WHAT'S NEW?
Loading...

[FATWA] Siapakah Ahlussunnah wal Jama’ah?

Oleh: Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah

Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin – semoga Allah mengangkat derajatnya diantara orang-orang yang mendapat petunjuk – ditanyai tentang:

“Siapakah ahlus sunnah wal jamaah?”


Beliau menjawab -semoga Allah melindunginya-:

“Ahlussunnah wal jamaah mereka adalah orang-orang yang memegang teguh as-sunnah, dan mereka bersatu diatasnya, tidak berpaling kepada selainnya, tidak dalam hal doktrin, maupun hal-hal praktis, karena inilah alasan mereka disebut Ahlussunnah, karena mereka bersikeras membela/memegang teguh sunnah, dan dinamai Ahlul Jama’ah karena mereka bersatu padu (tidak berpecah belah).

Jika anda memperhatikan keadaan ahlul bid’ah, maka kalian akan menemukan bahwa mereka berbeda dari segi kepercayaan, metodologi dan praktek, yang menunjukkan bahwa mereka jauh dari sunnah karena mereka telah membuat perkara baru yang termasuk bid’ah.




Asli Fatwa:

سئل فضيلة الشيخ – رفع الله درجته في المهديين – من هم أهل السنة والجماعة؟
فأجاب – حفظه الله تعالى – بقوله : أهل السنة والجماعة هم الذين تمسكوا بالسنة، واجتمعوا عليها، ولم يلتفتوا إلى سواها، لا في الأمور العلمية العقدية، ولا في الأمور العملية الحكمية، ولهذا سموا أهل السنة، لأنهم متمسكون بها، وسموا أهل الجماعة، لأنهم مجتمعون عليها.
وإذا تأملت أحوال أهل البدعة وجدتهم مختلفين فيما هم عليه من المنهاج العقدي أو العملي، مما يدل على أنهم بعيدون عن السنة بقدر ما أحدثوا من البدعة


Rujuk Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibn Utsaimin bab Aqidah, Soal no. 7
Diterjemahkan oleh Abu Aqil di Langsa
Langsa, Senin 1 Januari 2010
URL: http://alatsar.wordpress.com/2010/02/01/siapakah-ahlussunnah-wal-jamaah/

[FATWA] Siapakah Ahlussunnah wal Jama’ah?

Oleh: Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah

Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin – semoga Allah mengangkat derajatnya diantara orang-orang yang mendapat petunjuk – ditanyai tentang:

“Siapakah ahlus sunnah wal jamaah?”


Beliau menjawab -semoga Allah melindunginya-:

“Ahlussunnah wal jamaah mereka adalah orang-orang yang memegang teguh as-sunnah, dan mereka bersatu diatasnya, tidak berpaling kepada selainnya, tidak dalam hal doktrin, maupun hal-hal praktis, karena inilah alasan mereka disebut Ahlussunnah, karena mereka bersikeras membela/memegang teguh sunnah, dan dinamai Ahlul Jama’ah karena mereka bersatu padu (tidak berpecah belah).

Jika anda memperhatikan keadaan ahlul bid’ah, maka kalian akan menemukan bahwa mereka berbeda dari segi kepercayaan, metodologi dan praktek, yang menunjukkan bahwa mereka jauh dari sunnah karena mereka telah membuat perkara baru yang termasuk bid’ah.


[FATWA] Penegakan Hujjah bagi Ahlul Bid’ah

Oleh Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali hafidzahullah

Kaitannya dengan pelaku bid’ah, Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al Madkhali ketika ditanya,

“Wahai syaikh kami semoga Allah menjagamu, di sana terdapat beberapa pertanyaan yang beredar di kalangan para penuntut ilmu. Apakah disyaratkan di dalam kita membid’ahkan orang yang terjerumus ke dalam atau kebid’ahan atau bahkan banyak kebid’ahan, apakah disyaratkan iqomatul hujjah?”

