara.” Di antara yang beliau sebutkan adalah, “Tidak meninggalkan shalat berjamaah di belakang setiap penguasa, penguasa yang curang maupun yang adil.


Maka semua dalil-dalil di atas ditambah dengan kesepakatan para ulama salaf di berbagai zaman dan tempat, menunjukkan bahwa ketaatan kepada pemerintah bukanlah masalah kecil atau masalah sampingan dalam agama. Bahkan dia merupakan salah satu tonggak tegaknya agama, karena tanpa adanya ketaatan kepada penguasa maka yang ada adalah kerusakan dimana-mana, dan keadaan yang kacau jelas mempengaruhi keberagamaan setiap orang.


Artikel asal: Wajibnya Taat Kepada Penguasa
http://al-atsariyyah.com/wajibnya-taat-kepada-penguasa.html

Tanda Kebaikan dan Kejelekan Seorang Hamba


بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيــــــــــــــــــمِ


Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوْبَةَ فِي الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ


"Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada hamba-Nya maka Allah akan menyegerakan balasannya di dunia, dan apabila Allah menginginkan kejelekan kepada hamba-Nya maka Allah akan menunda balasan dari dosanya, sampai Allah sempurnakan balasannya di hari kiamat." (HR. At-Tirmidziy no.2396 dari Anas bin Malik, lihat Ash-Shahiihah no.1220)

Dalam hadits ini dijelaskan bahwa Allah menginginkan kebaikan dan kejelekan kepada hamba-Nya. Akan tetapi kejelekan yang dimaksudkan di sini bukanlah kepada dzatnya kejelekan tersebut berdasarkan sabda Rasulullah:

وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ


"Dan kejelekan tidaklah disandarkan kepada-Mu." (HR. Muslim no.771 dari 'Ali bin Abi Thalib)

Maka barangsiapa menginginkan kejelekan kepada dzatnya maka kejelekan itu disandarkan kepadanya. Akan tetapi Allah menginginkan kejelekan karena suatu hikmah sehingga jadilah hal itu sebagai kebaikan ditinjau dari hikmah yang dikandungnya.

Sesungguhnya seluruh perkara itu di tangan Allah 'Azza wa Jalla dan berjalan sesuai dengan kehendak-Nya karena Allah berfirman tentang diri-Nya:

إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ


"Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki." (Huud:107)

Dan juga Dia berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ


"Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki." (Al-Hajj:18)


Maka semua perkara itu di tangan Allah

Dan seseorang tidak akan lepas dari salah/keliru, berbuat maksiat dan kurang dalam menunaikan kewajiban, maka apabila Allah menghendaki kebaikan kepada hamba-Nya, akan Allah segerakan baginya balasan (dari perbuatan dosanya) di dunia, apakah diuji dengan hartanya atau keluarganya atau dirinya sendiri atau dengan seseorang yang menjadi sebab adanya ujian-ujian tersebut.

Yang jelas, dia akan disegerakan balasan (dari perbuatan dosanya). Karena sesungguhnya balasan akibat perbuatan dosa dengan diuji pada hartanya, keluarganya ataupun dirinya, itu akan menghapuskan kesalahan-kesalahan. Maka apabila seorang hamba disegerakan balasannya dan Allah hapuskan kesalahannya dengan hal itu, maka berarti Allah mencukupkan balasan kepadanya dan hamba tersebut tidak mempunyai dosa lagi karena dosa-dosanya telah dibersihkan dengan adanya musibah dan bencana yang menimpanya.

Bahkan kadang-kadang seseorang harus menanggung beratnya menghadapi sakaratul maut karena adanya satu atau dua dosa yang dia miliki supaya terhapus dosa-dosa tersebut, sehingga dia keluar dari dunia dalam keadaan bersih dari dosa-dosa. Dan ini adalah suatu kenikmatan karena sesungguhnya 'adzab dunia itu lebih ringan daripada 'adzab akhirat.

Akan tetapi apabila Allah menginginkan kejelekan kepada hamba-Nya maka akan Allah biarkan dia dalam keadaan penuh kemaksiatan dan akan Allah curahkan berbagai kenikmatan kepadanya dan Allah hindarkan malapetaka darinya sampai dia menjadi orang yang sombong dan bangga dengan apa yang Allah berikan kepadanya. Dan ketika itu dia akan menjumpai Rabbnya dalam keadaan bergelimang dengan kesalahan dan dosa lalu dia pun di akhirat disiksa akibat dosa-dosanya tersebut. Kita meminta kepada Allah keselamatan.

Maka apabila engkau melihat seseorang yang nampak dengan kemaksiatan dan telah Allah hindarkan dia dari musibah serta dituangkan kepadanya berbagai kenikmatan maka ketahuilah bahwasanya Allah menginginkan kejelekan kepadanya, karena Allah mengakhirkan balasan dari perbuatan dosanya sampai dicukupkan balasannya pada hari kiamat.


(Dikutip dari Bulletin Al Wala' wa Bara', Edisi ke-6 Tahun ke-3 / 31 Desember 2004 M / 19 Dzul Qo'dah 1425 H. Judul asli Sabar terhadap Taqdir Allah. Diterbitkan Yayasan Forum Dakwah Ahlussunnah Wal Jamaah Bandung. Url sumber : http://salafy.iwebland.com/fdawj/awwb/read.php?edisi=6&th=3)

Tanda Kebaikan dan Kejelekan Seorang Hamba


بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيــــــــــــــــــمِ


Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوْبَةَ فِي الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ


"Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada hamba-Nya maka Allah akan menyegerakan balasannya di dunia, dan apabila Allah menginginkan kejelekan kepada hamba-Nya maka Allah akan menunda balasan dari dosanya, sampai Allah sempurnakan balasannya di hari kiamat." (HR. At-Tirmidziy no.2396 dari Anas bin Malik, lihat Ash-Shahiihah no.1220)

Dalam hadits ini dijelaskan bahwa Allah menginginkan kebaikan dan kejelekan kepada hamba-Nya. Akan tetapi kejelekan yang dimaksudkan di sini bukanlah kepada dzatnya kejelekan tersebut berdasarkan sabda Rasulullah:

وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ


"Dan kejelekan tidaklah disandarkan kepada-Mu." (HR. Muslim no.771 dari 'Ali bin Abi Thalib)

Maka barangsiapa menginginkan kejelekan kepada dzatnya maka kejelekan itu disandarkan kepadanya. Akan tetapi Allah menginginkan kejelekan karena suatu hikmah sehingga jadilah hal itu sebagai kebaikan ditinjau dari hikmah yang dikandungnya.

Sesungguhnya seluruh perkara itu di tangan Allah 'Azza wa Jalla dan berjalan sesuai dengan kehendak-Nya karena Allah berfirman tentang diri-Nya:

إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ


"Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki." (Huud:107)

Dan juga Dia berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ


"Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki." (Al-Hajj:18)


Maka semua perkara itu di tangan Allah

Dan seseorang tidak akan lepas dari salah/keliru, berbuat maksiat dan kurang dalam menunaikan kewajiban, maka apabila Allah menghendaki kebaikan kepada hamba-Nya, akan Allah segerakan baginya balasan (dari perbuatan dosanya) di dunia, apakah diuji dengan hartanya atau keluarganya atau dirinya sendiri atau dengan seseorang yang menjadi sebab adanya ujian-ujian tersebut.

Yang jelas, dia akan disegerakan balasan (dari perbuatan dosanya). Karena sesungguhnya balasan akibat perbuatan dosa dengan diuji pada hartanya, keluarganya ataupun dirinya, itu akan menghapuskan kesalahan-kesalahan. Maka apabila seorang hamba disegerakan balasannya dan Allah hapuskan kesalahannya dengan hal itu, maka berarti Allah mencukupkan balasan kepadanya dan hamba tersebut tidak mempunyai dosa lagi karena dosa-dosanya telah dibersihkan dengan adanya musibah dan bencana yang menimpanya.

Bahkan kadang-kadang seseorang harus menanggung beratnya menghadapi sakaratul maut karena adanya satu atau dua dosa yang dia miliki supaya terhapus dosa-dosa tersebut, sehingga dia keluar dari dunia dalam keadaan bersih dari dosa-dosa. Dan ini adalah suatu kenikmatan karena sesungguhnya 'adzab dunia itu lebih ringan daripada 'adzab akhirat.

Akan tetapi apabila Allah menginginkan kejelekan kepada hamba-Nya maka akan Allah biarkan dia dalam keadaan penuh kemaksiatan dan akan Allah curahkan berbagai kenikmatan kepadanya dan Allah hindarkan malapetaka darinya sampai dia menjadi orang yang sombong dan bangga dengan apa yang Allah berikan kepadanya. Dan ketika itu dia akan menjumpai Rabbnya dalam keadaan bergelimang dengan kesalahan dan dosa lalu dia pun di akhirat disiksa akibat dosa-dosanya tersebut. Kita meminta kepada Allah keselamatan.

Maka apabila engkau melihat seseorang yang nampak dengan kemaksiatan dan telah Allah hindarkan dia dari musibah serta dituangkan kepadanya berbagai kenikmatan maka ketahuilah bahwasanya Allah menginginkan kejelekan kepadanya, karena Allah mengakhirkan balasan dari perbuatan dosanya sampai dicukupkan balasannya pada hari kiamat.


(Dikutip dari Bulletin Al Wala' wa Bara', Edisi ke-6 Tahun ke-3 / 31 Desember 2004 M / 19 Dzul Qo'dah 1425 H. Judul asli Sabar terhadap Taqdir Allah. Diterbitkan Yayasan Forum Dakwah Ahlussunnah Wal Jamaah Bandung. Url sumber : http://salafy.iwebland.com/fdawj/awwb/read.php?edisi=6&th=3)

Bagaimana Mendapatkan Ketenangan?


بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيــــــــــــــــــمِ


Allah Ta'ala berfirman:

وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ


"Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya." (At-Taghaabun:11)

Yang dimaksud dengan "beriman kepada Allah" dalam ayat ini adalah beriman kepada taqdir-Nya.

Firman-Nya: "niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya" yaitu Allah akan memberikan ketenangan kepadanya. Dan hal ini menunjukkan bahwasanya iman itu berkaitan dengan hati, apabila hatinya mendapat petunjuk maka anggota badannya pun akan mendapat petunjuk pula, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:

إِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ


"Sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila baik maka akan baiklah seluruh jasadnya dan apabila rusak maka akan rusaklah seluruh jasadnya, ketahuilah segumpal daging itu adalah hati." (HR. Al-Bukhariy no.52 dan Muslim no.1599 dari An-Nu'man bin Basyir)

Berkata 'Alqamah (menafsirkan ayat di atas):
"Yaitu seseorang yang ditimpa suatu musibah lalu dia mengetahui bahwasanya musibah tersebut dari sisi Allah maka dia pun ridha dan menerima (berserah diri kepada-Nya)."

Tafsiran 'Alqamah ini menunjukkan bahwasanya ridha terhadap taqdir Allah merupakan akibat dari iman, karena sesungguhnya barangsiapa yang beriman kepada Allah maka berarti dia mengetahui bahwasanya taqdir itu dari Allah, sehingga dia ridha dan menerimanya. Maka apabila dia mengetahui bahwasanya musibah itu dari Allah, akan tenang dan senanglah hatinya dan karena inilah diantara penyebab terbesar seseorang merasakan ketenangan dan kesenangan adalah beriman kepada qadha dan qadar.

