WHAT'S NEW?
Loading...

Menuju Kesucian Jiwa

Oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc

Era globalisasi semakin menjauhkan manusia dari kesucian jiwa. Jiwa yang suci menjadi barang yang langka. Pencemaran batin dengan berbagai maksiat dalam bentuk kekafiran, kesyirikan, dan syahwat birahi, merambah deras melalui sarana media elektronik dan media cetak. Kini, apa pun yang dimaukan dan segala yang digandrungi oleh jiwa telah berada dalam jangkauan. Bahkan, dunia berikut gemerlapnya ibarat dalam genggaman tangan. Semuanya dapat dinikmati melalui sebuat alat komunikasi mini bernama telepon genggam.

Iman yang semakin menipis, kebodohan yang kian menebal, diiringi oleh semakin mudahnya segala fasilitas maksiat, semakin murah lagi canggih. Apa jadinya? Tak lain, jiwa semakin ternoda, noktah bahkan bercak hitam kian melekat dalam kalbu. Membuatnya semakin buta akan kebenaran, semakin buta akan kebaikan, hingga tak kenal yang baik dan tak mengingkari yang mungkar. Lebih parah lagi, noda-noda itu telah membalik pola berpikirnya sehingga yang baik dia anggap jelek, yang jelek dianggap baik, hal yang tabu dianggap biasa, dan rasa malu nyaris sirna.

Sungguh benar sabda Nabi ~shallallahu ‘alaihi wa sallam~,

إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

“Apabila engkau tidak lagi punya rasa malu, berbuatlah sesukamu!” [HR. al-Bukhari]

Memang, apabila benteng iman telah roboh, tak tersisa selain benteng malu. Apabila benteng malu pun ikut roboh, tak ada penghalang bagi seseorang untuk melakukan maksiat walaupun di depan orang, di siang bolong dan terang benderang. Inikah buah dari modernisasi dan globalisasi yang kebablasan? Kalau ini buahnya, lantas apa yang dibanggakan darinya? Akankah kita membanggakan dekadensi moral yang semakin hari kian terpuruk, iman yang kian menipis, serta kebodohan yang kian menutupi akal pikiran dan hati nurani? Apa artinya kecanggihan teknologi apabila tidak tersisa nilai religi?

Kemanakah jiwa-jiwa suci itu? Apakah itu hanya ada di masa dahulu, yang kini tinggal cerita dan kenangan? Ataukah itu hanya sebuah kebanggaan yang kita banggakan dan hanya sebatas itu, tanpa kita mencontohnya? Atau menjadi kebanggaan pun tidak, karena kini kebanggaan orang-orang telah beralih kepada bintang-bintang film, atlet, dan selebritas walaupun kehidupan mereka kelam? Sungguh celaka apabila hal ini yang terjadi. Mereka telah kehilangan teladan.

Sampai kapankah ini semua akan berlangsung? Tidakkah kita segera mengakhirinya sebelum semakin jauh? Tidakkah sudah datang waktunya kita terbangun dari ‘mimpi indah’ dalam buaian setan, dan tersadar dari mabuk gemerlapnya dunia?

Allah ~subhanahu wa ta‘ala~ telah berseru,

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan tunduk kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” [al-Hadid: 16]

Toh, dunia seisinya tak ada nilainya dibandingkan dengan kenikmatan surga yang kekal abadi.

Toh, beratnya mengekang jiwa tak sebanding dengan beratnya menahan siksa neraka.

Untukmu, mari menuju jiwa yang suci …


Definisi Tazkiyatun Nufus

Tazkiyatun nufus adalah rangkaian dari dua kata: tazkiyah dan nufus. Tazkiyah memiliki makna suci dan berkembang. [Mu’jam Maqayis al-Lughah dan Tahdzibul Lughah]

Adapun nufus adalah bentuk jamak dari kata nafs, yang artinya jiwa. Jadi, pembahasan tazkiyatun nufus atau tazkiyatun nafs artinya pembahasan mengenai penyucian jiwa dan pengembangannya, agar semakin bersih dan suci sehingga berkembang dengan semakin tunduk kepada Rabbnya, serta berkembang dengan banyak beramal.

Ibnu Taimiyyah ~rahimahullah~ juga menjelaskan:

“Asal makna zakah (atau tazkiyah, –pen.) adalah penambahan dalam kebaikan. Dari kata ini, muncul ungkapan, ‘Zaka az-zar’u,’ artinya tumbuhan itu berkembang. Demikian pula, ‘Zaka al-maalu,’ artinya harta itu bertambah. Kebaikan itu tidak akan berkembang melainkan dengan meninggalkan kejelekan, sebagaimana tumbuhan tidak akan berkembang melainkan dengan dibersihkan dari semak dan gulma di sekelilingnya. Begitu pula jiwa dan amalan, tidak akan berkembang melainkan dengan dibersihkan dari segala yang berlawanan dengannya. Seseorang juga tidak akan bersih dan berkembang melainkan dengan meninggalkan kejelekan, karena kejelekan itu akan menodainya.” [az-Zuhd wal Wara’]


Makna Nafs dan Pentingnya Pembahasan Tazkiyatun Nufus

Apa hakikat nafs yang biasa kita terjemahkan dengan jiwa?

Tentang hal ini, para pakar Islam dari kalangan ulama fikih dan akidah serta ulama ahli tafsir dan bahasa, telah banyak membahasnya, baik dalam literatur tafsir maupun mu’jam, yakni kamus-kamus Arab.

Ringkas kata, Ibnul Qayyim ~rahimahullah~ telah membahas masalah ini juga dalam kitabnya, al-Arwah, yang kesimpulannya bahwa mayoritas pakar Islam berpendapat bahwa nafs atau jiwa dalam hal ini maksudnya adalah ruh.

“Hakikat keduanya adalah satu. Mereka yang berpendapat demikian adalah jumhur (mayoritas) ulama,” ungkap Ibnul Qayyim.

Meskipun demikian, dalam penggunaan kata nafs dan ruh terkadang memiliki maksud yang lain. Namun, yang dimaksud dalam kajian tazkiyatun nufus adalah ruh.

Makna ini telah didukung oleh banyak dalil, baik dari al-Qur’an maupun al-Hadits. Dalil-dalil tersebut menyebutkan kata nafs dengan makna ruh. Bahkan, disebut pula bahwa ruh ada yang baik (thayyibah) ada pula yang jelek (khabitsah).

Dalam sebuah hadits, Nabi ~shallallahu ‘alaihi wa sallam~ menceritakan proses pencabutan ruh seorang manusia oleh malaikat. Apabila manusia itu mukmin yang baik, malaikat mengatakan:

أَيَّتُهَا النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ، اخْرُجِي إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنَ اللهِ وَرِضْوَانٍ

“Wahai jiwa yang baik, keluarlah engkau menuju ampunan dari Allah ~subhanahu wa ta‘ala~ dan keridhaan-Nya.”

Lantas dibawalah nyawa tersebut oleh para malaikat ke langit, dengan bau yang sangat harum semerbak. Setiap kali melewati kumpulan para malaikat, mereka pun berkata:

مَا هَذَا الرُّوحُ الطَّيِّبُ؟

“Ruh siapakah yang baik ini?”

Para malaikat pembawa ruh tersebut mengatakan, “Fulan bin Fulan,” disebutlah namanya yang terbaik semasa hidup di dunia. Sebaliknya, apabila manusia itu adalah seorang kafir atau munafik, para malaikat mengatakan:

أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْخَبِيثَةُ اخْرُجِى إِلَى سَخَطٍ مِنَ اللهِ وَغَضَبٍ

“Wahai jiwa yang jelek, keluarlah menuju kemurkaan Allah ~subhanahu wa ta‘ala~ dan kemarahan-Nya.”

Para malaikat kemudian membawa ruh tersebut menuju langit, dengan bau yang sangat busuk. Setiap ruh tersebut melewati kumpulan para malaikat, mereka mengatakan:

مَا هَذَا الرُّوحُ الْخَبِيثُ؟

“Ruh siapa yang jelek ini?”

Para malaikat pembawa ruh tersebut menjawab, “Fulan bin Fulan,” dengan menyebutkan namanya yang terjelek ketika dia hidup di dunia.

Demikianlah Nabi ~shallallahu ‘alaihi wa sallam~ menjelaskan adanya jiwa yang baik dan jiwa yang buruk. Dalam hadits yang lain, beliau juga mengisyaratkan adanya ruh yang baik dan yang buruk.

الْأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ

“Ruh-ruh itu berkelompok-kelompok yang banyak. Yang cocok di antara mereka akan saling sepakat, dan yang tidak cocok akan saling menjauh.” [Sahih, HR. Muslim]

Ulama menjelaskan:

“Yang baik akan cenderung kepada yang baik, dan yang jelek akan cenderung kepada yang jelek.” [Syarah Jami’ Shagir, an-Nihayah fi Gharibil Hadits, dll.]

Oleh karena itulah, dalam pembukaan khutbah, dahulu Nabi ~shallallahu ‘alaihi wa sallam~ sering berlindung kepada Allah ~subhanahu wa ta‘ala~ dari kejelekan jiwa.

Sabdanya:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا

“Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah, kami memohon pertolongan kepada-Nya, memohon ampunan kepada-Nya, dan memohon perlindungan dari kejelekan-kejelekan jiwa kami.” [Sahih, HR. Abu Dawud dan yang lain]

Beliau ~shallallahu ‘alaihi wa sallam~ pun mengajari seseorang untuk berdoa:

اللَّهُمَّ قِنِي شَرَّ نَفْسِي وَاعْزِمْ لِي عَلَى أَرْشَدِ أَمْرِي

“Ya Allah, lindungilah aku dari kejahatan jiwaku, dan kokohkan tekadku pada urusanku yang paling lurus.”

Masih ada lagi doa-doa lain untuk minta perlindungan kepada Allah ~subhanahu wa ta‘ala~ dari jiwa yang jelek. Melihat kenyataan yang ada, tentu amat penting bagi kita untuk senantiasa mengontrol kondisi jiwa kita serta mengusahakan segala hal untuk menggapai kesucian jiwa dan membebaskannya dari segala yang mengotorinya.

Ibnul Jauzi ~rahimahullah~ mengatakan saat mengomentari hadits bahwa ruh itu berkelompok-kelompok:

“Diambil dari hadits tersebut sebuah faedah, yaitu apabila seseorang mendapatkan pada jiwanya sikap lari dari seorang yang saleh, seyogianya ia mencari tahu sebabnya, lalu ia berusaha untuk membebaskan dirinya dari sifat tercela ini.” 