Jawab
Yang masyhur di kalangan ahlus sunnah, bahwa orang yang terjerumus ke dalam amalan kufur, tidak dikafirkan sampai ditegakkan hujjah terlebih dahulu.

Adapun orang yang terjerumus ke dalam kebid’ahan ada beberapa macam:

[Pertama]

Yang ia dari golongan ahlul bid’ah seperti Rafidhah, Khawarij, Jahmiyah, Qadariyah, Mu’tazilah, Shufiyah, Quburiyah, Murji’ah dan siapa saja yang diikutsertakan bersama mereka seperti Ikhwanul Muslim, Jama’ah Tabligh dan yang semisal mereka, maka ulama salaf tidak memberikan syarat harus iqomatul hujjah dulu (karena sudah jelas kebid’ahannya). Rafidhah adalah mubtadi’ (ahlul bid’ah), demikian pula Khawarij adalah mubtadi’, sama saja apakah ditegakkan hujjah terlebih dahulu atau tidak.

[Kedua]

Siapa saja yang termasuk dari ahlus sunnah tapi terjerumus ke dalam kebid’ahan yang sangat jelas. Seperti beranggapan bahwa al Quran adalah makhluk, atau juga mengatakan bahwa lafadz Al Quran itu makhluk, atau berbicara tentang takdir (menafikan takdir atau menisbatkan secara berlebihan), atau mengikuti pendapatnya khawarij atau semisalnya, inipun seperti jenis kedua, kita bid’ahkan, dan seperti itulah perbuatan pendapat Salaf.

Contohnya apa yang telah datang dari Ibnu Umar Radhiallahu’anhu ketika ditanya tentang Qadariyah maka ia menjawab:

“Kalau kamu ketemu mereka katakan kepada mereka bahwa aku (Ibnu Umar) telah berlepas diri dari mereka dan mereka berlepas diri dariku.” (HR. Muslim)



[Ketiga]

Siapa saja dari kalangan Ahlus Sunnah bahkan dikenal orang ini berusaha untuk mencari al haq (semangatnya di dalam mencari kebenaran sudah dikenal di kalangan ahlus sunnah) tapi dia terjemerus ke dalam kebid’ahan yang tersamar, maka kalau dia sudah meninggal tidak boleh kita bid’ahkan.

Seperti syaikhain, hafizhain, al Imam Ibnu Hajar al Asqalani dan al Imam an Nawawi, yang keduanya ini terjerumus ke dalam pendapat yang bid’ah. Tetapi kalau orangnya masih hidup hendaknya dinasihati, diterangkan kepadanya al haq dan jangan tergesa-gesa membid’ahkan dia. Kalau memang dia bersikukuh di atas kebid’ahan baru dibid’ahkan.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah:

“Betapa banyak para mujtahid dari kalangan salaf ataupun khalaf yang mereka telah mengatakan satu perkataan atau telah melakukan satu perbuatan yang itu adalah bid’ah dalam keadaan ia tidak tahu kalau itu adalah bid’ah. Di antara sebabnya mereka terjerumus mungkin karena mereka berpegang kepada hadits-hadits dhaif yang menurut anggapan mereka shahih. Atau mungkin ayat-ayat yang mereka pahami tidak sesuai dengan yang diinginkan oleh ayat itu. Atau mungkin karena pendapat yang mereka ambil dalam satu masalah padahal di sana terdapat nash (dalil) yang belum sampai kepada orang tersebut.” [Maarijul Wushul hal. 43]

Kalau seseorang itu telah bertakwa kepada Allah Ta’ala semampu dia, maka tergelincir ke dalam kesalahan seperti ini masuk ke dalam firman Allah Ta’ala,

رَبَّنَا لا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.” (al Baqarah: 286).

Walau bagaimanapun tidak boleh memutlakkan harus iqomatul hujjah terlebih dahulu dalam membid’ahkan seseorang atau menafikannya secara mutlak juga. Perkaranya seperti yang telah aku jelaskan.

Demikian penjelasan dari Syaikh al Allamah Rabi’ bin Hadi dalam permasalahan tabdi’ (membid’ahkan seseorang). Wallahu a’lam.