(Dikutip dari Bulletin Al Wala' wa Bara', Edisi ke-6 Tahun ke-3 / 31 Desember 2004 M / 19 Dzul Qo'dah 1425 H. Judul asli Sabar terhadap Taqdir Allah. Diterbitkan Yayasan Forum Dakwah Ahlussunnah Wal Jamaah Bandung. Url sumber : http://salafy.iwebland.com/fdawj/awwb/read.php?edisi=6&th=3)

Bagaimana Mendapatkan Ketenangan?


بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيــــــــــــــــــمِ


Allah Ta'ala berfirman:

وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ


"Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya." (At-Taghaabun:11)

Yang dimaksud dengan "beriman kepada Allah" dalam ayat ini adalah beriman kepada taqdir-Nya.

Firman-Nya: "niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya" yaitu Allah akan memberikan ketenangan kepadanya. Dan hal ini menunjukkan bahwasanya iman itu berkaitan dengan hati, apabila hatinya mendapat petunjuk maka anggota badannya pun akan mendapat petunjuk pula, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:

إِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ


"Sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila baik maka akan baiklah seluruh jasadnya dan apabila rusak maka akan rusaklah seluruh jasadnya, ketahuilah segumpal daging itu adalah hati." (HR. Al-Bukhariy no.52 dan Muslim no.1599 dari An-Nu'man bin Basyir)

Berkata 'Alqamah (menafsirkan ayat di atas):
"Yaitu seseorang yang ditimpa suatu musibah lalu dia mengetahui bahwasanya musibah tersebut dari sisi Allah maka dia pun ridha dan menerima (berserah diri kepada-Nya)."

Tafsiran 'Alqamah ini menunjukkan bahwasanya ridha terhadap taqdir Allah merupakan akibat dari iman, karena sesungguhnya barangsiapa yang beriman kepada Allah maka berarti dia mengetahui bahwasanya taqdir itu dari Allah, sehingga dia ridha dan menerimanya. Maka apabila dia mengetahui bahwasanya musibah itu dari Allah, akan tenang dan senanglah hatinya dan karena inilah diantara penyebab terbesar seseorang merasakan ketenangan dan kesenangan adalah beriman kepada qadha dan qadar.

(Dikutip dari Bulletin Al Wala' wa Bara', Edisi ke-6 Tahun ke-3 / 31 Desember 2004 M / 19 Dzul Qo'dah 1425 H. Judul asli Sabar terhadap Taqdir Allah. Diterbitkan Yayasan Forum Dakwah Ahlussunnah Wal Jamaah Bandung. Url sumber : http://salafy.iwebland.com/fdawj/awwb/read.php?edisi=6&th=3)

Bagaimana Manusia Menghadapi Musibah?


بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيــــــــــــــــــمِ


Di dalam menghadapi musibah, manusia terbagi menjadi empat tingkatan:

Pertama: Marah, yaitu ketika menghadapi musibah dia marah baik dengan hatinya seperti benci terhadap Rabbnya dan marah terhadap taqdir Allah atasnya, dan kadang-kadang sampai kepada tingkat kekufuran.

Allah berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالآخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ


"Dan diantara manusia ada orang yang beribadah kepada Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata." (Al-Hajj:11)

Atau dia marah dengan lisannya seperti menyeru dengan kecelakaan dan kebinasaan dan yang sejenisnya. Atau marah dengan anggota badannya seperti menampar pipi, merobek saku baju, menarik-narik (menjambak) rambut, membenturkan kepala ke tembok dan yang sejenisnya.


Kedua: Sabar, yaitu sebagaimana ucapan penyair:

الصَّبْرُ مِثْلُ اسْمِهِ مُرٌّ مَذَاقَتُهُ لَكِنْ عَوَاقِبُهُ أَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ


"Sabar itu seperti namanya, pahit rasanya, akan tetapi akibatnya lebih manis dari madu."

Maka orang yang sabar itu akan melihat bahwasanya musibah ini berat baginya dan dia tidak menyukainya, akan tetapi dia membawanya kepada kesabaran, dan tidaklah sama di sisinya antara adanya musibah dengan tidak adanya, bahkan dia tidak menyukai musibah ini akan tetapi keimanannya melindunginya dari marah.


Ketiga: Ridha, dan ini lebih tinggi dari sebelumnya, yaitu dua perkara tadi (ada dan tidak adanya musibah) di sisinya adalah sama ketika dinisbahkan/disandarkan terhadap qadha dan qadar (taqdir/ketentuan Allah) walaupun bisa jadi dia bersedih karena musibah tersebut, Karena sesungguhnya dia adalah seseorang yang sedang berenang dalam qadha dan qadar, kemana saja qadha dan qadar singgah maka dia pun singgah bersamanya, baik di atas kemudahan ataupun kesulitan. Jika diberi kenikmatan atau ditimpa musibah, maka semuanya menurut dia adalah sama. Bukan karena hatinya mati, bahkan karena sempurnanya ridhanya kepada Rabbnya, dia bergerak sesuai dengan kehendak Rabbnya.

Bagi orang yang ridha, adanya musibah ataupun tidak, adalah sama, karena dia melihat bahwasanya musibah tersebut adalah ketentuan Rabbnya. Inilah perbedaan antara ridha dan sabar.


Keempat: Bersyukur, dan ini adalah derajat yang paling tinggi, yaitu dia bersyukur kepada Allah atas musibah yang menimpanya dan jadilah dia termasuk dalam golongan hamba-hamba Allah yang bersyukur ketika dia melihat bahwa di sana terdapat musibah yang lebih besar darinya, dan bahwasanya musibah-musibah dunia lebih ringan daripada musibah-musibah agama, dan bahwasanya 'adzab dunia lebih ringan daripada 'adzab akhirat, dan bahwasanya musibah ini adalah sebab agar dihapuskannya dosa-dosanya, dan kadang-kadang untuk menambah kebaikannya, maka dia bersyukur kepada Allah atas musibah tersebut. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ مُصِيْبَةٍ تُصِيْبُ الْمُسْلِمَ إِلاَّّ كَفَّرَ اللهُ بِهَا عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا


"Tidaklah suatu musibah menimpa seorang muslim kecuali Allah akan hapuskan (dosanya) karena musibahnya tersebut, sampai pun duri yang menusuknya." (HR. Al-Bukhariy no.5640 dan Muslim no.2572 dari 'A`isyah)

مَا يُصِيْبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلاَ كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ


"Tidaklah seorang muslim ditimpa keletihan/kelelahan, sakit, sedih, duka, gangguan ataupun gundah gulana sampai pun duri yang menusuknya kecuali Allah akan hapuskan dengannya kesalahan-kesalahannya." (HR. Al-Bukhariy no.5641, 5642 dari Abu Sa'id Al-Khudriy dan Abu Hurairah)

Bahkan kadang-kadang akan bertambahlah iman seseorang dengan musibah tersebut.


(Dikutip dari Bulletin Al Wala' wa Bara', Edisi ke-6 Tahun ke-3 / 31 Desember 2004 M / 19 Dzul Qo'dah 1425 H. Judul asli Sabar terhadap Taqdir Allah. Diterbitkan Yayasan Forum Dakwah Ahlussunnah Wal Jamaah Bandung. Url sumber : http://salafy.iwebland.com/fdawj/awwb/read.php?edisi=6&th=3)

Bagaimana Manusia Menghadapi Musibah?


بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيــــــــــــــــــمِ


Di dalam menghadapi musibah, manusia terbagi menjadi empat tingkatan:

Pertama: Marah, yaitu ketika menghadapi musibah dia marah baik dengan hatinya seperti benci terhadap Rabbnya dan marah terhadap taqdir Allah atasnya, dan kadang-kadang sampai kepada tingkat kekufuran.

Allah berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالآخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ


"Dan diantara manusia ada orang yang beribadah kepada Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata." (Al-Hajj:11)

Atau dia marah dengan lisannya seperti menyeru dengan kecelakaan dan kebinasaan dan yang sejenisnya. Atau marah dengan anggota badannya seperti menampar pipi, merobek saku baju, menarik-narik (menjambak) rambut, membenturkan kepala ke tembok dan yang sejenisnya.


Kedua: Sabar, yaitu sebagaimana ucapan penyair:

الصَّبْرُ مِثْلُ اسْمِهِ مُرٌّ مَذَاقَتُهُ لَكِنْ عَوَاقِبُهُ أَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ


"Sabar itu seperti namanya, pahit rasanya, akan tetapi akibatnya lebih manis dari madu."

Maka orang yang sabar itu akan melihat bahwasanya musibah ini berat baginya dan dia tidak menyukainya, akan tetapi dia membawanya kepada kesabaran, dan tidaklah sama di sisinya antara adanya musibah dengan tidak adanya, bahkan dia tidak menyukai musibah ini akan tetapi keimanannya melindunginya dari marah.


Ketiga: Ridha, dan ini lebih tinggi dari sebelumnya, yaitu dua perkara tadi (ada dan tidak adanya musibah) di sisinya adalah sama ketika dinisbahkan/disandarkan terhadap qadha dan qadar (taqdir/ketentuan Allah) walaupun bisa jadi dia bersedih karena musibah tersebut, Karena sesungguhnya dia adalah seseorang yang sedang berenang dalam qadha dan qadar, kemana saja qadha dan qadar singgah maka dia pun singgah bersamanya, baik di atas kemudahan ataupun kesulitan. Jika diberi kenikmatan atau ditimpa musibah, maka semuanya menurut dia adalah sama. Bukan karena hatinya mati, bahkan karena sempurnanya ridhanya kepada Rabbnya, dia bergerak sesuai dengan kehendak Rabbnya.

Bagi orang yang ridha, adanya musibah ataupun tidak, adalah sama, karena dia melihat bahwasanya musibah tersebut adalah ketentuan Rabbnya. Inilah perbedaan antara ridha dan sabar.


Keempat: Bersyukur, dan ini adalah derajat yang paling tinggi, yaitu dia bersyukur kepada Allah atas musibah yang menimpanya dan jadilah dia termasuk dalam golongan hamba-hamba Allah yang bersyukur ketika dia melihat bahwa di sana terdapat musibah yang lebih besar darinya, dan bahwasanya musibah-musibah dunia lebih ringan daripada musibah-musibah agama, dan bahwasanya 'adzab dunia lebih ringan daripada 'adzab akhirat, dan bahwasanya musibah ini adalah sebab agar dihapuskannya dosa-dosanya, dan kadang-kadang untuk menambah kebaikannya, maka dia bersyukur kepada Allah atas musibah tersebut. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ مُصِيْبَةٍ تُصِيْبُ الْمُسْلِمَ إِلاَّّ كَفَّرَ اللهُ بِهَا عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا


"Tidaklah suatu musibah menimpa seorang muslim kecuali Allah akan hapuskan (dosanya) karena musibahnya tersebut, sampai pun duri yang menusuknya." (HR. Al-Bukhariy no.5640 dan Muslim no.2572 dari 'A`isyah)

مَا يُصِيْبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلاَ كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ


"Tidaklah seorang muslim ditimpa keletihan/kelelahan, sakit, sedih, duka, gangguan ataupun gundah gulana sampai pun duri yang menusuknya kecuali Allah akan hapuskan dengannya kesalahan-kesalahannya." (HR. Al-Bukhariy no.5641, 5642 dari Abu Sa'id Al-Khudriy dan Abu Hurairah)

Bahkan kadang-kadang akan bertambahlah iman seseorang dengan musibah tersebut.