[Dinukil dari kitab Dalil al-Falihin]

Sumber:
| http://asysyariah.com
| Majalah AsySyariah Edisi 079

Menuju Kesucian Jiwa

Oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc

Era globalisasi semakin menjauhkan manusia dari kesucian jiwa. Jiwa yang suci menjadi barang yang langka. Pencemaran batin dengan berbagai maksiat dalam bentuk kekafiran, kesyirikan, dan syahwat birahi, merambah deras melalui sarana media elektronik dan media cetak. Kini, apa pun yang dimaukan dan segala yang digandrungi oleh jiwa telah berada dalam jangkauan. Bahkan, dunia berikut gemerlapnya ibarat dalam genggaman tangan. Semuanya dapat dinikmati melalui sebuat alat komunikasi mini bernama telepon genggam.

Iman yang semakin menipis, kebodohan yang kian menebal, diiringi oleh semakin mudahnya segala fasilitas maksiat, semakin murah lagi canggih. Apa jadinya? Tak lain, jiwa semakin ternoda, noktah bahkan bercak hitam kian melekat dalam kalbu. Membuatnya semakin buta akan kebenaran, semakin buta akan kebaikan, hingga tak kenal yang baik dan tak mengingkari yang mungkar. Lebih parah lagi, noda-noda itu telah membalik pola berpikirnya sehingga yang baik dia anggap jelek, yang jelek dianggap baik, hal yang tabu dianggap biasa, dan rasa malu nyaris sirna.

Sungguh benar sabda Nabi ~shallallahu ‘alaihi wa sallam~,

إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

“Apabila engkau tidak lagi punya rasa malu, berbuatlah sesukamu!” [HR. al-Bukhari]

Memang, apabila benteng iman telah roboh, tak tersisa selain benteng malu. Apabila benteng malu pun ikut roboh, tak ada penghalang bagi seseorang untuk melakukan maksiat walaupun di depan orang, di siang bolong dan terang benderang. Inikah buah dari modernisasi dan globalisasi yang kebablasan? Kalau ini buahnya, lantas apa yang dibanggakan darinya? Akankah kita membanggakan dekadensi moral yang semakin hari kian terpuruk, iman yang kian menipis, serta kebodohan yang kian menutupi akal pikiran dan hati nurani? Apa artinya kecanggihan teknologi apabila tidak tersisa nilai religi?

Kemanakah jiwa-jiwa suci itu? Apakah itu hanya ada di masa dahulu, yang kini tinggal cerita dan kenangan? Ataukah itu hanya sebuah kebanggaan yang kita banggakan dan hanya sebatas itu, tanpa kita mencontohnya? Atau menjadi kebanggaan pun tidak, karena kini kebanggaan orang-orang telah beralih kepada bintang-bintang film, atlet, dan selebritas walaupun kehidupan mereka kelam? Sungguh celaka apabila hal ini yang terjadi. Mereka telah kehilangan teladan.

Sampai kapankah ini semua akan berlangsung? Tidakkah kita segera mengakhirinya sebelum semakin jauh? Tidakkah sudah datang waktunya kita terbangun dari ‘mimpi indah’ dalam buaian setan, dan tersadar dari mabuk gemerlapnya dunia?

Allah ~subhanahu wa ta‘ala~ telah berseru,

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan tunduk kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” [al-Hadid: 16]

Toh, dunia seisinya tak ada nilainya dibandingkan dengan kenikmatan surga yang kekal abadi.

Toh, beratnya mengekang jiwa tak sebanding dengan beratnya menahan siksa neraka.

Untukmu, mari menuju jiwa yang suci …


Definisi Tazkiyatun Nufus

Tazkiyatun nufus adalah rangkaian dari dua kata: tazkiyah dan nufus. Tazkiyah memiliki makna suci dan berkembang. [Mu’jam Maqayis al-Lughah dan Tahdzibul Lughah]

Adapun nufus adalah bentuk jamak dari kata nafs, yang artinya jiwa. Jadi, pembahasan tazkiyatun nufus atau tazkiyatun nafs artinya pembahasan mengenai penyucian jiwa dan pengembangannya, agar semakin bersih dan suci sehingga berkembang dengan semakin tunduk kepada Rabbnya, serta berkembang dengan banyak beramal.

Ibnu Taimiyyah ~rahimahullah~ juga menjelaskan:

“Asal makna zakah (atau tazkiyah, –pen.) adalah penambahan dalam kebaikan. Dari kata ini, muncul ungkapan, ‘Zaka az-zar’u,’ artinya tumbuhan itu berkembang. Demikian pula, ‘Zaka al-maalu,’ artinya harta itu bertambah. Kebaikan itu tidak akan berkembang melainkan dengan meninggalkan kejelekan, sebagaimana tumbuhan tidak akan berkembang melainkan dengan dibersihkan dari semak dan gulma di sekelilingnya. Begitu pula jiwa dan amalan, tidak akan berkembang melainkan dengan dibersihkan dari segala yang berlawanan dengannya. Seseorang juga tidak akan bersih dan berkembang melainkan dengan meninggalkan kejelekan, karena kejelekan itu akan menodainya.” [az-Zuhd wal Wara’]


Makna Nafs dan Pentingnya Pembahasan Tazkiyatun Nufus

Apa hakikat nafs yang biasa kita terjemahkan dengan jiwa?

Tentang hal ini, para pakar Islam dari kalangan ulama fikih dan akidah serta ulama ahli tafsir dan bahasa, telah banyak membahasnya, baik dalam literatur tafsir maupun mu’jam, yakni kamus-kamus Arab.

Ringkas kata, Ibnul Qayyim ~rahimahullah~ telah membahas masalah ini juga dalam kitabnya, al-Arwah, yang kesimpulannya bahwa mayoritas pakar Islam berpendapat bahwa nafs atau jiwa dalam hal ini maksudnya adalah ruh.

“Hakikat keduanya adalah satu. Mereka yang berpendapat demikian adalah jumhur (mayoritas) ulama,” ungkap Ibnul Qayyim.

Meskipun demikian, dalam penggunaan kata nafs dan ruh terkadang memiliki maksud yang lain. Namun, yang dimaksud dalam kajian tazkiyatun nufus adalah ruh.

Makna ini telah didukung oleh banyak dalil, baik dari al-Qur’an maupun al-Hadits. Dalil-dalil tersebut menyebutkan kata nafs dengan makna ruh. Bahkan, disebut pula bahwa ruh ada yang baik (thayyibah) ada pula yang jelek (khabitsah).

Dalam sebuah hadits, Nabi ~shallallahu ‘alaihi wa sallam~ menceritakan proses pencabutan ruh seorang manusia oleh malaikat. Apabila manusia itu mukmin yang baik, malaikat mengatakan:

أَيَّتُهَا النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ، اخْرُجِي إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنَ اللهِ وَرِضْوَانٍ

“Wahai jiwa yang baik, keluarlah engkau menuju ampunan dari Allah ~subhanahu wa ta‘ala~ dan keridhaan-Nya.”

Lantas dibawalah nyawa tersebut oleh para malaikat ke langit, dengan bau yang sangat harum semerbak. Setiap kali melewati kumpulan para malaikat, mereka pun berkata:

مَا هَذَا الرُّوحُ الطَّيِّبُ؟

“Ruh siapakah yang baik ini?”

Para malaikat pembawa ruh tersebut mengatakan, “Fulan bin Fulan,” disebutlah namanya yang terbaik semasa hidup di dunia. Sebaliknya, apabila manusia itu adalah seorang kafir atau munafik, para malaikat mengatakan:

أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْخَبِيثَةُ اخْرُجِى إِلَى سَخَطٍ مِنَ اللهِ وَغَضَبٍ

“Wahai jiwa yang jelek, keluarlah menuju kemurkaan Allah ~subhanahu wa ta‘ala~ dan kemarahan-Nya.”

Para malaikat kemudian membawa ruh tersebut menuju langit, dengan bau yang sangat busuk. Setiap ruh tersebut melewati kumpulan para malaikat, mereka mengatakan:

مَا هَذَا الرُّوحُ الْخَبِيثُ؟

“Ruh siapa yang jelek ini?”

Para malaikat pembawa ruh tersebut menjawab, “Fulan bin Fulan,” dengan menyebutkan namanya yang terjelek ketika dia hidup di dunia.

Demikianlah Nabi ~shallallahu ‘alaihi wa sallam~ menjelaskan adanya jiwa yang baik dan jiwa yang buruk. Dalam hadits yang lain, beliau juga mengisyaratkan adanya ruh yang baik dan yang buruk.

الْأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ

“Ruh-ruh itu berkelompok-kelompok yang banyak. Yang cocok di antara mereka akan saling sepakat, dan yang tidak cocok akan saling menjauh.” [Sahih, HR. Muslim]

Ulama menjelaskan:

“Yang baik akan cenderung kepada yang baik, dan yang jelek akan cenderung kepada yang jelek.” [Syarah Jami’ Shagir, an-Nihayah fi Gharibil Hadits, dll.]

Oleh karena itulah, dalam pembukaan khutbah, dahulu Nabi ~shallallahu ‘alaihi wa sallam~ sering berlindung kepada Allah ~subhanahu wa ta‘ala~ dari kejelekan jiwa.

Sabdanya:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا

“Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah, kami memohon pertolongan kepada-Nya, memohon ampunan kepada-Nya, dan memohon perlindungan dari kejelekan-kejelekan jiwa kami.” [Sahih, HR. Abu Dawud dan yang lain]

Beliau ~shallallahu ‘alaihi wa sallam~ pun mengajari seseorang untuk berdoa:

اللَّهُمَّ قِنِي شَرَّ نَفْسِي وَاعْزِمْ لِي عَلَى أَرْشَدِ أَمْرِي

“Ya Allah, lindungilah aku dari kejahatan jiwaku, dan kokohkan tekadku pada urusanku yang paling lurus.”

Masih ada lagi doa-doa lain untuk minta perlindungan kepada Allah ~subhanahu wa ta‘ala~ dari jiwa yang jelek. Melihat kenyataan yang ada, tentu amat penting bagi kita untuk senantiasa mengontrol kondisi jiwa kita serta mengusahakan segala hal untuk menggapai kesucian jiwa dan membebaskannya dari segala yang mengotorinya.

Ibnul Jauzi ~rahimahullah~ mengatakan saat mengomentari hadits bahwa ruh itu berkelompok-kelompok:

“Diambil dari hadits tersebut sebuah faedah, yaitu apabila seseorang mendapatkan pada jiwanya sikap lari dari seorang yang saleh, seyogianya ia mencari tahu sebabnya, lalu ia berusaha untuk membebaskan dirinya dari sifat tercela ini.” 

