WHAT'S NEW?
Loading...

[AUDIO] Al-Ustadz Muhammad Afifuddin – Jujur di Tengah Badai Fitnah

Rekaman Kajian Ilmiyah
Masjid Ibnu Taimiyah, Sukoharjo




» Al-Ustadz Muhammad Afifuddin As-Sidawy ~hafidzahullah~

Ahad (mlm Senin), 27 Shafar 1435H • 29/12/2013M

» Jujur di Tengah Badai Fitnah

Download rakaman:


[Sesi 1] Jujur di Tengah Badai Fitnah

[Sesi 2] Jujur di Tengah Badai Fitnah

[Sesi 3] Tanya Jawab

Sumber: Mahad Daarus Salaf Al-Islamy, Solo

[AUDIO] Al-Ustadz Muhammad Afifuddin – Jujur di Tengah Badai Fitnah

Rekaman Kajian Ilmiyah
Masjid Ibnu Taimiyah, Sukoharjo




» Al-Ustadz Muhammad Afifuddin As-Sidawy ~hafidzahullah~

Ahad (mlm Senin), 27 Shafar 1435H • 29/12/2013M

» Jujur di Tengah Badai Fitnah

Download rakaman:


[Sesi 1] Jujur di Tengah Badai Fitnah

[Sesi 2] Jujur di Tengah Badai Fitnah

[Sesi 3] Tanya Jawab

Sumber: Mahad Daarus Salaf Al-Islamy, Solo

[AUDIO] Al-Ustadz Muhammad Afifuddin – Mengenal Ahlussunnah Wal Jama'ah

Rekaman Kajian Ilmiyah
Masjid Agung Baiturrahman, Ngawi



» Al-Ustadz Muhammad Afifuddin As-Sidawy ~hafidzahullah~

Ahad, 26 Shafar 1435H • 29/12/2013M

» Mengenal Ahlussunnah Wal Jama'ah

Download rakaman:


[Sesi 1] Mengenal Ahlussunnah Wal Jama'ah

[Sesi 2] Mengenal Ahlussunnah Wal Jama'ah

Sumber: WhatsApp Salafy Indonesia

[AUDIO] Al-Ustadz Muhammad Afifuddin – Mengenal Ahlussunnah Wal Jama'ah

Rekaman Kajian Ilmiyah
Masjid Agung Baiturrahman, Ngawi



» Al-Ustadz Muhammad Afifuddin As-Sidawy ~hafidzahullah~

Ahad, 26 Shafar 1435H • 29/12/2013M

» Mengenal Ahlussunnah Wal Jama'ah

Download rakaman:


[Sesi 1] Mengenal Ahlussunnah Wal Jama'ah

[Sesi 2] Mengenal Ahlussunnah Wal Jama'ah

Sumber: WhatsApp Salafy Indonesia

Menisbahkan Sesuatu Kepada ‘Ulama, Demi Menjatuhkan Kredibilitas Pihak Lain

Menisbahkan Sesuatu Kepada ‘Ulama, Demi Menjatuhkan Kredibilitas Pihak Lain
(Studi Kejujuran Abdul Barr – tulisan pertama –)

Sungguh membelalakkan mata dan membuat hati tercabik-cabik, apa yang ditorehkan oleh al-Ustadz Abdul Barr Kaisinda pada 26 Desember 2013 kemarin. Dalam sebuah tulisan berjudul Mengenal Sang Politikus Dakwah, Pemecah Belah Ahlus Sunnah, Al Ustadz Lukman Baabduh, dia menggeber sejumlah data demi menjatuhkan kredibilitas nama yang ia sebutkan dalam judul tersebut. Tentu saja masalahnya bukan sekedar nama baik seseorang, namun taruhannya adalah Dakwah Salafiyyah di Indonesia.

Apabila ditelisik lebih cermat, sebenarnya “data-data” yang ditampilkan oleh Ustadz Abdul Barr yang sepintas lalu sebagai “hujjah yang kokoh” ternyata hanya semakin membuat seorang yang adil dan jujur mengelus dada.

Perlu ada studi untuk mengukur sejauh mana kejujuran ustadz yang menorehkan tulisan yang telah banyak meresahkan salafiyyin di Indonesia tersebut.

Untuk studi tersebut, maka di sini kami akan mencoba memulai dengan sebuah peristiwa – yang memang peristiwa tersebut tidak disinggung oleh sang ustadz dalam tulisannya tersebut – namun perlu untuk diketengahkan di sini, karena sangat terkait dengan sang ustadz. Yaitu penukilan sekaligus penisbatan sebuah perkataan kepada asy-Syaikh ‘Abdullah Mar’i. Dari sini, kita akan bisa mengukur jujurkah ust Abdul Barr, ataukah ternyata itu sebuah kedustaan?