(Dikutip dari Bulletin Al Wala' wa Bara', Edisi ke-6 Tahun ke-3 / 31 Desember 2004 M / 19 Dzul Qo'dah 1425 H. Judul asli Sabar terhadap Taqdir Allah. Diterbitkan Yayasan Forum Dakwah Ahlussunnah Wal Jamaah Bandung. Url sumber : http://salafy.iwebland.com/fdawj/awwb/read.php?edisi=6&th=3)

[Fatwa] SURURIYYAH ... Khawarij Masa Kini

Oleh Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali hafidzahullah

Asy-Syaikh Al-’Allamah Al-Muhadits Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah pada malam 7 Dzulhijjah 1418 H dalam kaset yang berjudul Sururiyyah Khawarij Masa Kini (As-Sururiyyah Kharijiyah ‘Ashriyyah) beliau ditanya tentang Kitab Al-Irja : 
“Ya Syaikh kami, (bagaimana dengan) Kitab Al-Irja fil Fikri (kitab ini karya Safar Al-Hawali) .

Maka Asy-Syaikh Al-Albani berkata:
“Aku berpendapat…”

Dikatakan kepada beliau:
“…. tolong (kami beri) penjelasan, wahai Syaikh, khususnya yang ada di jilid kedua …”

Kata Asy-Syaikh Al-Albani:
“Aku punya satu pendapat, yang berasal dariku pada satu hari sejak sekitar lebih dari 30 tahun, ketika aku di Al-Jami’ah Al-Islamiyah Madinah. Dalam suatu majlis yang penuh sesak, aku ditanya apa pendapatku tentang Jamaah At-Tabligh. Maka aku berkata waktu itu, “Sufiyah masa kini.” 
Maka sekarang terdetik di benakku untuk mengatakan tentang jama’ah yang keluar di masa ini dan menyelisihi Salaf, aku mengatakan di sini sebagai jawaban bersamaan dengan ucapan Al-Hafidz Adz-Dzahabi: “Mereka banyak menyelisihi Salaf dalam masalah manhaj mereka”. 
Nampak padaku untuk menyebut mereka “Khawarij Masa Kini”. Hal ini menyerupai al-khuruj (memberontak) sebagaimana yang kami baca dari ucapan mereka, karena mereka -pada kenyataannya- ucapan mereka mengarah seperti arah Khawarij dalam mengkafirkan pelaku dosa besar. Akan tetapi mereka seperti itu, -mungkin ini yang tidak aku ketahui-, aku katakan, bahwa ini karena kelalaian mereka atau tipudaya mereka!! – 
Ini juga aku katakan sebagai pelaksanaan firman Allah:“Dan Janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (Al-Maidah: 8) 
Aku tidak tahu …  Mereka tidak menyatakan dengan jelas bahwa setiap dosa besar itu menjadikan seseorang kafir.  Akan tetapi mereka mendengung-dengungkan pada sebagian dosa besar dan mereka diam dari dosa-dosa besar yang lain! Oleh karena itu aku tidak berpendapat untuk memutlakan penyebutan itu, dan kami mengatakan tentang mereka sesungguhnya mereka Khawarij, kecuali dari sebagian sisi. 
Dan ini termasuk keadilan yang kita diperintahkan dengan hal itu….”



Asy-Syaikh Rabi’ memberi keterangan perkataan Syaikh Al-Albani dengan mengatakan:
“Seharusnya pembaca dan pendengar mengambil perhatian terhadap perkataan Syaikh Al-Albani tentang kelompok ini bahwa mereka menyelisihi Salaf dalam banyak permasalalahan manhaj mereka. Banyaknya manhaj-manhaj yang menyelisihi Salaf ini menunjukkan atas penyimpangan yang besar. 
Kadang-kadang manhaj ini lebih bahaya dan keras dari penyelisihan Khawarij yang dikatakan Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam bahwa mereka adalah makhluk dan ciptaan terjelek dan bahwa mereka itu adalah anjing-anjing neraka dan bahwa mereka keluar dari agama seperti keluamya anak panah dari sasaran panah, dan bahwa mereka membunuh orang-orang Islam dan membiarkan penyembah berhala. 
Apa yang dikatakan Asy-Syaikh Al-Albani adalah benar. Maka sungguh mereka telah menyelisihi Salaf dalam pokok-pokok yang banyak dan berbahaya, diantaranya:
  • Mereka memerangi Ahlus Sunnah dan membuat lari dari Ahlus Sunnah, kitab-kitab mereka, dan kaset-kaset Ahlus Sunnah. Mereka membenci Ahlus Sunnah, memusuhi Ahlus Sunnah dan sangat mendendam kepada Ahlus Sunnah.
  • Banyak muwalah mereka terhadap ahlul bid’ah, mengakui manhaj ahlul bid’ah yang rosak, dan mengakui kitab-kitab ahlul bid’ah yang penuh dengan kesesatan meyebarkannya, membelanya dan mendorong para pemuda untuk meneguk/minum darinya. Dan perkara-perkara yang mempunyai pengaruh yang buruk atas pemuda umat ini berupa pengkafiran, kerosakan, peperangan yang terus menerus, tertumpahnya darah dan terlanggarnya kehormatan.
  • Mereka telah didorong oleh hawa nafsu mereka untuk melemparkan diri mereka dan pengikut mereka ke dalam jurang pemahaman irja yang ekstrim yang menyeret kepada peremehan ancaman bid’ah besar, dengan di dalamnya ada bid’ah kekufuran dan perkara-perkara yang melemahkan indra Salafi dan melemahkan kecemburuan atas agama Allah dan pembawa-pembawa agama seperti shahabat yang mulia dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik bahkan meremehkan celaan terhadap sebagian para nabi.
  • Hawa nafsu mereka telah mendorong mereka untuk membuat manhaj-manhaj yang rosak untuk membela bid’ah dan ahli bid’ah seperti manhaj muwazanah (menimbang) antara kebaikan-kebaikan dan kejelekan-kejelekan, dan kaidah-kaidah rosak yang mendukung manhaj muwazanah yang membawa kepada penentangan perkara yang dinyatakan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya Shalallahu’alaihi Wassallam.
  • dan membawa kepada penghancuran Sunnah dan ilmu-ilmunya, khususnya ilmu jarh wa ta’dil yang perpustakaan-perpustakaan penuh dengannya dalam hubungannya dengan kejelekan-kejelekan dan kesesatan-kesesatan yang lain. Kami memohon kepada Allah untuk menyelamatkan para pemuda dari kejelekan kelompok ini, dari bencana-bencana mereka dan dari akibat-akibatnya yang berbahaya di dunia dan akhirat.
Akhirnya, seharusnya mereka siap sedia menjadi Murjiah Masa Kini sebelum mengecap mereka sebagai Khawarij masa kini.

Dikutip dari buku terjemahan : “Apa Yang Terjadi di Afghanistan dan Chechnya”, Penerbit Media Ahlus Sunnah Cetakan Pertama. Judul Asli : As-Sururiyyah Kharijiyah ‘Ashriyyah

Sumber: http://darussalaf.or.id/

[Fatwa] SURURIYYAH ... Khawarij Masa Kini

Oleh Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali hafidzahullah

Asy-Syaikh Al-’Allamah Al-Muhadits Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah pada malam 7 Dzulhijjah 1418 H dalam kaset yang berjudul Sururiyyah Khawarij Masa Kini (As-Sururiyyah Kharijiyah ‘Ashriyyah) beliau ditanya tentang Kitab Al-Irja : 
“Ya Syaikh kami, (bagaimana dengan) Kitab Al-Irja fil Fikri (kitab ini karya Safar Al-Hawali) .

Maka Asy-Syaikh Al-Albani berkata:
“Aku berpendapat…”

Dikatakan kepada beliau:
“…. tolong (kami beri) penjelasan, wahai Syaikh, khususnya yang ada di jilid kedua …”

Kata Asy-Syaikh Al-Albani:
“Aku punya satu pendapat, yang berasal dariku pada satu hari sejak sekitar lebih dari 30 tahun, ketika aku di Al-Jami’ah Al-Islamiyah Madinah. Dalam suatu majlis yang penuh sesak, aku ditanya apa pendapatku tentang Jamaah At-Tabligh. Maka aku berkata waktu itu, “Sufiyah masa kini.” 
Maka sekarang terdetik di benakku untuk mengatakan tentang jama’ah yang keluar di masa ini dan menyelisihi Salaf, aku mengatakan di sini sebagai jawaban bersamaan dengan ucapan Al-Hafidz Adz-Dzahabi: “Mereka banyak menyelisihi Salaf dalam masalah manhaj mereka”. 
Nampak padaku untuk menyebut mereka “Khawarij Masa Kini”. Hal ini menyerupai al-khuruj (memberontak) sebagaimana yang kami baca dari ucapan mereka, karena mereka -pada kenyataannya- ucapan mereka mengarah seperti arah Khawarij dalam mengkafirkan pelaku dosa besar. Akan tetapi mereka seperti itu, -mungkin ini yang tidak aku ketahui-, aku katakan, bahwa ini karena kelalaian mereka atau tipudaya mereka!! – 
Ini juga aku katakan sebagai pelaksanaan firman Allah:“Dan Janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (Al-Maidah: 8) 
Aku tidak tahu …  Mereka tidak menyatakan dengan jelas bahwa setiap dosa besar itu menjadikan seseorang kafir.  Akan tetapi mereka mendengung-dengungkan pada sebagian dosa besar dan mereka diam dari dosa-dosa besar yang lain! Oleh karena itu aku tidak berpendapat untuk memutlakan penyebutan itu, dan kami mengatakan tentang mereka sesungguhnya mereka Khawarij, kecuali dari sebagian sisi. 
Dan ini termasuk keadilan yang kita diperintahkan dengan hal itu….”

[Audio] Al-Ustadz Muhammad Umar As-Sewed – Bimbingan Pemula Untuk Mengenal Manhaj Salaf

Kitab Irsyadul Bariyah
Al-Ustadz Muhammad Umar As-Sewed hafizhahullaah
Masa / Lokasi: 2012 / Bogor

Click to Play All


- - - [Rakaman audio daripada Abu Amira Khairunnisa].

[Audio] Al-Ustadz Muhammad Umar As-Sewed – Bimbingan Pemula Untuk Mengenal Manhaj Salaf

Kitab Irsyadul Bariyah
Al-Ustadz Muhammad Umar As-Sewed hafizhahullaah
Masa / Lokasi: 2012 / Bogor

Click to Play All


- - - [Rakaman audio daripada Abu Amira Khairunnisa].

Sikap Salafus Soleh Terhadap Ahlul Bid’ah

Oleh Asy-Syaikh Abdussalam bin Salim As-Suhaimi hafidzahullah

Berwaspada dan memberi peringatan dari Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid’ah yang menyelisihi Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ.

“Barangsiapa yang mengada-adakan perkara yang baru dalam urusan kami yang tidak ada contohnya dari kami maka ia tertolak.”

Dan baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Siapasaja yang mengerjakan satu amalan yang tidak ada contohnya dari kami, maka amalan itu tertolak.”