[Dinukil dari kitab Dalil al-Falihin]

Sumber:
| http://asysyariah.com
| Majalah AsySyariah Edisi 079

Iringi Keburukan Dengan Kebaikan

Oleh: Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman ~Hafidzahullah~
(Syarh Hadits Ke-18 Arbain An-Nawawiyyah)

عَنْ أَبِي ذَرّ جُنْدُبْ بْنِ جُنَادَةَ وَأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُعَاذ بْن جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ. [رواه الترمذي وقال حديث حسن وفي بعض النسخ حسن صحيح]

Dari Abu Dzar, Jundub bin Junadah dan Abu ‘Abdurrahman, Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau bersabda:

“Bertaqwalah kepada Allah di mana saja engkau berada dan susullah sesuatu perbuatan dosa dengan kebaikan, pasti akan menghapuskannya dan bergaullah sesama manusia dengan akhlaq yang baik”. [HR. Tirmidzi, ia telah berkata: Hadits ini hasan, pada lafazh lain derajatnya hasan shahih]


Sedikit Penjelasan tentang Sahabat yang Meriwayatkan Hadits

Abu Dzar al-Ghiffary berasal dari Ghiffaar (jalur yang dilewati penduduk Makkah jika akan berdagang ke Syam) , nama aslinya Jundub bin Junaadah adalah orang ke-5 yang masuk Islam saat Nabi masih berada di Makkah dan berdakwah secara sembunyi. Beliaulah orang pertama yang mengucapkan salam secara Islam kepada Nabi. Selama masa mencari Nabi di Makkah beliau tinggal di dekat Ka’bah selama 15 hari tidak makan dan minum apapun kecuali air zam-zam hingga menjadi gemuk. Setelah bertemu Nabi dan masuk Islam beliau kembali pada kaumnya, mengajarkan Islam kepada mereka, dan tinggal di sana. Setelah perang Uhud, barulah Abu Dzar bisa menyusul Nabi hijrah ke Madinah.

Sedangkan Muadz bin Jabal adalah Sahabat Nabi yang paling mengetahui tentang halal dan haram [HR Ibnu Hibban]. Nabi juga memerintahkan untuk mengambil (ilmu) al-Quran dari 4 orang, yaitu : Ibnu Mas’ud, Ubay bin Ka’ab, Muadz bin Jabal dan Salim maula Abi Hudzaifah [HR Al-Bukhari]. Muadz bin Jabal juga diutus Nabi ke Yaman untuk berdakwah di sana.


PENJELASAN UMUM MAKNA HADITS

Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam memberikan bimbingan dalam 3 hal:
---» Bertakwa kepada Allah di manapun kita berada. Di waktu sendirian maupun di tengah keramaian. Di setiap waktu dan tempat.

---» Jika suatu ketika kita melakukan dosa, susulkanlah / iringi dengan banyak perbuatan ibadah dan kebaikan, agar bisa menghapus dosa itu.

---» Bergaullah sesama manusia dengan akhlak yang baik


Definisi Taqwa

Thalq bin Habiib(seorang Tabi’i, salah satu murid Sahabat Nabi Ibnu Abbas) menjelaskan definisi taqwa:

“Amalan ketaatan kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah dengan mengharap pahala Allah dan menjauhi kemaksiatan-kemaksiatan kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah dengan perasaan takut dari adzab Allah.”

Banyak para Ulama’ yang memuji definisi ini di antaranya al-Imam adz-Dzahaby, kemudian beliau mensyarah (menjelaskan) maksud dari definisi tersebut dalam Siyaar A’laamin Nubalaa’ (4/601).

Beberapa poin penting dari definisi taqwa menurut Thalq bin Habiib tersebut:
  • Taqwa adalah amalan ketaatan kepada Allah dan menjauhi kemaksiatan kepada Allah.
  • Taqwa harus berupa amal perbuatan, tidak cukup hanya dalam hati atau ucapan saja.
  • Taqwa harus didasarkan cahaya dari Allah, yaitu ilmu syar’i dan ittiba’
    (mengikuti Sunnah Nabi).
  • Tidak mungkin seseorang bisa bertakwa kepada Allah tanpa ilmu. Dengan ilmu ia akan tahu mana hal-hal yang diperintah Allah (wajib atau sunnah), yang dilarang Allah (haram atau makruh), dan mana yang boleh dikerjakan (mubah).
  • Seseorang bisa beribadah kepada Allah hanya dengan tuntunan dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam.
  • Taqwa harus didasari keikhlasan melakukannya karena Allah bukan karena tendensi yang lain. Ia jalankan ketaatan karena mengharap pahala Allah, dan ia tinggalkan kemaksiatan karena takut dari adzab Allah.


Iringilah Perbuatan Dosa dengan Kebaikan-Kebaikan Niscaya akan Menghapus Dosa Tersebut

Amal ibadah yang dikerjakan dengan ikhlas dan sesuai dengan Sunnah Rasul selain menambah pahala juga bisa menghapus dosa sebelumnya. Di antaranya adalah sholat, puasa, shodaqoh, umrah, amar ma’ruf nahi munkar, duduk di majelis ta’lim, dan semisalnya.

الصَّلَوَاتُ اْلخَمْسُ وَاْلجُمُعَةُ إِلَى اْلجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَ اْلكَبَائِر (رواه مسلم)

“(antara) sholat lima waktu (yang satu dengan berikutnya), Jumat dengan Jumat, Romadlon dengan Romadlon, sebagai penghapus dosa di antaranya jika dosa-dosa besar ditinggalkan.” [HR Muslim]

فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَنَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَجَارِهِ يُكَفِّرُهَا الصِّيَامُ وَالصَّلَاةُ وَالصَّدَقَةُ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ

“Fitnah yang dialami seorang laki-laki pada keluarga, harta, diri, dan tetangganya dihapuskan oleh puasa, sholat, shodaqoh, dan amar ma’ruf nahi munkar.” [HR Muslim]

Namun, yang bisa dihapus dengan perbuatan-perbuatan baik (ibadah) itu adalah untuk dosa-dosa kecil saja, sedangkan dosa besar hanya bisa dihapus dengan taubat nashuha. Syarat taubat nashuha adalah bertaubat dengan ikhlas karena Allah semata, menyesal secara sungguh atas perbuatannya, meninggalkan perbuatan maksiat tersebut, bertekad kuat untuk tidak mengulangi lagi selama-lamanya, dan jika terkait dengan hak hamba Allah yang lain, ia harus meminta maaf (minta dihalalkan).

Apa perbedaan dosa besar dengan dosa kecil? Dosa besar adalah segala macam perbuatan atau ucapan yang dilarang dan dibenci Allah dan diancam dalam dalil-dalil alQuran atau hadits dengan adzab neraka, laknat Allah, kemurkaan Allah, tidak akan masuk surga, tidak termasuk orang beriman, Nabi berlepas diri dari pelakunya, atau dosa yang ditegakkan hukum had di dunia, seperti membunuh, berzina, mencuri, dan semisalnya. Sedangkan dosa kecil adalah sesuatu hal yang dibenci atau dilarang Allah dan Rasul-Nya namun tidak disertai dengan ancaman-ancaman seperti dalam dosa besar.

Namun, harus dipahami bahwa suatu dosa yang asalnya kecil bisa menjadi besar jika dilakukan terus menerus dan dianggap remeh.

Sahabat Nabi Anas bin Malik menyatakan:

لاَ صَغِيْرَةَ مَعَ اْلإِصْرَارِ

“Tidak ada dosa kecil jika dilakukan secara terus menerus.” [Riwayat ad-Dailamy dan al-Iraqy menyatakan bahwa sanadnya jayyid (baik)]

Rasulullah ~shallallaahu ‘alaihi wa sallam~ bersabda:

إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ فَإِنَّهُنَّ يَجْتَمِعْنَ عَلَى الرَّجُلِ حَتَّى يُهْلِكْنَهُ

“Hati-hatilah kalian dari dosa yang diremehkan (dosa kecil) karena dosa itu bisa berkumpul pada seseorang hingga membinasakannya.” [HR Ahmad, At-Thabarany, Al-Baihaqy, dinyatakan oleh al-Iraqy bahwa sanadnya jayyid (baik)]


Majelis Ilmu Menghapus Dosa dan Menggantikan Keburukan Menjadi Kebaikan

Duduk di majelis ta’lim yang di dalamnya dibahas ayat-ayat al-Quran dan hadits-hadits yang shohih dengan pemahaman Salafus Sholeh, bisa menyebabkan dosa terampuni. Bahkan keburukan-keburukan diganti dengan kebaikan.

مَا مِنْ قَوْمٍ اجْتَمَعُوا يَذْكُرُونَ اللَّهَ لاَ يُرِيدُونَ بِذَلِكَ إِلاَّ وَجْهَهُ ، إِلاَّ نَادَاهُمْ مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ أَنْ قُومُوا مَغْفُورًا لَكُمْ قَدْ بُدِّلَتْ سَيِّئَاتُكُمْ حَسَنَاتٍ

“Tidaklah suatu kaum berkumpul mengingat Allah,  tidak menginginkan kecuali Wajah-Nya, kecuali akan ada penyeru dari langit: Bangkitlah dalam keadaan diampuni, keburukan-keburukan kalian telah diganti dengan kebaikan.” [HR Ahmad, dishahihkan oleh Syaikh  al-Albany]

Atha’ bin Abi Robaah –salah seorang tabi’i (murid Sahabat Nabi Ibnu Abbas,  Ibnu Umar, Abu Hurairah) berkata:

“Barangsiapa yang duduk di (satu) majelis dzikir, Allah akan hapuskan baginya 10 majelis batil (yang pernah diikutinya). Jika majelis dzikir itu dilakukan fii sabiilillah, bisa menghapus 700 majelis kebatilan (yang pernah diikutinya).”

Abu Hazzaan berkata:

“Aku bertanya kepada Atha’ bin Abi Robaah, ‘Apa yang dimaksud dengan majelis dzikir?’ Atho’ menjelaskan: ‘(majelis dzikir) adalah majelis (yang menjelaskan) halal dan haram, tentang bagaimana sholat, berpuasa, menikah, thalak, dan jual beli’.” [Hilyatul Awliyaa’ karya Abu Nu’aim (3/313), al-Bidayah wanNihaayah karya Ibnu Katsir(9/336)]


Akhlak yang Baik

Para Ulama’ Salaf  mendefinisikan akhlaq yang baik, di antaranya:

Al-Hasan al-Bashri mengatakan :
“Akhlaq yang baik adalah dermawan, banyak memberi bantuan, dan bersikap ihtimaal (memaafkan).”

Asy-Sya’bi menjelaskan:
“Akhlaq yang baik adalah suka memberi pertolongan dan bermuka manis.”

Ibnul Mubaarok mengatakan:
“Akhlaq yang baik adalah bermuka manis, suka memberi bantuan (ma’ruf) , dan menahan diri untuk tidak mengganggu/menyakiti orang lain.”