Berikut penuturan al-Ustadz Fauzan hafizhahullah bersama al-Ustadz Muhammad Ihsan dan al-Ustadz Muhammad Afifuddin hafizhahumallah,

“Saya Abu Ubaidillah (Fauzan) – bersama al-Ustadz Muhammad Ihsan dan al-Ustadz Muhammad Afifuddin – menulis persaksian ini dengan tujuan sebagai pelajaran bagi salafiyyin di Indonesia dalam menyikapi berita-berita yang disampaikan oleh al-Ustadz Abdul Barr, untuk bisa dinilai sejauh mana kejujurannya.

Pada saat Dauroh Masyaikh di Bandung, tepatnya di Wisma Komandan SECAPA, Ust. Abdul Barr menisbatkan sebuah ucapan kepada asy-Syaikh Abdullah Mar’i di hadapan sejumlah asatidzah, di antaranya al-Ustadz Muhammad Ihsan, bahwa asy-Syaikh Abdullah ketika di sebuah villa di Bali ba’da shalat Fajr berkata tentang Ja’far Umar Thalib:

“كيف يا اخوان لو نأتي إلى جعفر؟” [1]

Kemudian kata Abdul Barr, Ustadz Usamah Mahri yang juga ada di majelis itu menjawab:

“لا يا شيخ، هو يتلاعب بتوبته” [2]

Asy-Syaikh Abdullah menjawab:

“لعلكم لا تعطونه فرصة، ولعلكم سددتم عليه الطريق، الانسان اذا وقع في الكبير لا يرجع مباشرة لكنه يرجع شيئا فشيئا.” [3]

Kemudian ust. Abdul Barr berkata, “Mereka (asatidzah, ust usamah, dan lain-lain) langsung menundukkan kepala. (Sambil Abdul Barr mempraktekkan dengan menundukkan kepalanya).

Penukilan ustadz Abdul Barr yang saya dengar bersama ust Muhammad Ihsan hafizhahullah itu juga pernah disampaikan oleh Abdul Barr dalam kesempatan lain kepada al-ustadz Muhammad Afifuddin hafizhahullah

Jujurkah saudara Abdul Barr dalam penisbatan ucapan tersebut kepada syaikh Abdullah Mar’i?

Jawabannya adalah:
Pernyataan tersebut sudah kami klarifikasi langsung kepada Syaikh Abdullah Mar’i di hadapan beberapa asatidzah, tentang kebenaran penukilan tersebut, maka beliau dengan tegas mengingkari penisbahan ucapan tersebut kepada dirinya.
Demikian tulisan ini saya buat, agar Salafiyyin bisa mengambil pelajaran.

Tertanda,
- Fauzan Abu ‘Ubaidillah
- Muhammad Ihsan
- Muhammad Afifuddin

Demikian persaksian 3 ustadz Ahlus Sunnah atas rekayasa Ustadz Abdul Barr yang mengatasnamakan asy-Syaikh ‘Abdullah Mar’i. Yang juga menarik dari cara penukilan Ustadz Abdul Barr di atas, adalah bagaimana Ustadz Abdul Barr menggambarkan apa yang terjadi pada para asatidzah setelah itu, yaitu dengan disertai ekspresi sedemikan rupa, seraya dia mempraktekkan dengan menundukkan kepalanya. Sehingga benar-benar bisa meyakinkan pendengarnya.

Padahal, asatidzah yang hadir pada jalsah di Bali bersama asy-Syaikh ‘Abdullah tersebut – antara lain al-Ustadz Usamah, al-Ustadz Qomar, al-Ustadz Ruwaifi’, dll – sama sekali tidak tahu adanya peristiwa yang dinukilkan oleh ustadz Abdul Barr tersebut. Lahaula wala Quwwata illa billah
Setelah kita mengetahui kadar kejujuran ustadz penulis artikel tersebut melalui persaksian tiga ustadz Ahlus Sunnah di atas, berikutnya insya Allah kita akan mengupas “data-data” yang diungkap oleh ustadz penulis, s upaya kita bisa mengetahui lebih jauh lagi kadar kejujurannya

————————–
Catatan Kaki:
[1] Artinya, “Wahai Ikhwan, bagaimana kalau kita mendatangi Ja’far?”
[2] Artinya, “Tidak wahai Syaikh, dia itu main-main saja dalam taubatnya.”
[3] Artinya, “Bisa saja kalian tidak memberikan kesempatan baginya. Mungkin kalian telah menutup jalan (taubat) baginya. Seorang manusia jika jatuh dalam sebuah dosa besar tidak segera rujuk secara langsung, tetapi dia rujuk secara bertahap.

Sumber: ForumSalafy•Net


Menisbahkan Sesuatu Kepada ‘Ulama, Demi Menjatuhkan Kredibilitas Pihak Lain

Menisbahkan Sesuatu Kepada ‘Ulama, Demi Menjatuhkan Kredibilitas Pihak Lain
(Studi Kejujuran Abdul Barr – tulisan pertama –)

Sungguh membelalakkan mata dan membuat hati tercabik-cabik, apa yang ditorehkan oleh al-Ustadz Abdul Barr Kaisinda pada 26 Desember 2013 kemarin. Dalam sebuah tulisan berjudul Mengenal Sang Politikus Dakwah, Pemecah Belah Ahlus Sunnah, Al Ustadz Lukman Baabduh, dia menggeber sejumlah data demi menjatuhkan kredibilitas nama yang ia sebutkan dalam judul tersebut. Tentu saja masalahnya bukan sekedar nama baik seseorang, namun taruhannya adalah Dakwah Salafiyyah di Indonesia.