Juga sabda baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam:

من أحب لله وأبغض لله وأعطى لله ومنع لله فقد استكمل الإيمـان

“Barang siapa yang mencintai kerana Allah, membenci kerana Allah, memberi kerana Allah, dan menahan kerana Allah maka sungguh telah sempurna Imannya.” [HR. Abu Daud]



Baginda Shallallohu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

ما من نبي بعثه الله في أمة قبلي إلا كان له من أمته حواريون وأصحاب يأخذون بسنته ويقتدون بأمره ثم إنها تخلف من بعدهم خلوف يقولون ما لا يفعلون ويفعلون ما لا يؤمرون فمن جاهدهم بيده فهو مؤمن ومن جاهدهم بلسانه فهو مؤمن ومن جاهدهم بقلبه فهو مؤمن وليس من وراء ذلك من الإيمان حبة خردل

“Tidak ada seorang Nabi pun yang Allah utus di tengah-tengah umatnya sebelumku kecuali terdapat di kalangan ummatnya kaum hawariyun (para pengikut yang setia) dan para sahabat yang mengikuti sunnahnya dan mentaati perintahnya. Kemudian akan muncul setelah mereka generasi yang mengatakan sesuatu yang mereka kerjakan dan mengerjakan sesuatu yang tidak diperintahkan. Barangsiapa yang berjihad menghadapi mereka dengan tanganya maka dialah Mukmin. Dan barangsiapa yang berjihad melawan mereka dengan hartanya maka dialah mukmin, dan siapa saja yang berjihad melawan mereka dengan hatinya maka dialah mukmin. Dan tidak ada yang selain itu keimanan walau seberat biji sawi.” [HR. Muslim]

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud Radhiallahu‘anhu ia berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

سَيَخْرُجُ قَوْمٌ فِي آخِرِ الزَّمَانِ، أَحْدَاثُ اْلأَسْنَانِ سُفَاهَاءُ اْلأَحْلاَمِ يَقُوْلُوْنَ مِنْ قَوْلِ خَيْرِ الْبَرِيَّةِ لاَ يُجَاوِزُ إِيْمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُوْنَ مِنَ الدِّيْنِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، فَأَيْنَمَا لَقِيْتُمُوْهُمْ فَاقْتُلُوْهُمْ فَإِنَّ فِي قَتْلِهِمْ أَجْرًا لِمَنْ قَتَلَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Akan keluar di akhir zaman, suatu kaum yang masih muda umurnya tapi bodoh pemikirannya. Mereka berbicara seperti perkataan manusia yang paling baik. Keimanan mereka tidak melewati tenggorokannya. Mereka keluar dari agama ini seperti keluarnya anak panah dari buruannya. Di mana saja kalian temui mereka, bunuhlah mereka. Sesungguhnya membunuh mereka akan mendapatkan pahala pada hari kiamat.” (HR. Muslim dalam Kitab Az Zakat)

Makna hadits tersebut adalah mereka yang dimaksud dengan kalangan khawarij, mereka telah diperangi oleh para sahabat Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersama Ali bin Abi Thalib pada perang Nahrawan.

Dalam Nash-nash di atas dan yang semakna denganya, menjelaskan bahwa para Imam salaf telah memperingatkan dari kebid’ahan dan para pelakunya, bahkan mereka memenuhi lembaran kitab dan tulisan mereka dengan bantahan terhadap Bid’ah dan Pelakunya (Ahli bid’ah) serta memberi peringatan dari hal itu.

Dari Umar bin Khatthab Radhiallahu‘anhu beliau berkata:

إياكم وأصحاب الرأي فإنهم أعداء السنة أعيتهم الأحاديث أن يحفظوها فقالوا بالرأي فضلوا وأضلـوا

“Waspadalah kalian terhadap Ashhabur Ra’yi (Ahli filsafat), karena mereka merupakan musuh-musuh sunnah, hadits-hadits telah memberatkan mereka untuk menghafalnya, mereka pun berkata dengan logikanya maka dia sesat dan menyesatkan.” [HR. Ibnu Syaibah]

Dan sesungguhnya Imam Ad-Darimi dan Ibnu Bathah telah meriwayatkan dari Al Hasan Rahimahullah:

لا تجالسوا أهل الأهواء ولا تجادلوهم ولا تسمعوا منهم

“Janganlah kalian duduk-duduk bersama para pengikut Hawa Nafsu, jangan pula kalian mendebat dan mendengarkan ucapan mereka.”

[Dinukil dari kitab Kun Salafiyyan Alal Jaadah, Penulis Abdussalam bin Salim As-Suhaimi, Edisi Indonesia Jadilah Salafy Sejati]

Admin Blog Sunniy Salafy

Sikap Salafus Soleh Terhadap Ahlul Bid’ah

Oleh Asy-Syaikh Abdussalam bin Salim As-Suhaimi hafidzahullah

Berwaspada dan memberi peringatan dari Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid’ah yang menyelisihi Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ.

“Barangsiapa yang mengada-adakan perkara yang baru dalam urusan kami yang tidak ada contohnya dari kami maka ia tertolak.”

Dan baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Siapasaja yang mengerjakan satu amalan yang tidak ada contohnya dari kami, maka amalan itu tertolak.”

Juga sabda baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam:

من أحب لله وأبغض لله وأعطى لله ومنع لله فقد استكمل الإيمـان

“Barang siapa yang mencintai kerana Allah, membenci kerana Allah, memberi kerana Allah, dan menahan kerana Allah maka sungguh telah sempurna Imannya.” [HR. Abu Daud]

[Fatwa] Demonstrasi (Ringkas)

oleh: Al-Ustadz Muhammad Umar As-Sewed hafidzahullah

Demonstrasi, unjuk rasa, dan semacamnya seolah telah menjadi elemen penting dalam denyut nadi demokrasi. Ia diagungkan sebagai gerakan moral untuk mengontrol kekuasaan yang dianggap melenceng dari “konstitusi”. Ketika aksi “turun ke jalan” mereka diberangus, maka istilah yang mengemuka adalah demokrasi telah dikhianati.

Namun Islam memandang lain terhadap perilaku ini. Telah ada riwayat dari ulama salaf, yang menggambarkan penentangan Islam terhadap demonstrasi dengan berbagai dampak buruknya. Bahkan Islam memandang demonstrasi sebagai bagian dari pemberontakan lisan. Bahasan berikut memang sangat ringkas karena berupa fatwa, namun insya Allah memberi manfaat.

Fadhilatusy Syaikh Dr. Shalih as-Sadlan ditanya:

“Wahai syaikh, menurut pemahaman saya, Anda tidak mengkhususkan pemberontakan itu hanya dengan pedang tetapi juga termasuk pemberontakan yang dilakukan dengan lisan?”

Beliau menjawab:

“Ini pertanyaan penting karena sebagian dari saudara-saudara kita telah melakukannya dengan niat baik dalam keadaan meyakini bahwa pemberontakan itu hanya dengan pedang.
Padahal pada hakikatnya, pemberontakan itu tidak hanya dengan pedang dan kekuatan saja, atau penentangan dengan cara-cara yang sudah diketahui secara umum. Tetapi pemberontakan yang dilakukan dengan lisan justru lebih dahsyat dari pemberontakan bersenjata karena pemberontakan dengan pedang dan kekerasan justru dilahirkan dari pemberontakan dengan lisan.



Maka kita sampaikan kepada mereka saudara-saudara kita yang terbawa oleh emosi yang kami berprasangka baik kepada mereka bahwa mereka berniat baik —insya Allah ta'ala—agar mereka menenangkan dirinya. Dan kami katakan kepada mereka, tenang dan sabarlah, karena kekerasan dan kebencian kalian akan membawa dampak yang jelek pada hati. Kemudian hati tersebut akan melahirkan emosi yang tidak kenal kecuali kekerasan dan pemberontakan. Di samping itu juga akan membuka pintu bagi orang-orang yang memiliki kepentingan untuk mengeluarkan pernyataan yang sesuai dengan hawa nafsunya, haq ataupun batil.


Tidak diragukan lagi bahwa memberontak dengan lisan, menggunakan pena dan tulisan, melalui penyebaran kaset-kaset, tabligh akbar, maupun ceramah-ceramah umum dengan membakar emosi massa, serta tidak dengan cara yang syar’i, maka saya meyakini bahwa ini adalah dasar (pemicu) meletusnya pemberontakan bersenjata.


Saya memperingatkan dari perbuatan seperti ini dengan sekeras-kerasnya peringatan, dan saya katakan kepada mereka;

“Kalian harus melihat dan mempertimbangkan apa hasilnya? Dan hendaklah melihat kepada pengalaman orang yang telah melakukan sebelumnya dalam masalah ini!”


Hendaklah mereka melihat fitnah-fitnah yang dialami oleh sebagian masyarakat Islam, apakah sebabnya? Apakah tindakan awalnya sehingga mereka sampai kepada keadaan seperti ini. Jika telah mengetahui yang demikian, maka akan kita ketahui bahwa memberontak dengan ucapan lisan dan menggunakan media massa untuk membangkitkan kebencian, membakar emosi, dan menyulut kekerasan akan melahirkan fitnah dalam hati.”

(lihat ‘Ulama Su’udiyyah Yu-akkiduna ‘alal Jama’ah wa Wujubus Sam’i wath Tha’ah li Wulatil Amri, hlm. 5—6)

____________
Artikel : http://asysyariah.com/

[Fatwa] Demonstrasi (Ringkas)

oleh: Al-Ustadz Muhammad Umar As-Sewed hafidzahullah

Demonstrasi, unjuk rasa, dan semacamnya seolah telah menjadi elemen penting dalam denyut nadi demokrasi. Ia diagungkan sebagai gerakan moral untuk mengontrol kekuasaan yang dianggap melenceng dari “konstitusi”. Ketika aksi “turun ke jalan” mereka diberangus, maka istilah yang mengemuka adalah demokrasi telah dikhianati.

Namun Islam memandang lain terhadap perilaku ini. Telah ada riwayat dari ulama salaf, yang menggambarkan penentangan Islam terhadap demonstrasi dengan berbagai dampak buruknya. Bahkan Islam memandang demonstrasi sebagai bagian dari pemberontakan lisan. Bahasan berikut memang sangat ringkas karena berupa fatwa, namun insya Allah memberi manfaat.

Fadhilatusy Syaikh Dr. Shalih as-Sadlan ditanya:

“Wahai syaikh, menurut pemahaman saya, Anda tidak mengkhususkan pemberontakan itu hanya dengan pedang tetapi juga termasuk pemberontakan yang dilakukan dengan lisan?”

Beliau menjawab:

“Ini pertanyaan penting karena sebagian dari saudara-saudara kita telah melakukannya dengan niat baik dalam keadaan meyakini bahwa pemberontakan itu hanya dengan pedang.
Padahal pada hakikatnya, pemberontakan itu tidak hanya dengan pedang dan kekuatan saja, atau penentangan dengan cara-cara yang sudah diketahui secara umum. Tetapi pemberontakan yang dilakukan dengan lisan justru lebih dahsyat dari pemberontakan bersenjata karena pemberontakan dengan pedang dan kekerasan justru dilahirkan dari pemberontakan dengan lisan.

Bagaimana Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wad’i mendidik Putri beliau?