[Jaami’ul ‘Uluum wal Hikaam karya Ibnu Rajab juz 1 hal. 454-457]

Keutamaan akhlaq yang baik banyak disebutkan oleh Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam dalam hadits beliau:

أَكْمَلُ اْلمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya.” [HR Ahmad, Abu Dawud, AtTirmidzi, al-Hakim dan dishahihkan oleh adz-Dzahaby]

إِنَّ اْلمُؤْمِنَ لَيُدْركُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَاتِ الصَّائِمِ وَاْلقَائِمِ

“Sesungguhnya seorang mukmin dengan kebaikan akhlaqnya bisa mencapai derajat orang-orang yang (banyak) berpuasa dan (banyak) melakukan qiyamullail.” [HR Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim, dishohihkan oleh adz-Dzahaby]

أَكْثَر مَا يُدْخِلُ اْلجَنَّةَ تَقْوَى اللهِ وَحُسْنُ اْلخُلُقِ

“(Hal) yang paling banyak memasukkan orang ke dalam surga adalah taqwa kepada Allah dan akhlaq yang baik.” [HR Ahmad, AtTirmidzi, Ibnu Majah, dihasankan oleh Syaikh al-Albany]

أَنَا زَعِيْمُ بَيْتٍ فِي أَعْلَى اْلجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ

“Aku menjamin rumah di bagian surga yang tertinggi bagi orang yang baik akhlaqnya.” [HR Abu Dawud dan AtThobrooni dan dihasankan oleh Syaikh al-Albany]


Sumber:
| http://www.salafy.or.id

Iringi Keburukan Dengan Kebaikan

Oleh: Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman ~Hafidzahullah~
(Syarh Hadits Ke-18 Arbain An-Nawawiyyah)

عَنْ أَبِي ذَرّ جُنْدُبْ بْنِ جُنَادَةَ وَأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُعَاذ بْن جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ. [رواه الترمذي وقال حديث حسن وفي بعض النسخ حسن صحيح]

Dari Abu Dzar, Jundub bin Junadah dan Abu ‘Abdurrahman, Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau bersabda:

“Bertaqwalah kepada Allah di mana saja engkau berada dan susullah sesuatu perbuatan dosa dengan kebaikan, pasti akan menghapuskannya dan bergaullah sesama manusia dengan akhlaq yang baik”. [HR. Tirmidzi, ia telah berkata: Hadits ini hasan, pada lafazh lain derajatnya hasan shahih]


Sedikit Penjelasan tentang Sahabat yang Meriwayatkan Hadits

Abu Dzar al-Ghiffary berasal dari Ghiffaar (jalur yang dilewati penduduk Makkah jika akan berdagang ke Syam) , nama aslinya Jundub bin Junaadah adalah orang ke-5 yang masuk Islam saat Nabi masih berada di Makkah dan berdakwah secara sembunyi. Beliaulah orang pertama yang mengucapkan salam secara Islam kepada Nabi. Selama masa mencari Nabi di Makkah beliau tinggal di dekat Ka’bah selama 15 hari tidak makan dan minum apapun kecuali air zam-zam hingga menjadi gemuk. Setelah bertemu Nabi dan masuk Islam beliau kembali pada kaumnya, mengajarkan Islam kepada mereka, dan tinggal di sana. Setelah perang Uhud, barulah Abu Dzar bisa menyusul Nabi hijrah ke Madinah.

Sedangkan Muadz bin Jabal adalah Sahabat Nabi yang paling mengetahui tentang halal dan haram [HR Ibnu Hibban]. Nabi juga memerintahkan untuk mengambil (ilmu) al-Quran dari 4 orang, yaitu : Ibnu Mas’ud, Ubay bin Ka’ab, Muadz bin Jabal dan Salim maula Abi Hudzaifah [HR Al-Bukhari]. Muadz bin Jabal juga diutus Nabi ke Yaman untuk berdakwah di sana.


PENJELASAN UMUM MAKNA HADITS

Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam memberikan bimbingan dalam 3 hal:
---» Bertakwa kepada Allah di manapun kita berada. Di waktu sendirian maupun di tengah keramaian. Di setiap waktu dan tempat.

---» Jika suatu ketika kita melakukan dosa, susulkanlah / iringi dengan banyak perbuatan ibadah dan kebaikan, agar bisa menghapus dosa itu.

---» Bergaullah sesama manusia dengan akhlak yang baik


Definisi Taqwa

Thalq bin Habiib(seorang Tabi’i, salah satu murid Sahabat Nabi Ibnu Abbas) menjelaskan definisi taqwa:

“Amalan ketaatan kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah dengan mengharap pahala Allah dan menjauhi kemaksiatan-kemaksiatan kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah dengan perasaan takut dari adzab Allah.”

Banyak para Ulama’ yang memuji definisi ini di antaranya al-Imam adz-Dzahaby, kemudian beliau mensyarah (menjelaskan) maksud dari definisi tersebut dalam Siyaar A’laamin Nubalaa’ (4/601).

Beberapa poin penting dari definisi taqwa menurut Thalq bin Habiib tersebut:
  • Taqwa adalah amalan ketaatan kepada Allah dan menjauhi kemaksiatan kepada Allah.
  • Taqwa harus berupa amal perbuatan, tidak cukup hanya dalam hati atau ucapan saja.
  • Taqwa harus didasarkan cahaya dari Allah, yaitu ilmu syar’i dan ittiba’
    (mengikuti Sunnah Nabi).
  • Tidak mungkin seseorang bisa bertakwa kepada Allah tanpa ilmu. Dengan ilmu ia akan tahu mana hal-hal yang diperintah Allah (wajib atau sunnah), yang dilarang Allah (haram atau makruh), dan mana yang boleh dikerjakan (mubah).
  • Seseorang bisa beribadah kepada Allah hanya dengan tuntunan dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam.
  • Taqwa harus didasari keikhlasan melakukannya karena Allah bukan karena tendensi yang lain. Ia jalankan ketaatan karena mengharap pahala Allah, dan ia tinggalkan kemaksiatan karena takut dari adzab Allah.


Iringilah Perbuatan Dosa dengan Kebaikan-Kebaikan Niscaya akan Menghapus Dosa Tersebut

Amal ibadah yang dikerjakan dengan ikhlas dan sesuai dengan Sunnah Rasul selain menambah pahala juga bisa menghapus dosa sebelumnya. Di antaranya adalah sholat, puasa, shodaqoh, umrah, amar ma’ruf nahi munkar, duduk di majelis ta’lim, dan semisalnya.

الصَّلَوَاتُ اْلخَمْسُ وَاْلجُمُعَةُ إِلَى اْلجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَ اْلكَبَائِر (رواه مسلم)

“(antara) sholat lima waktu (yang satu dengan berikutnya), Jumat dengan Jumat, Romadlon dengan Romadlon, sebagai penghapus dosa di antaranya jika dosa-dosa besar ditinggalkan.” [HR Muslim]

فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَنَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَجَارِهِ يُكَفِّرُهَا الصِّيَامُ وَالصَّلَاةُ وَالصَّدَقَةُ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ

“Fitnah yang dialami seorang laki-laki pada keluarga, harta, diri, dan tetangganya dihapuskan oleh puasa, sholat, shodaqoh, dan amar ma’ruf nahi munkar.” [HR Muslim]

Namun, yang bisa dihapus dengan perbuatan-perbuatan baik (ibadah) itu adalah untuk dosa-dosa kecil saja, sedangkan dosa besar hanya bisa dihapus dengan taubat nashuha. Syarat taubat nashuha adalah bertaubat dengan ikhlas karena Allah semata, menyesal secara sungguh atas perbuatannya, meninggalkan perbuatan maksiat tersebut, bertekad kuat untuk tidak mengulangi lagi selama-lamanya, dan jika terkait dengan hak hamba Allah yang lain, ia harus meminta maaf (minta dihalalkan).

Apa perbedaan dosa besar dengan dosa kecil? Dosa besar adalah segala macam perbuatan atau ucapan yang dilarang dan dibenci Allah dan diancam dalam dalil-dalil alQuran atau hadits dengan adzab neraka, laknat Allah, kemurkaan Allah, tidak akan masuk surga, tidak termasuk orang beriman, Nabi berlepas diri dari pelakunya, atau dosa yang ditegakkan hukum had di dunia, seperti membunuh, berzina, mencuri, dan semisalnya. Sedangkan dosa kecil adalah sesuatu hal yang dibenci atau dilarang Allah dan Rasul-Nya namun tidak disertai dengan ancaman-ancaman seperti dalam dosa besar.

Namun, harus dipahami bahwa suatu dosa yang asalnya kecil bisa menjadi besar jika dilakukan terus menerus dan dianggap remeh.

Sahabat Nabi Anas bin Malik menyatakan:

لاَ صَغِيْرَةَ مَعَ اْلإِصْرَارِ

“Tidak ada dosa kecil jika dilakukan secara terus menerus.” [Riwayat ad-Dailamy dan al-Iraqy menyatakan bahwa sanadnya jayyid (baik)]

Rasulullah ~shallallaahu ‘alaihi wa sallam~ bersabda:

إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ فَإِنَّهُنَّ يَجْتَمِعْنَ عَلَى الرَّجُلِ حَتَّى يُهْلِكْنَهُ

“Hati-hatilah kalian dari dosa yang diremehkan (dosa kecil) karena dosa itu bisa berkumpul pada seseorang hingga membinasakannya.” [HR Ahmad, At-Thabarany, Al-Baihaqy, dinyatakan oleh al-Iraqy bahwa sanadnya jayyid (baik)]


Majelis Ilmu Menghapus Dosa dan Menggantikan Keburukan Menjadi Kebaikan

Duduk di majelis ta’lim yang di dalamnya dibahas ayat-ayat al-Quran dan hadits-hadits yang shohih dengan pemahaman Salafus Sholeh, bisa menyebabkan dosa terampuni. Bahkan keburukan-keburukan diganti dengan kebaikan.

مَا مِنْ قَوْمٍ اجْتَمَعُوا يَذْكُرُونَ اللَّهَ لاَ يُرِيدُونَ بِذَلِكَ إِلاَّ وَجْهَهُ ، إِلاَّ نَادَاهُمْ مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ أَنْ قُومُوا مَغْفُورًا لَكُمْ قَدْ بُدِّلَتْ سَيِّئَاتُكُمْ حَسَنَاتٍ

“Tidaklah suatu kaum berkumpul mengingat Allah,  tidak menginginkan kecuali Wajah-Nya, kecuali akan ada penyeru dari langit: Bangkitlah dalam keadaan diampuni, keburukan-keburukan kalian telah diganti dengan kebaikan.” [HR Ahmad, dishahihkan oleh Syaikh  al-Albany]

Atha’ bin Abi Robaah –salah seorang tabi’i (murid Sahabat Nabi Ibnu Abbas,  Ibnu Umar, Abu Hurairah) berkata:

“Barangsiapa yang duduk di (satu) majelis dzikir, Allah akan hapuskan baginya 10 majelis batil (yang pernah diikutinya). Jika majelis dzikir itu dilakukan fii sabiilillah, bisa menghapus 700 majelis kebatilan (yang pernah diikutinya).”