[Dari Transkrip rekaman kajian rutin kitab Syarhus Sunnah lil Imam al Barbahari yang dibawakan oleh al Ustadz Abdullah Sya'roni]

Sumber: http://sunniy.wordpress.com/2009/10/17/penegakan-hujjah-bagi-ahlul-bidah/

[FATWA] Penegakan Hujjah bagi Ahlul Bid’ah

Oleh Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali hafidzahullah

Kaitannya dengan pelaku bid’ah, Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al Madkhali ketika ditanya,

“Wahai syaikh kami semoga Allah menjagamu, di sana terdapat beberapa pertanyaan yang beredar di kalangan para penuntut ilmu. Apakah disyaratkan di dalam kita membid’ahkan orang yang terjerumus ke dalam atau kebid’ahan atau bahkan banyak kebid’ahan, apakah disyaratkan iqomatul hujjah?”

Jawab
Yang masyhur di kalangan ahlus sunnah, bahwa orang yang terjerumus ke dalam amalan kufur, tidak dikafirkan sampai ditegakkan hujjah terlebih dahulu.

Adapun orang yang terjerumus ke dalam kebid’ahan ada beberapa macam:

[Pertama]

Yang ia dari golongan ahlul bid’ah seperti Rafidhah, Khawarij, Jahmiyah, Qadariyah, Mu’tazilah, Shufiyah, Quburiyah, Murji’ah dan siapa saja yang diikutsertakan bersama mereka seperti Ikhwanul Muslim, Jama’ah Tabligh dan yang semisal mereka, maka ulama salaf tidak memberikan syarat harus iqomatul hujjah dulu (karena sudah jelas kebid’ahannya). Rafidhah adalah mubtadi’ (ahlul bid’ah), demikian pula Khawarij adalah mubtadi’, sama saja apakah ditegakkan hujjah terlebih dahulu atau tidak.

[Kedua]

Siapa saja yang termasuk dari ahlus sunnah tapi terjerumus ke dalam kebid’ahan yang sangat jelas. Seperti beranggapan bahwa al Quran adalah makhluk, atau juga mengatakan bahwa lafadz Al Quran itu makhluk, atau berbicara tentang takdir (menafikan takdir atau menisbatkan secara berlebihan), atau mengikuti pendapatnya khawarij atau semisalnya, inipun seperti jenis kedua, kita bid’ahkan, dan seperti itulah perbuatan pendapat Salaf.

Contohnya apa yang telah datang dari Ibnu Umar Radhiallahu’anhu ketika ditanya tentang Qadariyah maka ia menjawab:

“Kalau kamu ketemu mereka katakan kepada mereka bahwa aku (Ibnu Umar) telah berlepas diri dari mereka dan mereka berlepas diri dariku.” (HR. Muslim)

[FATWA] Peringatan Asy-Syaikh ‘Ubaid dari Jama’ah sesat Ihya’ut Turats


Bukti kebobrokan manhaj Ihya’. Nampak Fahd al-Khannah dari Jam’iyyah Ihya’ at-Turats bersama Syi’i Rafidli ‘Adnan Sayyid ‘Abdus-Samad. Pertemuan ini diadakan oleh Dr. Nasir as-Sani’ dari Ikhwanul-Muslimin

Di masa-masa fitnah membuncah sekarang ini dengan munculnya corong-corong kesesatan menjajakan dagangannya, aktif melemparkan syubhat melalui akun fb (fergaulan bebas) manhajnya dan munculnya orang-orang bermuka dua semacam (pendukung sengit Ja’far Salih) Fadhel Ahmad Al-Kendali yang bangkit amarahnya terhadap Ahlussunnah dengan menjadi sales promotor sekaligus beking bagi du'at hizbiyyah semisal Firanda dengan berupaya mengaburkan sikap tegas para Masyayikh kita terkhusus Asy-Syaikh ‘Ubaid Al-Jabiri hafizhahullah dengan membuat kerancuan-kerancuan kepada umat manusia untuk memperbanyak pengikut mereka maka penting bagi kita untuk mengetahui sikap jelas dan tegas Asy-Syaikh ‘Ubaid Al-Jabiri hafizhahullah terhadap organisasi Hizbiyyah Ihya’ut Turats, para da’i mereka dan penjelasan beliau mengenai manhaj yang ditempuh oleh organisasi sesat tersebut. Semoga ada guna dan manfaatnya, amin (-ed.).