Pernah membaca buku Nasehati lin Nisaa? Buku yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Nasehatku bagi Para Wanita ini ditulis oleh seorang aalimah (ulama wanita) dari negeri Yaman yang bernama Ummu Abdillah Al-Wadi’iyah. Beliau hafizhahallah adalah putri dari ulama ahlul hadits di masa kita, yaitu Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wad’I rahimahullah.

Ummu Abdillah adalah seorang aalimah yang memiliki banyak keutamaan. Ummu Abdillah mengajar di madrasah nisa’ (khusus wanita) dan memiliki beragam karya tulis ilmiyah. Di antaranya:

  • Shahihul Musnad fis Syamail Muhammadiyah (tentang kesempurnaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dicetak dalam dua jilid)
  • Jamius Shahih fi ilmi wa Fadhlihi (tentang keutamaan ilmu)
  • Tahqiq kitab As-Sunnah Ibnu Abi Ashim
  • Nasehati lin Nisa
  • dan sekarang beliau masih mengerjakan Shahihul Musnad min Sirah Nabawiyah

Yang ingin saya angkat dalam artikel ini adalah bagaimana cara Syaikh mendidik putrinya sehingga tumbuh menjadi seorang aalimah. Tema ini mungkin jarang diangkat karena biasanya yang dipersiapkan sebagai seorang alim atau ulama adalah anak laki-laki saja. Pernahkah kita bercita-cita putri kita menjadi seorang aalimah? Kalau memang ada keinginan tersebut, mungkin kita bisa bercermin terlebih dahulu dengan metodologi Asy-Syaikh dalam mendidik putrinya.

Ummu Abdillah berkisah tentang bagaimana ayahanda beliau –Syaikh Muqbil- mendidik putri-putrinya,

… Ayahanda tidak pernah menyia-nyiakan kami, betapa pun sibuknya beliau. Oleh karena itulah beliau sangat perhatian terhadap kami dalam mempelajari Al-Quran. Beliau selalu menuntun kami dalam membaca Al-Quran. Kadang beliau rekam agar hapalan kami semakin kokoh. Suatu ketika saudari saya menghapal, dan ayahanda sedang berada di perpustakaan. Saudariku tadi mencari beliau, ingin direkamkan hapalannya. Beliau pun meninggalkan risetnya, merekam hapalan saudariku lalu kembali lagi ke perpustakaan.

Begitu kami mengetahui qiraah yang baik, beliau membeli kaset qiraah Syaikh Al-Husari untuk kami. Beliau juga membelikan untuk masing-masing putrinya satu tape recorder tanpa radio. Ini bentuk penjagaan beliau agar kami tidak mendengar nyanyian.

Setelah kami mengerti lebih banyak, kami dibelikan masing-masing sebuah tape recorder dengan radionya, namun beliau tetap memperingatkan kami terhadap nyanyian dengan keras. Dan alhamdulillah, kami menerima peringatan tersebut. Kami tidak mendengarkan nyanyian sama sekali, seiring dengan rasa tidak senang terhadap nyanyian.

Dalam menghapal, beliau memerintahkan kami untuk hanya menggunakan satu mushaf dari satu penerbit karena itu akan membantu memperkokoh hapalan. Kalau beliau melihat di tangan kami ada mushaf yang berbeda, beliau akan memberi peringatan keras dan sangat marah.

Di antara murid beliau ada orang-orang Sudan dan Mesir yang datang beserta istri-istrinya. Di antara istri-istri mereka ada yang mengajar kami dengan diberi imbalan jasa oleh ayah sebagai bentuk perhatian beliau terhadap pendidikan. Dan apabila di buku-buku yang dipergunakan oleh para guru wanita tersebut ada gambar makhluk bernyawanya, beliau memerintahkan kami untuk menghapusnya. Kami pun menghapus gambar-gambar tersebut disertai dengan kebencian yang sangat terhadap gambar-gambar itu.

Lalu setelah itu kami pun diajari ilmu-ilmu syar’i Al Kitab dan As-Sunnah, sehingga kami pun menghafal bersama para guru tersebut dan kami pun hapal beberapa hadits walhamdulillah.

Beliau rahimahullah terkadang bersenang-senang dan bergurau bersama kami, dalam perkara yang diizinkan oleh Allah. Berbeda dengan kebanyakan kaum muslimin –kecuali yang dirahmati oleh Allah- yang bersenang-senang bersama anak-anak mereka dengan televisi, nyanyian, permainan-permainan gila, serta kerusakan lainnya. Padahal nabi kita bersabda, “Kamu sekalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban tentang apa yang dipimpinnya.”

Beliau selalu melarang kami terlalu banyak keluar, dan beliau selalu mengharuskan kami untuk tidak keluar kecuali seizin beliau.


Ini apa yang dijalankan beliau semasa kami kecil

Ada pun tentang pendidikan kami, beliau sangat ingin kami mendalami agama Allah dan mencari bekal ilmu syar’i. Sebab itulah, beliau mencurahkan kemampuan beliau untuk membantu kami menuntut ilmu dan membuat kami menggunakan kesempatan kami dengan sebaik-baiknya. Beliau selalu menyediakan waktu khusus untuk mendidik kami. Setiap hari kedua, beliau menanyakan pelajaran yang telah lalu. Jika pelajaran itu terlalu berat, maka beliau berikan dengan cara yang jauh lebih ringan.

Di antara pelajaran yang khusus kami pelajari di rumah adalah:
  • Qatrun Nada sampai dua kali
  • Syarh Ibnu Aqil sampai dua kali juga
  • Tadribur Rawi
  • Mushilut Thullabi ila Qowaidil I’rab (namun tidak selesai karena beliau sakit)

Majelis beliau senantiasa penuh dengan kebaikan, diskusi, dan pengarahan, sampai pun di atas hidangan makan atau via telepon

Ketika beliau di Saudi sebelum berangkat ke Jerman, ayahanda mengucapkan salam lewat telepon kepada saya, “Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh”. Saya menjawab tanpa mengucapkan, “Wabarakatuh”. Beliau bertanya (menegur), “Mengapa tidak engkau balas dengan yang lebih utama?” sebagai isyarat pengamalan ayat ke 86 dari surat An-Nisa.

Terkadang beliau sengaja salah memberikan pertanyaan untuk menguji pemahaman kami, sebagaimana itu beliau lakukan juga kepada murid laki-laki. Kadang beliau bertanya tentang soal yang cukup berat, untuk memberikan faedah namun disuguhkan dengan pertanyaan terlebih dahulu. Metode ini pun diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana di dalam hadits Muadz.

Kadang ketika kami menemui kesulitan dalam pelajaran atau riset kami, beliau memerintahkan kami untuk meneruskan riset tersebut, atau beliau mengikuti kami ke perpustakaan dan membantu kami. Inilah yang menyebabkan kami begitu berduka karena kehilangan beliau rahimahullah. Siapa yang akan memperhatikan kami sepeninggal ayahanda?

Beliau selalu mendidik dan mengarahkan kami dengan lemah lembut. Dan dengan karunia Allah, kami tidak terdorong sedikit pun untuk menentang beliau, karena semua itu adalah demi kemaslahatan dan keuntungan kami juga. Semuanya adalah mutiara yang diuntai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah.

Di antara yang mengagumkan pada diri beliau adalah tidak pernah kepada kami dalam perkara ijtihad kami yang memiliki sisi pandang lain. Kalau kami sudah memahami suatu masalah yang berbeda dengan pemahaman beliau maka beliau tidak memaksa kami, seperti juga kebiasaan beliau bersama murid-muridnya yang laki-laki. Beliau tidak pernah menekan mereka untuk memahami sesuatu yang masih perlu dipertimbangkan. Ini, sebagaimana para pembaca lihat, adalah kemuliaan yang sangat jarang ditemukan.

Beliau rahimahullah juga memperingatkan kami dari masyarakat, karena masyarakat kami adalah masyarakat yang rusak, bersegera dalam kesesatan dan hal-hal yang tidak berguna, kecuali yang dirahmati Allah.

Beliau juga memperingatkan kami dari sikap sombong

Beliau sangat benci kepada wanita yang sombong terhadap suaminya, beliau mengatakan, “Tidak ada kebaikan wanita yang seperti ini.”

Beliau mendorong kami untuk bersikap zuhud terhadap dunia yang rendah ini


Beliau bimbing kami untuk meniatkan apa yang kami makan dan minum untuk menguatkan kami dalam bertakwa, agar memperoleh pahala dari Allah.

Beliau katakan, “Janganlah kamu sibukkan dirimu menyiapkan berbagai hidangan makanan. Apa yang mudah diolah, kita makan.”

Beliau bangkitkan semangat kami. Beliau bukan termasuk orang yang suka meruntuhkan semangat keluarga dan anak-anak perempuannya. Beliau membentuk kami dengan sebaik-baiknya, agar kami mudah dan bersemangat untuk bersungguh-sungguh dalam memperoleh ilmu yang bermanfaat.

Di antara ucapan beliau kepada saya,
“Saya berharap agar kamu menjadi wanita yang faqih.”

Ya Allah, wujudkanlah harapan ayahanda, duhai Zat yang tidak diharap kecuali kepada-Nya, tempatkanlah beliau di surga firdaus yang tinggi.

________
(Diringkas dari buku “Secercah Nasehat dan Kehidupan Indah Ayahanda Al-Allamah Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i”, terbitan pustaka Al-Haura Jogjakarta).


Sumber: http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/02/05/bagaimana-asy-syaikh-muqbil-mendidik-putri-beliau/

Bagaimana Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wad’i mendidik Putri beliau?

Pernah membaca buku Nasehati lin Nisaa? Buku yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Nasehatku bagi Para Wanita ini ditulis oleh seorang aalimah (ulama wanita) dari negeri Yaman yang bernama Ummu Abdillah Al-Wadi’iyah. Beliau hafizhahallah adalah putri dari ulama ahlul hadits di masa kita, yaitu Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wad’I rahimahullah.

Ummu Abdillah adalah seorang aalimah yang memiliki banyak keutamaan. Ummu Abdillah mengajar di madrasah nisa’ (khusus wanita) dan memiliki beragam karya tulis ilmiyah. Di antaranya:

  • Shahihul Musnad fis Syamail Muhammadiyah (tentang kesempurnaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dicetak dalam dua jilid)
  • Jamius Shahih fi ilmi wa Fadhlihi (tentang keutamaan ilmu)
  • Tahqiq kitab As-Sunnah Ibnu Abi Ashim
  • Nasehati lin Nisa
  • dan sekarang beliau masih mengerjakan Shahihul Musnad min Sirah Nabawiyah

Yang ingin saya angkat dalam artikel ini adalah bagaimana cara Syaikh mendidik putrinya sehingga tumbuh menjadi seorang aalimah. Tema ini mungkin jarang diangkat karena biasanya yang dipersiapkan sebagai seorang alim atau ulama adalah anak laki-laki saja. Pernahkah kita bercita-cita putri kita menjadi seorang aalimah? Kalau memang ada keinginan tersebut, mungkin kita bisa bercermin terlebih dahulu dengan metodologi Asy-Syaikh dalam mendidik putrinya.