Abu Hazzaan berkata:

“Aku bertanya kepada Atha’ bin Abi Robaah, ‘Apa yang dimaksud dengan majelis dzikir?’ Atho’ menjelaskan: ‘(majelis dzikir) adalah majelis (yang menjelaskan) halal dan haram, tentang bagaimana sholat, berpuasa, menikah, thalak, dan jual beli’.” [Hilyatul Awliyaa’ karya Abu Nu’aim (3/313), al-Bidayah wanNihaayah karya Ibnu Katsir(9/336)]


Akhlak yang Baik

Para Ulama’ Salaf  mendefinisikan akhlaq yang baik, di antaranya:

Al-Hasan al-Bashri mengatakan :
“Akhlaq yang baik adalah dermawan, banyak memberi bantuan, dan bersikap ihtimaal (memaafkan).”

Asy-Sya’bi menjelaskan:
“Akhlaq yang baik adalah suka memberi pertolongan dan bermuka manis.”

Ibnul Mubaarok mengatakan:
“Akhlaq yang baik adalah bermuka manis, suka memberi bantuan (ma’ruf) , dan menahan diri untuk tidak mengganggu/menyakiti orang lain.”

[Jaami’ul ‘Uluum wal Hikaam karya Ibnu Rajab juz 1 hal. 454-457]

Keutamaan akhlaq yang baik banyak disebutkan oleh Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam dalam hadits beliau:

أَكْمَلُ اْلمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya.” [HR Ahmad, Abu Dawud, AtTirmidzi, al-Hakim dan dishahihkan oleh adz-Dzahaby]

إِنَّ اْلمُؤْمِنَ لَيُدْركُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَاتِ الصَّائِمِ وَاْلقَائِمِ

“Sesungguhnya seorang mukmin dengan kebaikan akhlaqnya bisa mencapai derajat orang-orang yang (banyak) berpuasa dan (banyak) melakukan qiyamullail.” [HR Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim, dishohihkan oleh adz-Dzahaby]

أَكْثَر مَا يُدْخِلُ اْلجَنَّةَ تَقْوَى اللهِ وَحُسْنُ اْلخُلُقِ

“(Hal) yang paling banyak memasukkan orang ke dalam surga adalah taqwa kepada Allah dan akhlaq yang baik.” [HR Ahmad, AtTirmidzi, Ibnu Majah, dihasankan oleh Syaikh al-Albany]

أَنَا زَعِيْمُ بَيْتٍ فِي أَعْلَى اْلجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ

“Aku menjamin rumah di bagian surga yang tertinggi bagi orang yang baik akhlaqnya.” [HR Abu Dawud dan AtThobrooni dan dihasankan oleh Syaikh al-Albany]


Sumber:
| http://www.salafy.or.id

Pengajaran Akhlak Rasulullah ~shallallahu ‘alaihi wa sallam~

Oleh: Ustadz Abu Faruq Ayip Syafruddin

Rasulullah ~shallallahu ‘alaihi wa sallam~ adalah contoh panutan dalam setiap aspek kehidupan. Beliau ~shallallahu ‘alaihi wa sallam~ senantiasa memberikan contoh aplikatif sehingga mudah untuk di laksanakan setiap orang. Bagaimana beliau ~shallallahu ‘alaihi wa sallam~ berinteraksi dengan anak -anak, merintahkan meraka, bermain bersama dengan mereka, berlemah lembut pada mereka, tidak pernah marah, membentak apalagi memukul. Rasulullah ~shallallahu ‘alaihi wa sallam~ pun suka bercanda dengan anak-anak dan bermuamalah secara akrab.

Dari Anas Bin Malik Radhiyallahu’anhu ia berkata: “saya membantu Rasulullah ~shallallahu ‘alaihi wa sallam~ selama sepuluh tahun. Demi Allah , beliau tidak pernah berkata kasar kepadaku. Tidak pernah beliau berkata, ‘kenapa kamu melakukan demikian’ atau ‘kenapa tidak engkau lakukan demikian’.” [HR Bukhari Muslim dan selain keduanya]

Dalam Riwayat lain, dari ‘Aisyah ~radhiyallahu ‘anha~ mengungkapkan bahwa Rasulullah ~shallallahu ‘alaihi wa sallam~ tak pernah memukul kepada istri maupun pembantu, beliau lakukan memukul hanya saat jihad (berperang) di jalan Allah saja. [HR Muslim]

Beliau adalah orang yang paling baik akhlaknya. Dalam riwayat Muslim di sebutkan, hadist dari Anas bin Malik ~radhiyallahu ‘anhu~, Anas bin Malik berpesan, satu hari beliau mengutuskan untuk satu keperluan. Saya menjawab, ‘Demi Allah, aku tak akan pergi’.  Tetapi dalam hatiku tetap akan pergi menjalankan perintah Nabi. Saya pun keluar melewati anak-anak yang sedang bermain di pasar. ternyata Rasulullah sudah berdiri di belakang dan memegang tengkelukku.

Aku melihat ke arah beliau dan beliau tertawa. Kemudian Beliau bersabda, “Hai Unais pergilah melaksanakan perintahku.” Aku pun menjawab, “Ya aku akan pergi Wahai Rasulullah.” Demi Allah aku menjadi pelayan beliau selama sembilan tahun, tidak pernah aku mendengar Beliau ~shallallahu ‘alaihi wa sallam~ mengatakan sesuatu yang aku lakukan, “kenapa engkau melakukan demikian.” Tidak juga sesuatu yang “tidak aku lakukan” kenapa engkau tidak lakukan demikian?

Itulah pribadai pendidik nan agung!

Wallallahu a’lam.


Sumber:
| http://www.salafy.or.id/pengajaran-akhlak-ala-rasulullah-shallallahualaihiwassalam/

Pengajaran Akhlak Rasulullah ~shallallahu ‘alaihi wa sallam~

Oleh: Ustadz Abu Faruq Ayip Syafruddin

Rasulullah ~shallallahu ‘alaihi wa sallam~ adalah contoh panutan dalam setiap aspek kehidupan. Beliau ~shallallahu ‘alaihi wa sallam~ senantiasa memberikan contoh aplikatif sehingga mudah untuk di laksanakan setiap orang. Bagaimana beliau ~shallallahu ‘alaihi wa sallam~ berinteraksi dengan anak -anak, merintahkan meraka, bermain bersama dengan mereka, berlemah lembut pada mereka, tidak pernah marah, membentak apalagi memukul. Rasulullah ~shallallahu ‘alaihi wa sallam~ pun suka bercanda dengan anak-anak dan bermuamalah secara akrab.

Dari Anas Bin Malik Radhiyallahu’anhu ia berkata: “saya membantu Rasulullah ~shallallahu ‘alaihi wa sallam~ selama sepuluh tahun. Demi Allah , beliau tidak pernah berkata kasar kepadaku. Tidak pernah beliau berkata, ‘kenapa kamu melakukan demikian’ atau ‘kenapa tidak engkau lakukan demikian’.” [HR Bukhari Muslim dan selain keduanya]

Dalam Riwayat lain, dari ‘Aisyah ~radhiyallahu ‘anha~ mengungkapkan bahwa Rasulullah ~shallallahu ‘alaihi wa sallam~ tak pernah memukul kepada istri maupun pembantu, beliau lakukan memukul hanya saat jihad (berperang) di jalan Allah saja. [HR Muslim]

Beliau adalah orang yang paling baik akhlaknya. Dalam riwayat Muslim di sebutkan, hadist dari Anas bin Malik ~radhiyallahu ‘anhu~, Anas bin Malik berpesan, satu hari beliau mengutuskan untuk satu keperluan. Saya menjawab, ‘Demi Allah, aku tak akan pergi’.  Tetapi dalam hatiku tetap akan pergi menjalankan perintah Nabi. Saya pun keluar melewati anak-anak yang sedang bermain di pasar. ternyata Rasulullah sudah berdiri di belakang dan memegang tengkelukku.

Aku melihat ke arah beliau dan beliau tertawa. Kemudian Beliau bersabda, “Hai Unais pergilah melaksanakan perintahku.” Aku pun menjawab, “Ya aku akan pergi Wahai Rasulullah.” Demi Allah aku menjadi pelayan beliau selama sembilan tahun, tidak pernah aku mendengar Beliau ~shallallahu ‘alaihi wa sallam~ mengatakan sesuatu yang aku lakukan, “kenapa engkau melakukan demikian.” Tidak juga sesuatu yang “tidak aku lakukan” kenapa engkau tidak lakukan demikian?

Itulah pribadai pendidik nan agung!

Wallallahu a’lam.


Sumber:
| http://www.salafy.or.id/pengajaran-akhlak-ala-rasulullah-shallallahualaihiwassalam/

Berhias Dengan Akhlak Mulia

Di dalam Al-Qur`an banyak dijumpai ayat-ayat yang memerintahkan agar manusia memiliki akhlak yang baik. Akhlak yang baik (akhlakul karimah) sangat diperlukan dalam menjalani kehidupan yang kadang dihadapkan dengan berbagai cobaan. Dengan akhlak yang baik, berbagai bentuk cobaan hidup bisa dijalani sehingga kita senantiasa diridhai Allah.

Terkadang dalam kehidupan sehari-hari, kita harus dihadapkan dengan tantangan dan gesekan-gesekan hidup. Gesekan itu bisa datang dari diri kita sendiri atau dari orang lain. Tak jarang kita dihadapkan dengan orang-orang terdekat seperti kedua orang tua, sanak famili, teman-teman, dan bahkan dari seluruh masyarakat.

Ini adalah suatu kemestian, terlebih kalau kita hidup bersama orang lain. Yang demikian itu terjadi karena kita tidak memiliki hati yang satu dan tujuan yang sama. Itulah yang mengakibatkan terjadinya gesekan-gesekan dalam hidup. Sebagai individu saja, kita sering mengalami problema, maka terlebih lagi kalau terkait dengan orang lain. Oleh karena itu, Islam mengajarkan akhlak yang mulia untuk menghadapi semua itu dan bergaul bersama orang lain dengan pergaulan yang baik.

Sudahkah Anda berbakti kepada kedua orang tua dan tahukah hukumnya?

---» Allah subhanahu wa ta‘ala berfirman:

“Dan Rabb-mu telah memerintahkan kepadamu (agar kamu mengatakan kepada mereka) janganlah kalian menyembah kecuali hanya kepada-Nya dan agar kalian berbuat baik kepada kedua orang tua.” [Al-Isra`: 23]

Pernahkah anda kasihan terhadap orang yang mendapatkan musibah dan terdorong untuk segera membantunya?

---» Allah subhanahu wa ta‘ala berfirman:

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan dan janganlah kalian tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” [Al-Maidah: 2]

---» Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang memberikan kemudahan terhadap kesulitan saudaranya, niscaya Allah akan memberikan kemudahan baginya di dunia dan di akhirat.” [Shahih, HR. Muslim dari Abu Hurairah]

Bisakah Anda tawadhu’ (merendahkan diri) di hadapan saudara Anda?

---» Padahal Allah subhanahu wa ta‘ala berfirman:

“Dan rendahkanlah dirimu di hadapan orang-orang yang mengikutimu dari orang-orang yang beriman.” [Asy-Syu’ara`: 215]

Bisakah Anda menahan marah ketika melihat kekurangan pada diri saudara Anda?

---» Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Seseorang datang kepada Rasulullah lalu mengatakan: “Wahai Rasulullah!! Nasehatilah aku”. Rasulullah bersabda: “Janganlah kamu marah.” Orang tersebut mengulangi (pertanyaannya), Rasulullah tetap mengatakan: “Jangan kamu marah.” [Shahih, HR. Al-Bukhari]

Bisakah Anda menjadi orang pemaaf ketika saudaramu bersalah dan langsung meminta maaf?

---» Allah subhanahu wa ta‘ala berfirman:

“Jadilah engkau pemaaf dan serulah kepada kebajikan dan berpalinglah dari orang-orang jahil.” [Al-A’raf: 199]

Bisakah Anda menebar salam dan tersenyum di hadapan saudaramu?

---» Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabada:

“Hak orang muslim terhadap muslim lainya ada lima; menjawab salam, menjenguk orang yang sakit, mengantar jenazah, menjawab undangan dan menjawab orang yang bersin.” [Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyAllaahu ‘anhu]

Bisakah Anda lemah lembut di hadapan saudaramu?

---» Padahal Allah subhanahu wa ta‘ala berfirman:

“Maka dengan rahmat Allah-lah kamu menjadi lemah lembut kepada mereka dan jika kamu berlaku kasar terhadap mereka, niscaya mereka akan menyingkir dari sisimu.” [Ali ‘Imran: 159]

Pernahkah Anda sadar membaca Bismillah ketika ingin makan dan minum, dan bahwa makan dan minum dengan tangan kanan adalah wajib sementara dengan tangan kiri adalah haram?

---» Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Hai nak, bacalah bismillah dan makanlah dengan tangan kanan dan makanlah yang ada di sekitarmu.” [Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Dan pernahkah Anda sadar bahwa makan dan minum dengan tangan kiri adalah cara syaithan?

---» Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Maka sesungguhnya syaithan makan dan minum dengan tangan kiri.” [HR. Muslim]

Masuk ke dalam rumah dengan mengucapkan salam?

---» Allah subhanahu wa ta‘ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman janganlah kalian masuk ke rumah-rumah yang bukan rumah kalian sampai kalian meminta izin dan mengucapkan salam atas penghuninya.” [An-Nur: 28]

Sayangkah Anda kepada saudara Anda sesama muslim?

---» Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang tidak menyayangi manusia maka Allah tidak akan menyayanginya.” [Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Jarir bin Abdullah radhiyAllaahu ‘anhu]

Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan sebagian dari akhlak yang harus ada pada seseorang dan dalam hidup bermasyarakat.


Berakhlak Yang Baik

Kita menginginkan semua orang baik di hadapan kita dan menginginkan agar mereka cinta dan sayang. Kita berharap memiliki teman yang mengetahui jati diri kita, keluarga kita, dan berusaha meringankan beban hidup kita. Kita mencari teman yang bisa kita ajak menuju segala bentuk kebajikan. Kita ingin memiliki teman yang tawadhu’, lapang dada, penyayang, ramah tamah, ringan tangan, penyabar, yang suka mengingatkan ketika kita lupa dan yang menasehati ketika bersalah, selalu bermuka manis dan ceria, memiliki tutur kata yang baik, lemah lembut, dermawan, menerima kekurangan orang lain, pemaaf dan akhlak-akhlak baik lainnya.

Untuk mendapatkan hal yang demikian, tentu memiliki syarat-syarat yang harus dilakukan yaitu “Berakhlaklah dengan akhlak yang baik”. 

---» Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Bertakwalah di mana saja kamu berada dan susullah perbuatan jelek dengan perbuatan baik niscaya akan menghapuskan perbuatan jelek tersebut dan berakhlaklah kepada manusia dengan akhlak yang baik.” [Hasan, HR. At-Tirmidzi dari Mu’adz bin Jabal dan Abu Dzar radhiyAllaahu ‘anhu]

Dalam hadits ini ada beberapa pelajaran penting, di antaranya anjuran untuk selalu memberikan wasiat kepada saudaranya dan mengingatkan kewajiban-kewajibannya. Juga bahwa setiap orang harus selalu merasa diawasi oleh Allah subhanahu wa ta‘ala, perbuatan baik akan menghapuskan perbuatan jelek, dan bergaul dengan setiap orang dengan akhlak yang baik.

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh:
| Al-Ustadz Abdurrahman Lombok
| Majalah "Syariah" Edisi 1

Sumber:
| http://asysyariah.com/berhias-dengan-akhlak-mulia.html

Berhias Dengan Akhlak Mulia

Di dalam Al-Qur`an banyak dijumpai ayat-ayat yang memerintahkan agar manusia memiliki akhlak yang baik. Akhlak yang baik (akhlakul karimah) sangat diperlukan dalam menjalani kehidupan yang kadang dihadapkan dengan berbagai cobaan. Dengan akhlak yang baik, berbagai bentuk cobaan hidup bisa dijalani sehingga kita senantiasa diridhai Allah.

Terkadang dalam kehidupan sehari-hari, kita harus dihadapkan dengan tantangan dan gesekan-gesekan hidup. Gesekan itu bisa datang dari diri kita sendiri atau dari orang lain. Tak jarang kita dihadapkan dengan orang-orang terdekat seperti kedua orang tua, sanak famili, teman-teman, dan bahkan dari seluruh masyarakat.

Ini adalah suatu kemestian, terlebih kalau kita hidup bersama orang lain. Yang demikian itu terjadi karena kita tidak memiliki hati yang satu dan tujuan yang sama. Itulah yang mengakibatkan terjadinya gesekan-gesekan dalam hidup. Sebagai individu saja, kita sering mengalami problema, maka terlebih lagi kalau terkait dengan orang lain. Oleh karena itu, Islam mengajarkan akhlak yang mulia untuk menghadapi semua itu dan bergaul bersama orang lain dengan pergaulan yang baik.

Sudahkah Anda berbakti kepada kedua orang tua dan tahukah hukumnya?

---» Allah subhanahu wa ta‘ala berfirman:

“Dan Rabb-mu telah memerintahkan kepadamu (agar kamu mengatakan kepada mereka) janganlah kalian menyembah kecuali hanya kepada-Nya dan agar kalian berbuat baik kepada kedua orang tua.” [Al-Isra`: 23]

Pernahkah anda kasihan terhadap orang yang mendapatkan musibah dan terdorong untuk segera membantunya?

---» Allah subhanahu wa ta‘ala berfirman:

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan dan janganlah kalian tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” [Al-Maidah: 2]

---» Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang memberikan kemudahan terhadap kesulitan saudaranya, niscaya Allah akan memberikan kemudahan baginya di dunia dan di akhirat.” [Shahih, HR. Muslim dari Abu Hurairah]

Bisakah Anda tawadhu’ (merendahkan diri) di hadapan saudara Anda?

---» Padahal Allah subhanahu wa ta‘ala berfirman:

“Dan rendahkanlah dirimu di hadapan orang-orang yang mengikutimu dari orang-orang yang beriman.” [Asy-Syu’ara`: 215]

Bisakah Anda menahan marah ketika melihat kekurangan pada diri saudara Anda?

---» Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Seseorang datang kepada Rasulullah lalu mengatakan: “Wahai Rasulullah!! Nasehatilah aku”. Rasulullah bersabda: “Janganlah kamu marah.” Orang tersebut mengulangi (pertanyaannya), Rasulullah tetap mengatakan: “Jangan kamu marah.” [Shahih, HR. Al-Bukhari]

Bisakah Anda menjadi orang pemaaf ketika saudaramu bersalah dan langsung meminta maaf?

---» Allah subhanahu wa ta‘ala berfirman:

“Jadilah engkau pemaaf dan serulah kepada kebajikan dan berpalinglah dari orang-orang jahil.” [Al-A’raf: 199]

Bisakah Anda menebar salam dan tersenyum di hadapan saudaramu?

---» Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabada:

“Hak orang muslim terhadap muslim lainya ada lima; menjawab salam, menjenguk orang yang sakit, mengantar jenazah, menjawab undangan dan menjawab orang yang bersin.” [Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyAllaahu ‘anhu]

Bisakah Anda lemah lembut di hadapan saudaramu?

---» Padahal Allah subhanahu wa ta‘ala berfirman:

“Maka dengan rahmat Allah-lah kamu menjadi lemah lembut kepada mereka dan jika kamu berlaku kasar terhadap mereka, niscaya mereka akan menyingkir dari sisimu.” [Ali ‘Imran: 159]

Pernahkah Anda sadar membaca Bismillah ketika ingin makan dan minum, dan bahwa makan dan minum dengan tangan kanan adalah wajib sementara dengan tangan kiri adalah haram?

---» Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Hai nak, bacalah bismillah dan makanlah dengan tangan kanan dan makanlah yang ada di sekitarmu.” [Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Dan pernahkah Anda sadar bahwa makan dan minum dengan tangan kiri adalah cara syaithan?

---» Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Maka sesungguhnya syaithan makan dan minum dengan tangan kiri.” [HR. Muslim]

Masuk ke dalam rumah dengan mengucapkan salam?

---» Allah subhanahu wa ta‘ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman janganlah kalian masuk ke rumah-rumah yang bukan rumah kalian sampai kalian meminta izin dan mengucapkan salam atas penghuninya.” [An-Nur: 28]

Sayangkah Anda kepada saudara Anda sesama muslim?

---» Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang tidak menyayangi manusia maka Allah tidak akan menyayanginya.” [Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Jarir bin Abdullah radhiyAllaahu ‘anhu]

Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan sebagian dari akhlak yang harus ada pada seseorang dan dalam hidup bermasyarakat.


Berakhlak Yang Baik

Kita menginginkan semua orang baik di hadapan kita dan menginginkan agar mereka cinta dan sayang. Kita berharap memiliki teman yang mengetahui jati diri kita, keluarga kita, dan berusaha meringankan beban hidup kita. Kita mencari teman yang bisa kita ajak menuju segala bentuk kebajikan. Kita ingin memiliki teman yang tawadhu’, lapang dada, penyayang, ramah tamah, ringan tangan, penyabar, yang suka mengingatkan ketika kita lupa dan yang menasehati ketika bersalah, selalu bermuka manis dan ceria, memiliki tutur kata yang baik, lemah lembut, dermawan, menerima kekurangan orang lain, pemaaf dan akhlak-akhlak baik lainnya.

Untuk mendapatkan hal yang demikian, tentu memiliki syarat-syarat yang harus dilakukan yaitu “Berakhlaklah dengan akhlak yang baik”. 

---» Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Bertakwalah di mana saja kamu berada dan susullah perbuatan jelek dengan perbuatan baik niscaya akan menghapuskan perbuatan jelek tersebut dan berakhlaklah kepada manusia dengan akhlak yang baik.” [Hasan, HR. At-Tirmidzi dari Mu’adz bin Jabal dan Abu Dzar radhiyAllaahu ‘anhu]

Dalam hadits ini ada beberapa pelajaran penting, di antaranya anjuran untuk selalu memberikan wasiat kepada saudaranya dan mengingatkan kewajiban-kewajibannya. Juga bahwa setiap orang harus selalu merasa diawasi oleh Allah subhanahu wa ta‘ala, perbuatan baik akan menghapuskan perbuatan jelek, dan bergaul dengan setiap orang dengan akhlak yang baik.

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh:
| Al-Ustadz Abdurrahman Lombok
| Majalah "Syariah" Edisi 1

Sumber:
| http://asysyariah.com/berhias-dengan-akhlak-mulia.html

(Bhgn. 1) Dakwah Kepada As-Sunnah dan Tahdzir dari Bid’ah

Merupakan salah satu prinsip utama Ahlus Sunnah wal Jama’ah para pengikut salaf ialah dakwah kepada As-Sunnah An-Nabawiyah. Di mana hal ini adalah landasan utama persatuan dan kesatuan serta sebab bersatunya kaum muslimin. Bahkan sebagai perlindungan dan keselamatan di dunia dan akhirat.

Sebagaimana wajibnya untuk tetap iltizam dengan As-Sunnah, maka wajib pula mengajak manusia kembali kepadanya. Di samping itu juga mentahdzir dari semua hal yang menyelisihinya baik berupa pemukiran orang tertentu atau syubhat dan aturan-aturan organisasi.

As-Sunnah adalah asas persatuan, sumber kemuliaan, kekuatan dan kebaikan dunia serta akhirat.

Rasulullah adalah teladan dalam agama ini. Kemudian para sahabatnya, karena Allah dan Rasul-Nya telah memberikan tazkiyah (pujian) kepada mereka. Dan rasul-Nya wafat meninggalkan dunia ini dalam keadaan ridho kepada para sahabatnya.

Maka jelaslah, al haq dan hidayah serta bimbingan beredar bersama mereka, di manapun mereka berada. Mereka tidak akan bersatu (sepakat) di atas kebatilan. Berbeda dengan orang-orang selain mereka, dari berbagai kelompok sempalan yang ada, karena mereka justeru bersatu di atas kebatilan dan kesesatan.

---» Syaikul Islam Ibnu Taimiyah menerangkan:

“Tadak ada pembelaan terhadap sosok tertentu secara umum dan mutlak kecuali kepada Rasulullah. Tidak pula kepada kelompok tertentu kecuali kepada para sahabat. Kerena sesungguhnya al-huda beredar bersama Rasulullah di manapun beliau berada. Begitu pula halnya para sahabatnya.”

Sejumlah nash syari’at telah menguraikan anjuran dan dorongan untuk mengikuti prinsip mulia ini. Prinsip yang menjadi acuan persatuan dan kesepakatan di atas As Sunnah dan jalan yang terang. Sehingga, tidak ada hujjah melainkan pada orang yang menjadikannya sebagai hujjah dan tidak ada ishmah (keterjagaan) dari penyimpangan kecuali bagi mereka yang berpegang teguh dengan As Sunnah, dalam ilmu dan amal, ataupun pendalilan, serta pemahaman dan ittiba’.

---» Allah berfirman:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” [Al-Ahzab: 21]

Uswah adalah teladan, maka tidak ada telaadan (yang baik) kecuali beliau, tidak ada ittiba’ kecuali beliau, dan tidak ada keselamatan kecuali berjalan di atas jalan yang dilaluinya.

---» Allah berfirman:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Ali Imran 31]

Maka tidaklah benar pengakuan cinta seseorang kecuali dia membuktikannya dan meluruskan jalannya, yaitu dengan ittiba’ dan tetap berpegang dengan As Sunnah.

---» Ibnu Qayyim menjelaskan:

“Tatkala semakain banyak orang-orang yang mengaku cinta, mereka dituntut menunjukkan bukti nyata pengakuan cintanya itu. Dan memang, kalau setiap orang diberikan tuntutannya menurut pengakuannya maka orang yang sedang merasakan lega akan mengaku-aku terbakar kesedihan. Bermacam-macam bentuk orang yang mengaku-aku dalam soal persaksian, sehingga ada yang berpendapat tidak diterima pengakuan tersebut kecuali jika ada bukti yang nyata.” Maka Allah berfirman: “Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku.’ Akhirnya semua mundur, kecuali para pengikut habib (kekasih, yakni Rasulullah) dalam setiap ucapan dan tindakan serta akhlaknya.”


Sumber:
| http://www.salafy.or.id/dakwah-kepada-as-sunnah-dan-tahdziir-dari-bidah/
| 10 Mei 2013

(Bhgn. 1) Dakwah Kepada As-Sunnah dan Tahdzir dari Bid’ah

Merupakan salah satu prinsip utama Ahlus Sunnah wal Jama’ah para pengikut salaf ialah dakwah kepada As-Sunnah An-Nabawiyah. Di mana hal ini adalah landasan utama persatuan dan kesatuan serta sebab bersatunya kaum muslimin. Bahkan sebagai perlindungan dan keselamatan di dunia dan akhirat.

Sebagaimana wajibnya untuk tetap iltizam dengan As-Sunnah, maka wajib pula mengajak manusia kembali kepadanya. Di samping itu juga mentahdzir dari semua hal yang menyelisihinya baik berupa pemukiran orang tertentu atau syubhat dan aturan-aturan organisasi.

As-Sunnah adalah asas persatuan, sumber kemuliaan, kekuatan dan kebaikan dunia serta akhirat.

Rasulullah adalah teladan dalam agama ini. Kemudian para sahabatnya, karena Allah dan Rasul-Nya telah memberikan tazkiyah (pujian) kepada mereka. Dan rasul-Nya wafat meninggalkan dunia ini dalam keadaan ridho kepada para sahabatnya.

Maka jelaslah, al haq dan hidayah serta bimbingan beredar bersama mereka, di manapun mereka berada. Mereka tidak akan bersatu (sepakat) di atas kebatilan. Berbeda dengan orang-orang selain mereka, dari berbagai kelompok sempalan yang ada, karena mereka justeru bersatu di atas kebatilan dan kesesatan.

---» Syaikul Islam Ibnu Taimiyah menerangkan:

“Tadak ada pembelaan terhadap sosok tertentu secara umum dan mutlak kecuali kepada Rasulullah. Tidak pula kepada kelompok tertentu kecuali kepada para sahabat. Kerena sesungguhnya al-huda beredar bersama Rasulullah di manapun beliau berada. Begitu pula halnya para sahabatnya.”

Sejumlah nash syari’at telah menguraikan anjuran dan dorongan untuk mengikuti prinsip mulia ini. Prinsip yang menjadi acuan persatuan dan kesepakatan di atas As Sunnah dan jalan yang terang. Sehingga, tidak ada hujjah melainkan pada orang yang menjadikannya sebagai hujjah dan tidak ada ishmah (keterjagaan) dari penyimpangan kecuali bagi mereka yang berpegang teguh dengan As Sunnah, dalam ilmu dan amal, ataupun pendalilan, serta pemahaman dan ittiba’.

---» Allah berfirman:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” [Al-Ahzab: 21]

Uswah adalah teladan, maka tidak ada telaadan (yang baik) kecuali beliau, tidak ada ittiba’ kecuali beliau, dan tidak ada keselamatan kecuali berjalan di atas jalan yang dilaluinya.

---» Allah berfirman:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Ali Imran 31]

Maka tidaklah benar pengakuan cinta seseorang kecuali dia membuktikannya dan meluruskan jalannya, yaitu dengan ittiba’ dan tetap berpegang dengan As Sunnah.

---» Ibnu Qayyim menjelaskan:

“Tatkala semakain banyak orang-orang yang mengaku cinta, mereka dituntut menunjukkan bukti nyata pengakuan cintanya itu. Dan memang, kalau setiap orang diberikan tuntutannya menurut pengakuannya maka orang yang sedang merasakan lega akan mengaku-aku terbakar kesedihan. Bermacam-macam bentuk orang yang mengaku-aku dalam soal persaksian, sehingga ada yang berpendapat tidak diterima pengakuan tersebut kecuali jika ada bukti yang nyata.” Maka Allah berfirman: “Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku.’ Akhirnya semua mundur, kecuali para pengikut habib (kekasih, yakni Rasulullah) dalam setiap ucapan dan tindakan serta akhlaknya.”


Sumber:
| http://www.salafy.or.id/dakwah-kepada-as-sunnah-dan-tahdziir-dari-bidah/
| 10 Mei 2013

(Bhgn. 2.1) Penjelasan Syarhus Sunnah lil Muzani

PUJIAN DAN SANJUNGAN KEPADA ALLAH

Al-Muzani rahimahullah menyatakan:

الْحَمْدُ لِلّهِ أَحَقُّ مَنْ ذُكِرَ وَأَوْلَى مَنْ شُكِرَ وَعَلَيْهِ أُثْنِي الْوَاحِدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَيْسَ لَهُ صَاحِبَةٌ وَلاَ وَلَد جَلَّ عَنِ الْمَثِيْلِ فَلاَ شَبِيْهَ لَهُ وَلاَ عَدِيْلَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ الْعَلِيْمُ الْخَبِيْرُ اْلمنِيْعُ الرَّفِيْعُ

“Segala puji bagi Allah, Dzat Yang Paling berhak untuk diingat, Yang Paling Utama untuk disyukuri. Kepada-Nyalah aku memuji. Yang Maha Tunggal, Tempat bergantung (seluruh makhluk), Yang tidak memiliki istri maupun anak. Maha Mulya (jauh) dari yang semisal. Tidak ada yang serupa bagi-Nya maupun sebanding. Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Berilmu, Maha Mengetahui secara detail. Maha Mencegah dan Yang Maha Tinggi.”

PENJELASAN:

Allah terpuji di dunia dan di akhirat. Allah terpuji dalam segenap keadaan.