- - -


Pertanyaan ini diajukan kepada Asy-Syaikh ‘Ubaid al-Jabiry pada Dauroh Hafrul Batin sekitar masalah Organisasi Ihyaut Turats, dan asy-Syaikh sudah beberapa kali menjawab sekitar masalah ini, hanya saja ada tambahan di sini untuk mengingatkan orang yang lupa.

Pertanyaan:

Di sana ada sebagian organisasi yang posisinya antara kita harus mendukungnya atau meninggalkannya semacam Ihyaut Turats al-Islamy yang menyebar di daerah teluk dan sebagian negara Islam, apakah ada penyimpangan padanya dan apa sikap kita sebagai penuntut ilmu dalam masalah ini?

Jawab:

Pertama, bahwa organisasi ini yang nampak bagi kami dan yang jelas bagi kami dari data yang kuat dan bukti-bukti akurat bahwa pada organisasi ini terdapat berbagai penyimpangan dan kesesatan, bahwa organisasi ini tidak berdiri di atas sunnah yang harus diikuti. Organisasi ini adalah organisasi yang bervisi dan bermisi mencari dunia dengan kedok agama, organisasi politik berkedok dakwah. Maka Sulaiman al-Jabilan, seorang penganut Jama’ah Tabligh adalah imamnya Jama’ah Tabligh dianggap seorang da’i, yang lain adalah apa yang telah dipilih oleh jama’ah sesat dan menyesatkan ini da’i mereka asy-Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abdullah - saya kira – al-Ghoniman dulu seorang ustadz di Universitas Islamiyah kemudian setelah pensiun dia pergi ke al-Qasim seorang penganut faham takfiri pembela Muhammad bin Surur bin Nayif Zainal ’Abidin dan terakhir yang aku tahu secara langsung bahwa dia sepakat dengan as-Sahibany Muhammad bin Nashir dan Qori Abdul’aziz bin Abdul Fattah al-Qori yang telah mengatakan bahwa asya’iroh termasuk golongan yang selamat dan golongan yang diridloi, maka cukuplah dengan ini sebagai kesesatan.

Apakah bisa suatu jama’ah yang di atas sunnah mengaku seperti itu, aku yakin keadaan ini tidak tersembunyi bagi mereka, hanya saja demikianlah jama’ah-jama’ah baru yang mencampur antara politik atau bid’ah dengan as-Sunnah. Demikian keadaan mereka selalu membuat kerancuan terhadap manusia untuk menyeret manusia memperbanyak kelompok mereka, kita memohon kepada Allah – Subhanahu wa Ta’ala – agar menanpakkan kebenaran itu dengan Kalimat-Nya dan membinasakan kebatilan dan pengikutnya dan Allah menjadikan berkisarnya kejelekan itu pada kebatilan dan pengikutnya. Semoga Allah menyelamatkan Ahlussunnah dari makar mereka dan tipu daya mereka serta dari kejahatan mereka, semoga Allah mengokohkan Ahlussunnah dengan ucapan yang kokoh di atas Sunnah dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.