Ummu Abdillah berkisah tentang bagaimana ayahanda beliau –Syaikh Muqbil- mendidik putri-putrinya,

… Ayahanda tidak pernah menyia-nyiakan kami, betapa pun sibuknya beliau. Oleh karena itulah beliau sangat perhatian terhadap kami dalam mempelajari Al-Quran. Beliau selalu menuntun kami dalam membaca Al-Quran. Kadang beliau rekam agar hapalan kami semakin kokoh. Suatu ketika saudari saya menghapal, dan ayahanda sedang berada di perpustakaan. Saudariku tadi mencari beliau, ingin direkamkan hapalannya. Beliau pun meninggalkan risetnya, merekam hapalan saudariku lalu kembali lagi ke perpustakaan.

Begitu kami mengetahui qiraah yang baik, beliau membeli kaset qiraah Syaikh Al-Husari untuk kami. Beliau juga membelikan untuk masing-masing putrinya satu tape recorder tanpa radio. Ini bentuk penjagaan beliau agar kami tidak mendengar nyanyian.

Setelah kami mengerti lebih banyak, kami dibelikan masing-masing sebuah tape recorder dengan radionya, namun beliau tetap memperingatkan kami terhadap nyanyian dengan keras. Dan alhamdulillah, kami menerima peringatan tersebut. Kami tidak mendengarkan nyanyian sama sekali, seiring dengan rasa tidak senang terhadap nyanyian.

Dalam menghapal, beliau memerintahkan kami untuk hanya menggunakan satu mushaf dari satu penerbit karena itu akan membantu memperkokoh hapalan. Kalau beliau melihat di tangan kami ada mushaf yang berbeda, beliau akan memberi peringatan keras dan sangat marah.

Di antara murid beliau ada orang-orang Sudan dan Mesir yang datang beserta istri-istrinya. Di antara istri-istri mereka ada yang mengajar kami dengan diberi imbalan jasa oleh ayah sebagai bentuk perhatian beliau terhadap pendidikan. Dan apabila di buku-buku yang dipergunakan oleh para guru wanita tersebut ada gambar makhluk bernyawanya, beliau memerintahkan kami untuk menghapusnya. Kami pun menghapus gambar-gambar tersebut disertai dengan kebencian yang sangat terhadap gambar-gambar itu.

Lalu setelah itu kami pun diajari ilmu-ilmu syar’i Al Kitab dan As-Sunnah, sehingga kami pun menghafal bersama para guru tersebut dan kami pun hapal beberapa hadits walhamdulillah.

Beliau rahimahullah terkadang bersenang-senang dan bergurau bersama kami, dalam perkara yang diizinkan oleh Allah. Berbeda dengan kebanyakan kaum muslimin –kecuali yang dirahmati oleh Allah- yang bersenang-senang bersama anak-anak mereka dengan televisi, nyanyian, permainan-permainan gila, serta kerusakan lainnya. Padahal nabi kita bersabda, “Kamu sekalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban tentang apa yang dipimpinnya.”

Beliau selalu melarang kami terlalu banyak keluar, dan beliau selalu mengharuskan kami untuk tidak keluar kecuali seizin beliau.


Ini apa yang dijalankan beliau semasa kami kecil

Ada pun tentang pendidikan kami, beliau sangat ingin kami mendalami agama Allah dan mencari bekal ilmu syar’i. Sebab itulah, beliau mencurahkan kemampuan beliau untuk membantu kami menuntut ilmu dan membuat kami menggunakan kesempatan kami dengan sebaik-baiknya. Beliau selalu menyediakan waktu khusus untuk mendidik kami. Setiap hari kedua, beliau menanyakan pelajaran yang telah lalu. Jika pelajaran itu terlalu berat, maka beliau berikan dengan cara yang jauh lebih ringan.

Di antara pelajaran yang khusus kami pelajari di rumah adalah:
  • Qatrun Nada sampai dua kali
  • Syarh Ibnu Aqil sampai dua kali juga
  • Tadribur Rawi
  • Mushilut Thullabi ila Qowaidil I’rab (namun tidak selesai karena beliau sakit)

Majelis beliau senantiasa penuh dengan kebaikan, diskusi, dan pengarahan, sampai pun di atas hidangan makan atau via telepon

Ketika beliau di Saudi sebelum berangkat ke Jerman, ayahanda mengucapkan salam lewat telepon kepada saya, “Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh”. Saya menjawab tanpa mengucapkan, “Wabarakatuh”. Beliau bertanya (menegur), “Mengapa tidak engkau balas dengan yang lebih utama?” sebagai isyarat pengamalan ayat ke 86 dari surat An-Nisa.

Terkadang beliau sengaja salah memberikan pertanyaan untuk menguji pemahaman kami, sebagaimana itu beliau lakukan juga kepada murid laki-laki. Kadang beliau bertanya tentang soal yang cukup berat, untuk memberikan faedah namun disuguhkan dengan pertanyaan terlebih dahulu. Metode ini pun diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana di dalam hadits Muadz.

Kadang ketika kami menemui kesulitan dalam pelajaran atau riset kami, beliau memerintahkan kami untuk meneruskan riset tersebut, atau beliau mengikuti kami ke perpustakaan dan membantu kami. Inilah yang menyebabkan kami begitu berduka karena kehilangan beliau rahimahullah. Siapa yang akan memperhatikan kami sepeninggal ayahanda?

Beliau selalu mendidik dan mengarahkan kami dengan lemah lembut. Dan dengan karunia Allah, kami tidak terdorong sedikit pun untuk menentang beliau, karena semua itu adalah demi kemaslahatan dan keuntungan kami juga. Semuanya adalah mutiara yang diuntai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah.

Di antara yang mengagumkan pada diri beliau adalah tidak pernah kepada kami dalam perkara ijtihad kami yang memiliki sisi pandang lain. Kalau kami sudah memahami suatu masalah yang berbeda dengan pemahaman beliau maka beliau tidak memaksa kami, seperti juga kebiasaan beliau bersama murid-muridnya yang laki-laki. Beliau tidak pernah menekan mereka untuk memahami sesuatu yang masih perlu dipertimbangkan. Ini, sebagaimana para pembaca lihat, adalah kemuliaan yang sangat jarang ditemukan.

Beliau rahimahullah juga memperingatkan kami dari masyarakat, karena masyarakat kami adalah masyarakat yang rusak, bersegera dalam kesesatan dan hal-hal yang tidak berguna, kecuali yang dirahmati Allah.

Beliau juga memperingatkan kami dari sikap sombong

Beliau sangat benci kepada wanita yang sombong terhadap suaminya, beliau mengatakan, “Tidak ada kebaikan wanita yang seperti ini.”

Beliau mendorong kami untuk bersikap zuhud terhadap dunia yang rendah ini


Beliau bimbing kami untuk meniatkan apa yang kami makan dan minum untuk menguatkan kami dalam bertakwa, agar memperoleh pahala dari Allah.

Beliau katakan, “Janganlah kamu sibukkan dirimu menyiapkan berbagai hidangan makanan. Apa yang mudah diolah, kita makan.”

Beliau bangkitkan semangat kami. Beliau bukan termasuk orang yang suka meruntuhkan semangat keluarga dan anak-anak perempuannya. Beliau membentuk kami dengan sebaik-baiknya, agar kami mudah dan bersemangat untuk bersungguh-sungguh dalam memperoleh ilmu yang bermanfaat.

Di antara ucapan beliau kepada saya,
“Saya berharap agar kamu menjadi wanita yang faqih.”

Ya Allah, wujudkanlah harapan ayahanda, duhai Zat yang tidak diharap kecuali kepada-Nya, tempatkanlah beliau di surga firdaus yang tinggi.

________
(Diringkas dari buku “Secercah Nasehat dan Kehidupan Indah Ayahanda Al-Allamah Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i”, terbitan pustaka Al-Haura Jogjakarta).


Sumber: http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/02/05/bagaimana-asy-syaikh-muqbil-mendidik-putri-beliau/

Membongkar Kejahatan Ihya’ut Turots – Musuh Salafiyyin

Yayasan Ihya’ut Turots Selalu Menjadi Musuh Salafiyyin

Demikian pula, keberadaan mereka yang selalu menjadi lawan Salafiyyin di mayoritas tempat, contohnya di Kuwait. Mereka sungguh berbeda dengan kami, bagi mereka kelompok mereka dan bagi kami para ikhwah dan pemuda Salafiyyin. Sedikitpun mereka tidak ada hubungan dengan kami, bahkan mereka mentahdzir kami dan para masyaikh sunnah. Mereka mentahdzir Syaikh Rabi’ dan senantiasa memuji Abdurrahman Abdul Khaliq.

Adapun ucapan mereka, “Kami telah meninggalkan Abdurrahman Abdul Khaliq.”, ini adalah sebuah lelucon yang nyata karena Abdurrahman Abdul Khaliq jelas berada di yayasan Ihya’ut Turots, bahkan mempunyai kedudukan di Lajnah ‘Ilmiyyah Ihya’ut Turots.

Terkadang jika engkau menelepon untuk meminta fatwa, maka mereka akan mengarahkanmu kepada Abdurrahman Abdul Khaliq sebagai penghormatan terhadapnya, dia ada dan tinggal di tengah-tengah mereka.

Tidak benar kalau mereka berkata: “kami telah meninggalkannya.”

Bahkan, ada markas cabang Ihya’ut Turots yang menyelenggarakan muhadharah dan seminar bagi Abdurrahman Abdul Khaliq. Dengan ini jelaslah bahwa omongan mereka, “kami telah meninggalkan Abdurrahman Abdul Khaliq”, ibarat melemparkan debu ke mata hingga orang tertipu dengannya.

Orang mengetahui kesesatan Abdurrahman Abdul Khaliq dan mayoritas Salafiyyin mengetahui bahwa dia telah menyimpang. Asy Syaikh Bin Baaz, Asy Syaikh Al Fauzan, Asy Syaikh Rabi’, Asy Syaikh Al Faqihi, Asy Syaikh As Suhaimi dan Asy Syaikh Al Albani telah menjarh Abdurrahman Abdul Khaliq.

Mereka tidak mempunyai tipu daya lagi kecuali dengan mengatakan bahwa kami telah mengusir Abdurrahman Abdul Khaliq, padahal dia adalah saudara mereka yang mereka dan syaikh yang utama di kalangan mereka.

Dengan pengakuan ini mereka ingin memalingkan para pemuda karena mereka tidak akan bisa masuk kepada pemuda Salafiyyin kecuali dengan menyebarkan berita dusta bahwa “Kami telah mengusir Abdurrahman Abdul Khaliq”.

Maka dengan ini kita harus bersikap tegas untuk tidak berhubungan dengan yayasan ini. Demikian pula, terhadap orang yang berhubungan dan bekerjasama dengan mereka padahal dia mengetahui keadaan mereka dan mendengar ucapan–ucapan ulama tentang mereka.
Kita tidak akan membiarkan mereka merusak saudara-saudara kita Salafiyyin dan menipu mereka dengan yayasan ini.

Sesungguhnya, kita – demi Allah – sudah merasa cukup dengan masyaikh Ahlus Sunnah dan buku-buku Ahlus Sunnah dan kita tidak memerlukan harta yayasan ini.

Kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar memberi kita rezeki dengan keutamaannya dan menjadikan kita berkecukupan serta tidak memerlukan orang-orang yang ingin menyesatkan Salafiyyin dengan harta mereka.

Adapun jika mereka berdalil dengan fatwa ulama yang mendukung Ihya’ut Turots, maka kita katakan:
“Sungguh, kebenaran tidak diambil dari para tokoh, tetapi para tokoh itu yang diukur dengan kebenaran”.