وَهُوَ اللهُ لاَ إِلهَ إِلاَّ هُوَ لَهُ اْلحَمْدُ فِي اْلأُوْلَى وَاْلآخِرَةِ وَلَهُ اْلحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ

“Dan Dialah Allah Yang tidak ada sesembahan yang haq kecuali Dia, bagiNya pujian di dunia dan di akhirat, dan hanya milikNyalah keputusan hukum, dan kepadaNya kalian semua akan dikembalikan.” [Al-Qoshos: 70]

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ اْلمُؤْمِنِيْنَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَتَاهُ اْلأَمْرُ يَسُرُّهُ قَالَ اْلحَمْدُ ِللهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتِ وَإِذَا أَتَاهُ اْلأَمْرُ يَكْرَهُهُ قَالَ اْلحَمْدُ ِللهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

Dari ‘Aisyah Ummul Mu’minin – semoga Allah meridlai beliau – beliau berkata: Adalah Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam jika ditimpa keadaan yang menyenangkan, beliau berkata:

“Alhamdulillah alladzii bi ni’matihii tatimmus shoolihaat (Segala puji bagi Allah yang dengan kenikmatan dariNya kebaikan-kebaikan menjadi sempurna). Sedangkan jika beliau ditimpa sesuatu yang tidak disenanginya, beliau mengucapkan: Alhamdulillah ala kulli haal (Segala puji bagi Allah dalam segenap keadaan).” [HR Ibnu Majah, dishahihkan oleh al-Hakim dan al-Albany dalam as-Shahihah no 265]

Tidak ada sesuatu hal yang paling dicintai oleh Allah selain pujian untukNya. Dinyatakan dalam hadits:

وَمَا مِنْ شَيْءٍ أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْحَمْدِ

“Tidak ada sesuatu yang lebih dicintai Allah selain pujian (untukNya).” [HR Abu Ya’la, dihasankan oleh Syaikh al-Albany]

Karena itu, bentuk dzikir yang berupa pujian dan tauhid (Alhamdulillahi Rabbil ‘Aalamiin) mengandung pahala yang lebih besar. Dalam sebuah hadits dinyatakan:

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى مِنْ الْكَلَامِ أَرْبَعًا سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ فَمَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ عِشْرِينَ حَسَنَةً أَوْ حَطَّ عَنْهُ عِشْرِينَ سَيِّئَةً وَمَنْ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ فَمِثْلُ ذَلِكَ وَمَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَمِثْلُ ذَلِكَ وَمَنْ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ مِنْ قِبَلِ نَفْسِهِ كُتِبَتْ لَهُ ثَلَاثُونَ حَسَنَةً وَحُطَّ عَنْهُ ثَلَاثُونَ سَيِّئَةً

“Sesungguhnya Allah memilih 4 ucapan: Subhaanallah (Maha Suci Allah), Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah), Laa Ilaaha Illallah (Tidak ada sesembahan yang haq selain Allah), Allaahu Akbar (Allah Maha Besar). Barangsiapa yang mengucapkan: Subhaanallah, Allah tulis baginya 20 kebaikan atau dihapus darinya 20 keburukan. Barangsiapa yang mengucapkan Allaahu Akbar, maka juga terhitung demikian. Barangsiapa yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah, maka juga terhitung demikian. Barangsiapa yang mengucapkan Alhamdulillahi Robbil ‘Aalamiin sungguh tulus dalam jiwanya, tercatat untuknya 30 kebaikan dan dihapuskan baginya 30 keburukan.” [HR anNasaai, Ahmad, dishahihkan oleh al-Hakim dan al-Albany]


Allahlah yang Paling Berhak untuk Diingat

Al-Muzani menyatakan: Segala puji bagi Allah, (Dzat) Yang Paling berhak untuk diingat…
Seharusnya, Allah adalah yang paling kita ingat selalu. Namun, kelemahan iman menyebabkan kita sering melupakan Allah. Karena itu, untuk mengingat-Nya kita butuh pertolongan-Nya. Nabi mengajarkan doa yang dibaca setelah tahiyyat sebelum salam:

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah, tolonglah saya untuk mengingatMu, bersyukur kepadaMu, dan mempersembahkan ibadah terbaik untukMu.” [HR Abu Dawud, An-Nasaai, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan al-Albany]

Tidak ada suatu ibadah yang secara eksplisit Allah perintahkan dalam Al-Quran untuk diperbanyak tanpa batasan tertentu selain dzikir (mengingat Allah).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

“Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (mengingat Allah) dengan dzikir yang banyak.” [Al-Ahzab: 41]

Jika seseorang duduk di suatu tempat atau berbaring dan sepanjang itu sedetikpun tidak mengingat Allah, hal itu akan menjadi kekurangan dan penyesalan baginya pada hari kiamat.

مَنْ قَعَدَ مَقْعَدًا لَمْ يَذْكُرِ اللَّهَ فِيهِ كَانَتْ عَلَيْهِ مِنَ اللَّهِ تِرَةٌ وَمَنِ اضْطَجَعَ مَضْجَعًا لَا يَذْكُرُ اللَّهَ فِيهِ كَانَتْ عَلَيْهِ مِنْ اللَّهِ تِرَةٌ

“Barangsiapa yang duduk di suatu tempat duduk, tidak mengingat Allah di tempat itu, maka akan menjadi ‘tiroh’ (kekurangan/ penyesalan), dan barangsiapa yang berbaring di suatu pembaringan tidak mengingat Allah padanya, akan menjadi ‘tiroh’ baginya.” [HR Abu Dawud, dishahihkan oleh al-Hakim, disepakati keshahihannya oleh adz-Dzahaby]

Sekedar berbaringpun, jangan lupakan Allah. Jangan lupakan berdzikir kepada Allah. Ada suatu dzikir yang jika diucapkan ketika seseorang berbaring pada pembaringannya, Allah akan ampuni dosa-dosanya yang kecil, meski sebanyak buih di lautan. Dzikir itu adalah:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ

“Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah satu-satunya, tidak ada sekutu bagiNya. MilikNya lah Kerajaan dan pujian, dan Dia Maha berkuasa di atas segala sesuatu. Tidak ada upaya dan kekuatan kecuali atas pertolongan Allah. Maha Suci Allah dan segala puji bagiNya. Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Dia. Dialah Yang Terbesar.” [HR Ibnu Hibban dalam Shahihnya, dan dishahihkan Syaikh al-Albany dalam as-Shahihah no 3414).

Barangsiapa yang mengingat Allah, Allah akan mengingatnya. Jika Allah mengingat seseorang, maka itu adalah suatu anugerah yang terbesar.

… فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ …

“… maka ingatlah Aku, niscaya Aku akan mengingat kalian …” [Al-Baqoroh: 152]

… أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ …

“Aku sesuai persangkaan hambaKu terhadapKu. Aku bersamanya ketika ia mengingatku. Jika ia mengingatKu dalam dirinya, Aku mengingatnya dalam diriKu. Jika ia mengingatKu pada sekumpulan (orang), niscaya Aku akan mengingatnya di kumpulan (makhluk) yang lebih baik dari mereka …” [HR Al-Bukhari no 6856 dan Muslim no 4832 dan 4851]

Sholat memiliki faedah dan manfaat yang sangat berlimpah. Di antaranya adalah mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Namun, manfaat tersebut masih kalah dengan manfaat satu lagi yaitu: Allah akan mengingat hamba itu ketika ia benar-benar mengingat Allah dalam sholatnya.

… وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ …

“dan tegakkanlah sholat sesungguhnya sholat mencegah dari perbuatan keji dan munkar, dan Allah mengingat kalian adalah lebih besar (manfaat dan keutamaannya)” [Al-Ankabuut: 45]

Banyak berdzikir akan menyebabkan seseorang mendapatkan kesuksesan dan keberuntungan

… وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“… dan banyaklah berdzikir (mengingat Allah) agar kalian beruntung.” [Al-Anfaal:45 dan al-Jumu’ah: 10]


Allahlah Paling Berhak untuk Disyukuri

Al-Muzani menyatakan: “dan Dia (Allah) Yang Paling Utama untuk disyukuri…”

Jika ada pihak yang paling berjasa, paling berbuat baik dalam kehidupan kita, maka Ia adalah Allah. Darinyalah sumber segala kenikmatan, manfaat, rezeki, atau kebaikan yang kita terima.

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

“Apa saja nikmat yang kalian dapatkan, maka itu dari Allah.” [An-Nahl: 53]


Seseorang dikatakan bersyukur jika ia melakukan 4 hal

1. Mengakui nikmat tersebut. Ia mengakui bahwa itu adalah nikmat dari Allah, tidak didapatkannya berkat keahliannya, namun karena pertolongan dan pemberian Allah.

2. Memuji Allah.

Sahabat Nabi Ibnu Abbas menyatakan: “Ucapan Alhamdulillah adalah kalimat yang diucapkan oleh seluruh orang yang bersyukur.” [Tafsir Ibnu Katsir 1/128]

إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الْأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا

“Sesungguhnya Allah sungguh ridha kepada seorang hamba yang makan suatu makanan kemudian memuji Allah atasnya, atau meminum suatu minuman kemudian memuji Allah atasnya.” [HR Muslim no 4915]

3. Tunduk dan mencintai Allah.

4. Menjalankan ketaatan kepada Allah sebagai perwujudan syukur. Ia gunakan nikmat pemberian Allah untuk mentaatiNya, tidak untuk bermaksiat kepadaNya.

[Disarikan dari Madaarijus Saalikin karya Ibnul Qoyyim 2/247]

Allah tidak akan mengadzab seseorang yang beriman dan bersyukur kepadaNya:

مَا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآَمَنْتُمْ …

“Mengapa Allah menyiksa kalian jika kalian bersyukur dan beriman ...?” [An-Nisaa’: 147]


Allah Maha Tunggal

Al-Muzani menyatakan:

“Dialah Allah Yang Maha Tunggal.

Al-Waahid dan al-Ahad adalah dua Nama Allah yang bermakna ‘Maha Tunggal/ Esa’.”

… قُلِ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

“…katakanlah Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia adalah Yang Maha Tunggal (al-Waahid) lagi Maha Perkasa.” [Ar-Ra’d: 16]

قُلْ إِنَّمَا أَنَا مُنْذِرٌ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

“Katakanlah bahwa aku hanyalah pemberi peringatan. Tidak ada sesembahan (yang haq) kecuali Allah Yang Maha Tunggal lagi Maha Perkasa.” [Shaad: 65]

Ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa Allah memiliki Nama al-Waahid adalah dalam surat Yuusuf: 39, Ibrahim: 48, Az-Zumar: 4, Ghafir: 16.

Sedangkan Nama Ahad, ada dalam ayat:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

Katakanlah: “Dia Allah Yang Maha Tunggal.” [al-Ikhlash: 1]

Nama Allah al-Waahid dan al-Ahad disebutkan dalam satu hadits. Suatu hari Rasulullah shollallahu alaihi wasallam masuk ke dalam masjid. Di dalamnya terdapat seorang laki-laki yang sholat, kemudian dalam tasyahhud ia bertawassul dengan Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah dalam doanya:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ يَا أَللَّهُ بِأَنَّكَ الْوَاحِدُ الْأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ أَنْ تَغْفِرَ لِي ذُنُوبِي إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepadaMu Ya Allah bahwa Engkau adalah al-Waahid al-Ahad as-Shomad Yang tidak beranak dan tidak diperanakkan. Tidak ada sesuatupun yang setara denganNya agar Engkau mengampuni dosa-dosaku Sesungguhnya Engkau Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Setelah mendengar hal itu Nabi menyatakan tiga kali:

قَدْ غُفِرَ لَهُ

“Ia telah diampuni …” [HR anNasaai no 1284 dan Ahmad no 18206, dishahihkan Syaikh al-Albany]


Ditulis oleh:
| Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman
| 21 Mei 2013

Sumber:
| http://www.salafy.or.id/penjelasan-syarhus-sunnah-lil-muzani-bag-ke-2-a/