Ini adalah rekaman suara jawaban asy-Syaikh:

http://bit.ly/NCawDT

http://www.albaidha.net/vb/showthread.php?t=10329

http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=108143

Kesimpulan dari penjelasan Asy-Syaikh tentang Ihya’ut Turats (-ed.):

  • Pada organisasi ini terdapat berbagai penyimpangan dan kesesatan.
  • Organisasi ini tidak berdiri di atas sunnah yang harus diikuti
  • Organisasi yang bervisi dan bermisi mencari dunia dengan kedok agama
  • Organisasi politik berkedok dakwah
  • Sulaiman al-Jabilan, imamnya Jama’ah Tabligh dianggap sebagai seorang da’i
  • Da’i mereka, asy-Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abdullah, seorang penganut faham takfiri pembela Muhammad bin Surur bin Nayif Zainal ’Abidin (nampak jelas keterkaitan Ihya’ut Turats dengan Sururiyyun-ed)
  • Apakah bisa suatu jama’ah yang di atas sunnah mengaku seperti itu?!
  • Jama’ah baru yang mencampur antara politik atau bid’ah dengan as-Sunnah
  • Selalu membuat kerancuan terhadap manusia untuk menyeret manusia memperbanyak kelompok mereka
  • Semoga Allah menyelamatkan Ahlussunnah dari makar mereka dan tipu daya mereka serta dari kejahatan mereka, amin.

Jadi, kalau Firanda, Abdullah Taslim, Ja’far Salih atau pengekornya semacam Fadhel Ahmad Al-Kendali bertanya:

“Kenapa kalian begitu tegas BARO’ berlepas diri dari Jum’iyyah Ihya’ut Turats?”

Maka jawablah dengan jujur dan tegas wahai saudaraku – yang semoga Allah Ta’ala menyelamatkan kita semua dari syubuhat mereka dan ekor-ekornya:

“Karena kesesatan dan kebobrokan manhajnya!”

Dan bertanyalah wahai saudaraku – yang semoga Allah Ta’ala merahmati kita semua – kepada mereka serta ekor-ekornya:

“Kenapa kalian begitu tegas berWALA’, mendekat, membela, berpromosi, menyeru kepada Jum’iyyah Ihya’ut Turats?”

Maka jawablah dengan jujur dan tegas wahai hadahumullah:

“Karena dananya!”

Masih adakah seorang Ahlussunnah yang jujur mengharapkan kebaikan agamanya demi menggapai keridhaan Allah Ta’ala yang tergiur dengan syubhat renyah dunia dana mereka? Allahul musta’an.

Link pdf:
http://bit.ly/MsrdaU

17 Julai 2012
Sumber: http://tukpencarialhaq.wordpress.com/2012/07/17/peringatan-asy-syaikh-ubaid-dari-jamaah-sesat-ihyaut-turats/

[FATWA] Peringatan Asy-Syaikh ‘Ubaid dari Jama’ah sesat Ihya’ut Turats


Bukti kebobrokan manhaj Ihya’. Nampak Fahd al-Khannah dari Jam’iyyah Ihya’ at-Turats bersama Syi’i Rafidli ‘Adnan Sayyid ‘Abdus-Samad. Pertemuan ini diadakan oleh Dr. Nasir as-Sani’ dari Ikhwanul-Muslimin

Di masa-masa fitnah membuncah sekarang ini dengan munculnya corong-corong kesesatan menjajakan dagangannya, aktif melemparkan syubhat melalui akun fb (fergaulan bebas) manhajnya dan munculnya orang-orang bermuka dua semacam (pendukung sengit Ja’far Salih) Fadhel Ahmad Al-Kendali yang bangkit amarahnya terhadap Ahlussunnah dengan menjadi sales promotor sekaligus beking bagi du'at hizbiyyah semisal Firanda dengan berupaya mengaburkan sikap tegas para Masyayikh kita terkhusus Asy-Syaikh ‘Ubaid Al-Jabiri hafizhahullah dengan membuat kerancuan-kerancuan kepada umat manusia untuk memperbanyak pengikut mereka maka penting bagi kita untuk mengetahui sikap jelas dan tegas Asy-Syaikh ‘Ubaid Al-Jabiri hafizhahullah terhadap organisasi Hizbiyyah Ihya’ut Turats, para da’i mereka dan penjelasan beliau mengenai manhaj yang ditempuh oleh organisasi sesat tersebut. Semoga ada guna dan manfaatnya, amin (-ed.).

- - -