Menghukumi suatu masalah dengan melihat kenyataannya. Kami mengenal baik yayasan ini dan kalian pun mengenalinya dan mengenali sikap fanatiknya dan penyimpangannya dalam melawan sunnah dan Salafiyyin. Sehingga, jika ada yang datang kepada kita dan memuji mereka, tentu kita tidak akan menerimanya hanya semata-mata rekomendasi dan pujian.

Sesungguhnya, mereka mendatangi orang ‘alim dan menampakkan diri bahwa mereka berada di jalan Ahlus Sunnah dan menulis manhaj dan aqidah Ahlussunnah.
“Yang menjadi ibrah bukanlah ucapan dan apa yang tertulis, tetapi yang menjadi ibrah adalah perbuatan dan sepak terjang kalian. Inilah sikap kalian terhadap orang yang menyimpang. Inilah sikap kalian terhadap Ahlussunnah, maka inilah yang menjadi ibrah”.

Sedangkan, jika kalian berpenampilan bukan dengan penampilan kalian yang sebenarnya dan kalian mendatangi ulama untuk mendapatkan rekomendasi dari Ahlus Sunnah, sungguh jika datang seseorang kepada orang ‘alim dengan pengakuan seperti itu pastilah orang ‘alim itu akan berkata: “Jazakallahu khairan, ini adalah manhaj yang baik,” lalu mereka akan mengambil ucapan ini dengan beranggapan bahwa orang ‘alim ini telah memberikan rekomendasi.

Kita memiliki kaidah dan para ulama salaf juga telah meletakkan kaidah. Diantara kaidah tersebut adalah:
“Kebenaran tidak dikenal dari seorang tokoh, tetapi seorang tokoh itu dikenali dengan kebenarannya.” 
“Kritikan yang terperinci lebih didahulukan daripada pujian secara umum.” 

Jika datang seseorang kepada kita dan berkata: “Demi Allah tidaklah aku melihat keburukan mereka sedikitpun dan tidaklah aku ketahui kecuali mereka di atas kebaikan”, (maka kita katakan, pen.):
“Sungguh hujjah bukanlah pada ucapanmu tetapi hujjah bagi siapa yang mengetahui hakekat yang sebenarnya, orang yang mengetahui lebih didahulukan ucapannya daripada yang tidak mengetahui.”

Kemudian -jika kita melihat kenyataan-, sungguh tidak seorangpun dari ahlul bid’ah yang menyimpang, maka akan ada perselisihan tentangnya. Maksudnya bahwa mayoritas mereka (ahlul bid’ah, pen.) yang ada sekarang sungguh masih ada perselisihan tentang mereka.

Kalaulah menyikapi masalah ini dengan kaidah kalian bahwasanya, “Masih ada ulama yang memuji yayasan Ihya’ut Turots sehingga tidak boleh membicarakan keburukannya”, maka kalau begitu di sana juga ada ulama yang memuji Sayyid Quthb, bagaimana menurut kalian?

Ada juga ulama yang memuji Abdurrahman Abdul Khaliq, apa berarti tidak boleh membicarakannya?
Kalau Turotsi (orang-orang yang ikut atau membela Ihya’ut Turots, pen.) ini berkata, “tidak boleh membicarakan kejelekan Ihya’ut Turots karena ada ulama yang merekomendasinya”, niscaya akan datang kepadanya seorang Sururi menghujatnya dengan berkata: “Kalau begitu tidak boleh pula membicarakan kejelekan syaikh Salman Al-Audah dan Safar Hawali karena ada juga ulama yang merekomendasikannya” -dia membawakan rekomendasi tertulis dari sebagian ulama-. Maka bagaimana menjawab alasan ini?

Turotsi ini tidak akan mempunyai jawaban kecuali dengan berkata bahwa yang menjadi ibrah adalah kenyataan yang ada dan bahwasanya rekomendasi-rekomendasi itu tidak berguna kalau kenyataannya menyelisihi jalan Ahlus Sunnah, bahkan menyelisihi prinsip imam dan ‘alim yang merekomendasikannya.

Apabila dia terus berpegang dengan pendapat bahwa rekomendasi bisa mencegah untuk membicarakan seseorang, berarti kita nyatakan bahwa rekomendasi juga bisa mencegah untuk membicarakan Abdurrahman, Sayyid Quthb, Salman (al Audah, pen.), dan selain mereka dari kalangan Sururiyyin, Quthbiyyin, Takfiriyyin dan qiyaskanlah ke yang lainnya!


Penutup

Dengan ini jelaslah bahwa adanya perselisihan pada suatu masalah tidak memberi pengertian bahwa kebenaran tidak jelas pada masalah itu dan tidak pula menyebabkan kita tidak bersikap.

Janganlah ada yang menduga bahwa masalah ini adalah ijtihadiyyah karena telah nyata bukti-bukti yang menunjukkan kesesatan yayasan ini dan penyimpangannya dari jalan Ahlussunnah.
Ini bukanlah masalah ijtihadiyyah yang setiap orang boleh berkata dengan pendapatnya dan orang yang menyelisihinya dilarang untuk menentangnya. Tidak! Masalah ini adalah masalah yang jelas yang menyelisihi Ahlus Sunnah dan kita harus berhati-hati dari mereka.

Pada hakekatnya yang memecah-belah bukanlah Ahlus Sunnah karena Salafiyyin adalah orang-orang yang paling bersemangat untuk tegaknya persatuan. Mereka datang seraya berkata: “Dengan tahdzir kalian terhadap Ihya’ut Turots, Salman, Quthbiyyin, dan Ikhwanul muslimin, semua itu telah menjadi sebab terpecah belahnya umat.”

Sungguh perkataan itu tidak benar karena Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang sangat bersemangat untuk persatuan. Persatuan di atas Al Kitab dan As Sunnah dengan pemahaman Salafush Shalih dan bukan persatuan ala Hasan Al Banna dan yang semisalnya dengan semboyan:
“Kita bersatu di atas apa yang telah kita sepakati dan kita saling toleransi pada apa yang tidak kita sepakati”, tetapi kita bersatu di atas Sunnah.

Termasuk faktor utama terwujudnya persatuan adalah memutuskan sebab-sebab perpecahan. Dan termasuk dari sebab munculnya perpecahan adalah penyimpangan, kebid’ahan dan fanatisme golongan. Dan semua ini termasuk dari sebab munculnya perpecahan. Dengan ini barangsiapa yang datang kepada kita dengan fanatisme golongan, maka dialah yang menyebabkan perpecahan dan memecah belah Salafiyyin. Sedangkan tahdzir dari Salafiyyin dalam hal ini hukumnya wajib!! Bahkan, tahdzir adalah termasuk sebab bersatunya manusia di atas kebenaran.

Dan termasuk sebab terbentuknya persatuan adalah dengan mentahdzir orang-orang yang meyimpang dan mentahdzir ahlul bid’ah. Oleh karena itu, Ahlussunnah sepakat untuk mentahdzir ahlul bid’ah karena engkau tidak akan mampu mempersatukan manusia di atas kebaikan kecuali engkau telah memisahkan antara yang haq dan yang bathil. Di dalam hadits telah disebutkan bahwa di antara sifat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah memecah belah di antara manusia. Maksudnya adalah beliau memisahkan antara yang haq dan yang bathil.

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

“Katakanlah, telah datang kebenaran dan telah sirna kebatilan, sungguh kebatilan pasti akan sirna” [Al-Israa’:81]

Kebatilan dan kebenaran tidak akan mungkin bersatu. Jika bersatu berarti menunjukkan orang tersebut tidak berada di atas jalan Ahlussunnah, yaitu jalannya Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam. Salaf selalu membedakan antara haq dan batil dengan cara memperingatkan umat dari yang batil sehingga kebatilan tidak lagi mampu menyesatkan dan menjauhkan manusia dari jalan Salafus Shalih dan dari jalan kebenaran.

Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat garis lurus kemudian membuat garis lain di kanan dan kirinya seraya berkata: “Setiap jalan ini ada syaithan yang menyeru kepadanya”. Kalau begitu di sana ada banyak jalan yang padanya syaithan menjauhkan manusia dari jalan Ahlussunnah dan memecah belah manusia. Dengan ini apakah aku harus diam atau mentahdzir umat dari jalan-jalan itu?

Adalah wajib bagiku untuk mentahdzir umat dari jalan-jalan itu agar manusia tidak akan masuk dan menuju kepada jalan-jalan itu jika kita memperingatkan umat darinya.

Adapun kalau kita diam, niscaya akan terbentuklah jalan-jalan itu dan manusia akan berpecah belah, setiap hari berkelompok-kelompok. Sedangkan kewajiban kita semua adalah berada pada satu barisan dan memperingatkan umat dari Ahlul Bid’ah. Dan temasuk dari sebab persatuan adalah memperingatkan umat akan bahayanya Ahlul Bid’ah.


Sumber: http://www.salafy.or.id/2007/07/04/turots/ (04.07.2007)

(Dikutip dari terjemahan al Ustadz Faishal Jamil Al Maidani dari muhadharah Syaikh Abu Abdillah Khalid Adh Dhahawi Al Kuwaiti pada tanggal 2 September 2006 / 8 Sya’ban 1427 H di Mahad Al Anshar, Sleman. Beliau adalah da’i yang tinggal di Kuwait, alumnus Jami’ah Islamiyyah Madinah, webmaster situs Asy Syaikh Rabi ibn Haadi www.Rabee.net)

Membongkar Kejahatan Ihya’ut Turots – Musuh Salafiyyin

Yayasan Ihya’ut Turots Selalu Menjadi Musuh Salafiyyin

Demikian pula, keberadaan mereka yang selalu menjadi lawan Salafiyyin di mayoritas tempat, contohnya di Kuwait. Mereka sungguh berbeda dengan kami, bagi mereka kelompok mereka dan bagi kami para ikhwah dan pemuda Salafiyyin. Sedikitpun mereka tidak ada hubungan dengan kami, bahkan mereka mentahdzir kami dan para masyaikh sunnah. Mereka mentahdzir Syaikh Rabi’ dan senantiasa memuji Abdurrahman Abdul Khaliq.

Adapun ucapan mereka, “Kami telah meninggalkan Abdurrahman Abdul Khaliq.”, ini adalah sebuah lelucon yang nyata karena Abdurrahman Abdul Khaliq jelas berada di yayasan Ihya’ut Turots, bahkan mempunyai kedudukan di Lajnah ‘Ilmiyyah Ihya’ut Turots.

Terkadang jika engkau menelepon untuk meminta fatwa, maka mereka akan mengarahkanmu kepada Abdurrahman Abdul Khaliq sebagai penghormatan terhadapnya, dia ada dan tinggal di tengah-tengah mereka.

Tidak benar kalau mereka berkata: “kami telah meninggalkannya.”

Bahkan, ada markas cabang Ihya’ut Turots yang menyelenggarakan muhadharah dan seminar bagi Abdurrahman Abdul Khaliq. Dengan ini jelaslah bahwa omongan mereka, “kami telah meninggalkan Abdurrahman Abdul Khaliq”, ibarat melemparkan debu ke mata hingga orang tertipu dengannya.

Orang mengetahui kesesatan Abdurrahman Abdul Khaliq dan mayoritas Salafiyyin mengetahui bahwa dia telah menyimpang. Asy Syaikh Bin Baaz, Asy Syaikh Al Fauzan, Asy Syaikh Rabi’, Asy Syaikh Al Faqihi, Asy Syaikh As Suhaimi dan Asy Syaikh Al Albani telah menjarh Abdurrahman Abdul Khaliq.

Mereka tidak mempunyai tipu daya lagi kecuali dengan mengatakan bahwa kami telah mengusir Abdurrahman Abdul Khaliq, padahal dia adalah saudara mereka yang mereka dan syaikh yang utama di kalangan mereka.

Dengan pengakuan ini mereka ingin memalingkan para pemuda karena mereka tidak akan bisa masuk kepada pemuda Salafiyyin kecuali dengan menyebarkan berita dusta bahwa “Kami telah mengusir Abdurrahman Abdul Khaliq”.

Maka dengan ini kita harus bersikap tegas untuk tidak berhubungan dengan yayasan ini. Demikian pula, terhadap orang yang berhubungan dan bekerjasama dengan mereka padahal dia mengetahui keadaan mereka dan mendengar ucapan–ucapan ulama tentang mereka.
Kita tidak akan membiarkan mereka merusak saudara-saudara kita Salafiyyin dan menipu mereka dengan yayasan ini.

Sesungguhnya, kita – demi Allah – sudah merasa cukup dengan masyaikh Ahlus Sunnah dan buku-buku Ahlus Sunnah dan kita tidak memerlukan harta yayasan ini.

Kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar memberi kita rezeki dengan keutamaannya dan menjadikan kita berkecukupan serta tidak memerlukan orang-orang yang ingin menyesatkan Salafiyyin dengan harta mereka.

Adapun jika mereka berdalil dengan fatwa ulama yang mendukung Ihya’ut Turots, maka kita katakan:
“Sungguh, kebenaran tidak diambil dari para tokoh, tetapi para tokoh itu yang diukur dengan kebenaran”.

Menghukumi suatu masalah dengan melihat kenyataannya. Kami mengenal baik yayasan ini dan kalian pun mengenalinya dan mengenali sikap fanatiknya dan penyimpangannya dalam melawan sunnah dan Salafiyyin. Sehingga, jika ada yang datang kepada kita dan memuji mereka, tentu kita tidak akan menerimanya hanya semata-mata rekomendasi dan pujian.

Sesungguhnya, mereka mendatangi orang ‘alim dan menampakkan diri bahwa mereka berada di jalan Ahlus Sunnah dan menulis manhaj dan aqidah Ahlussunnah.
“Yang menjadi ibrah bukanlah ucapan dan apa yang tertulis, tetapi yang menjadi ibrah adalah perbuatan dan sepak terjang kalian. Inilah sikap kalian terhadap orang yang menyimpang. Inilah sikap kalian terhadap Ahlussunnah, maka inilah yang menjadi ibrah”.

Sedangkan, jika kalian berpenampilan bukan dengan penampilan kalian yang sebenarnya dan kalian mendatangi ulama untuk mendapatkan rekomendasi dari Ahlus Sunnah, sungguh jika datang seseorang kepada orang ‘alim dengan pengakuan seperti itu pastilah orang ‘alim itu akan berkata: “Jazakallahu khairan, ini adalah manhaj yang baik,” lalu mereka akan mengambil ucapan ini dengan beranggapan bahwa orang ‘alim ini telah memberikan rekomendasi.

Kita memiliki kaidah dan para ulama salaf juga telah meletakkan kaidah. Diantara kaidah tersebut adalah:
“Kebenaran tidak dikenal dari seorang tokoh, tetapi seorang tokoh itu dikenali dengan kebenarannya.” 
“Kritikan yang terperinci lebih didahulukan daripada pujian secara umum.” 

Jika datang seseorang kepada kita dan berkata: “Demi Allah tidaklah aku melihat keburukan mereka sedikitpun dan tidaklah aku ketahui kecuali mereka di atas kebaikan”, (maka kita katakan, pen.):
“Sungguh hujjah bukanlah pada ucapanmu tetapi hujjah bagi siapa yang mengetahui hakekat yang sebenarnya, orang yang mengetahui lebih didahulukan ucapannya daripada yang tidak mengetahui.”

Kemudian -jika kita melihat kenyataan-, sungguh tidak seorangpun dari ahlul bid’ah yang menyimpang, maka akan ada perselisihan tentangnya. Maksudnya bahwa mayoritas mereka (ahlul bid’ah, pen.) yang ada sekarang sungguh masih ada perselisihan tentang mereka.

Kalaulah menyikapi masalah ini dengan kaidah kalian bahwasanya, “Masih ada ulama yang memuji yayasan Ihya’ut Turots sehingga tidak boleh membicarakan keburukannya”, maka kalau begitu di sana juga ada ulama yang memuji Sayyid Quthb, bagaimana menurut kalian?

Ada juga ulama yang memuji Abdurrahman Abdul Khaliq, apa berarti tidak boleh membicarakannya?
Kalau Turotsi (orang-orang yang ikut atau membela Ihya’ut Turots, pen.) ini berkata, “tidak boleh membicarakan kejelekan Ihya’ut Turots karena ada ulama yang merekomendasinya”, niscaya akan datang kepadanya seorang Sururi menghujatnya dengan berkata: “Kalau begitu tidak boleh pula membicarakan kejelekan syaikh Salman Al-Audah dan Safar Hawali karena ada juga ulama yang merekomendasikannya” -dia membawakan rekomendasi tertulis dari sebagian ulama-. Maka bagaimana menjawab alasan ini?

Turotsi ini tidak akan mempunyai jawaban kecuali dengan berkata bahwa yang menjadi ibrah adalah kenyataan yang ada dan bahwasanya rekomendasi-rekomendasi itu tidak berguna kalau kenyataannya menyelisihi jalan Ahlus Sunnah, bahkan menyelisihi prinsip imam dan ‘alim yang merekomendasikannya.

Apabila dia terus berpegang dengan pendapat bahwa rekomendasi bisa mencegah untuk membicarakan seseorang, berarti kita nyatakan bahwa rekomendasi juga bisa mencegah untuk membicarakan Abdurrahman, Sayyid Quthb, Salman (al Audah, pen.), dan selain mereka dari kalangan Sururiyyin, Quthbiyyin, Takfiriyyin dan qiyaskanlah ke yang lainnya!


Penutup

Dengan ini jelaslah bahwa adanya perselisihan pada suatu masalah tidak memberi pengertian bahwa kebenaran tidak jelas pada masalah itu dan tidak pula menyebabkan kita tidak bersikap.

Janganlah ada yang menduga bahwa masalah ini adalah ijtihadiyyah karena telah nyata bukti-bukti yang menunjukkan kesesatan yayasan ini dan penyimpangannya dari jalan Ahlussunnah.
Ini bukanlah masalah ijtihadiyyah yang setiap orang boleh berkata dengan pendapatnya dan orang yang menyelisihinya dilarang untuk menentangnya. Tidak! Masalah ini adalah masalah yang jelas yang menyelisihi Ahlus Sunnah dan kita harus berhati-hati dari mereka.

Pada hakekatnya yang memecah-belah bukanlah Ahlus Sunnah karena Salafiyyin adalah orang-orang yang paling bersemangat untuk tegaknya persatuan. Mereka datang seraya berkata: “Dengan tahdzir kalian terhadap Ihya’ut Turots, Salman, Quthbiyyin, dan Ikhwanul muslimin, semua itu telah menjadi sebab terpecah belahnya umat.”

Sungguh perkataan itu tidak benar karena Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang sangat bersemangat untuk persatuan. Persatuan di atas Al Kitab dan As Sunnah dengan pemahaman Salafush Shalih dan bukan persatuan ala Hasan Al Banna dan yang semisalnya dengan semboyan:
“Kita bersatu di atas apa yang telah kita sepakati dan kita saling toleransi pada apa yang tidak kita sepakati”, tetapi kita bersatu di atas Sunnah.

Termasuk faktor utama terwujudnya persatuan adalah memutuskan sebab-sebab perpecahan. Dan termasuk dari sebab munculnya perpecahan adalah penyimpangan, kebid’ahan dan fanatisme golongan. Dan semua ini termasuk dari sebab munculnya perpecahan. Dengan ini barangsiapa yang datang kepada kita dengan fanatisme golongan, maka dialah yang menyebabkan perpecahan dan memecah belah Salafiyyin. Sedangkan tahdzir dari Salafiyyin dalam hal ini hukumnya wajib!! Bahkan, tahdzir adalah termasuk sebab bersatunya manusia di atas kebenaran.

Dan termasuk sebab terbentuknya persatuan adalah dengan mentahdzir orang-orang yang meyimpang dan mentahdzir ahlul bid’ah. Oleh karena itu, Ahlussunnah sepakat untuk mentahdzir ahlul bid’ah karena engkau tidak akan mampu mempersatukan manusia di atas kebaikan kecuali engkau telah memisahkan antara yang haq dan yang bathil. Di dalam hadits telah disebutkan bahwa di antara sifat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah memecah belah di antara manusia. Maksudnya adalah beliau memisahkan antara yang haq dan yang bathil.

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

“Katakanlah, telah datang kebenaran dan telah sirna kebatilan, sungguh kebatilan pasti akan sirna” [Al-Israa’:81]

Kebatilan dan kebenaran tidak akan mungkin bersatu. Jika bersatu berarti menunjukkan orang tersebut tidak berada di atas jalan Ahlussunnah, yaitu jalannya Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam. Salaf selalu membedakan antara haq dan batil dengan cara memperingatkan umat dari yang batil sehingga kebatilan tidak lagi mampu menyesatkan dan menjauhkan manusia dari jalan Salafus Shalih dan dari jalan kebenaran.

Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat garis lurus kemudian membuat garis lain di kanan dan kirinya seraya berkata: “Setiap jalan ini ada syaithan yang menyeru kepadanya”. Kalau begitu di sana ada banyak jalan yang padanya syaithan menjauhkan manusia dari jalan Ahlussunnah dan memecah belah manusia. Dengan ini apakah aku harus diam atau mentahdzir umat dari jalan-jalan itu?

Adalah wajib bagiku untuk mentahdzir umat dari jalan-jalan itu agar manusia tidak akan masuk dan menuju kepada jalan-jalan itu jika kita memperingatkan umat darinya.

Adapun kalau kita diam, niscaya akan terbentuklah jalan-jalan itu dan manusia akan berpecah belah, setiap hari berkelompok-kelompok. Sedangkan kewajiban kita semua adalah berada pada satu barisan dan memperingatkan umat dari Ahlul Bid’ah. Dan temasuk dari sebab persatuan adalah memperingatkan umat akan bahayanya Ahlul Bid’ah.


Sumber: http://www.salafy.or.id/2007/07/04/turots/ (04.07.2007)

(Dikutip dari terjemahan al Ustadz Faishal Jamil Al Maidani dari muhadharah Syaikh Abu Abdillah Khalid Adh Dhahawi Al Kuwaiti pada tanggal 2 September 2006 / 8 Sya’ban 1427 H di Mahad Al Anshar, Sleman. Beliau adalah da’i yang tinggal di Kuwait, alumnus Jami’ah Islamiyyah Madinah, webmaster situs Asy Syaikh Rabi ibn Haadi www.Rabee.net)