Apabila ditelisik lebih cermat, sebenarnya “data-data” yang ditampilkan oleh Ustadz Abdul Barr yang sepintas lalu sebagai “hujjah yang kokoh” ternyata hanya semakin membuat seorang yang adil dan jujur mengelus dada.

Perlu ada studi untuk mengukur sejauh mana kejujuran ustadz yang menorehkan tulisan yang telah banyak meresahkan salafiyyin di Indonesia tersebut.

Untuk studi tersebut, maka di sini kami akan mencoba memulai dengan sebuah peristiwa – yang memang peristiwa tersebut tidak disinggung oleh sang ustadz dalam tulisannya tersebut – namun perlu untuk diketengahkan di sini, karena sangat terkait dengan sang ustadz. Yaitu penukilan sekaligus penisbatan sebuah perkataan kepada asy-Syaikh ‘Abdullah Mar’i. Dari sini, kita akan bisa mengukur jujurkah ust Abdul Barr, ataukah ternyata itu sebuah kedustaan?

Berikut penuturan al-Ustadz Fauzan hafizhahullah bersama al-Ustadz Muhammad Ihsan dan al-Ustadz Muhammad Afifuddin hafizhahumallah,

“Saya Abu Ubaidillah (Fauzan) – bersama al-Ustadz Muhammad Ihsan dan al-Ustadz Muhammad Afifuddin – menulis persaksian ini dengan tujuan sebagai pelajaran bagi salafiyyin di Indonesia dalam menyikapi berita-berita yang disampaikan oleh al-Ustadz Abdul Barr, untuk bisa dinilai sejauh mana kejujurannya.

Pada saat Dauroh Masyaikh di Bandung, tepatnya di Wisma Komandan SECAPA, Ust. Abdul Barr menisbatkan sebuah ucapan kepada asy-Syaikh Abdullah Mar’i di hadapan sejumlah asatidzah, di antaranya al-Ustadz Muhammad Ihsan, bahwa asy-Syaikh Abdullah ketika di sebuah villa di Bali ba’da shalat Fajr berkata tentang Ja’far Umar Thalib:

“كيف يا اخوان لو نأتي إلى جعفر؟” [1]

Kemudian kata Abdul Barr, Ustadz Usamah Mahri yang juga ada di majelis itu menjawab:

“لا يا شيخ، هو يتلاعب بتوبته” [2]

Asy-Syaikh Abdullah menjawab:

“لعلكم لا تعطونه فرصة، ولعلكم سددتم عليه الطريق، الانسان اذا وقع في الكبير لا يرجع مباشرة لكنه يرجع شيئا فشيئا.” [3]

Kemudian ust. Abdul Barr berkata, “Mereka (asatidzah, ust usamah, dan lain-lain) langsung menundukkan kepala. (Sambil Abdul Barr mempraktekkan dengan menundukkan kepalanya).

Penukilan ustadz Abdul Barr yang saya dengar bersama ust Muhammad Ihsan hafizhahullah itu juga pernah disampaikan oleh Abdul Barr dalam kesempatan lain kepada al-ustadz Muhammad Afifuddin hafizhahullah

Jujurkah saudara Abdul Barr dalam penisbatan ucapan tersebut kepada syaikh Abdullah Mar’i?

Jawabannya adalah:
Pernyataan tersebut sudah kami klarifikasi langsung kepada Syaikh Abdullah Mar’i di hadapan beberapa asatidzah, tentang kebenaran penukilan tersebut, maka beliau dengan tegas mengingkari penisbahan ucapan tersebut kepada dirinya.
Demikian tulisan ini saya buat, agar Salafiyyin bisa mengambil pelajaran.

Tertanda,
- Fauzan Abu ‘Ubaidillah
- Muhammad Ihsan
- Muhammad Afifuddin

Demikian persaksian 3 ustadz Ahlus Sunnah atas rekayasa Ustadz Abdul Barr yang mengatasnamakan asy-Syaikh ‘Abdullah Mar’i. Yang juga menarik dari cara penukilan Ustadz Abdul Barr di atas, adalah bagaimana Ustadz Abdul Barr menggambarkan apa yang terjadi pada para asatidzah setelah itu, yaitu dengan disertai ekspresi sedemikan rupa, seraya dia mempraktekkan dengan menundukkan kepalanya. Sehingga benar-benar bisa meyakinkan pendengarnya.

Padahal, asatidzah yang hadir pada jalsah di Bali bersama asy-Syaikh ‘Abdullah tersebut – antara lain al-Ustadz Usamah, al-Ustadz Qomar, al-Ustadz Ruwaifi’, dll – sama sekali tidak tahu adanya peristiwa yang dinukilkan oleh ustadz Abdul Barr tersebut. Lahaula wala Quwwata illa billah
Setelah kita mengetahui kadar kejujuran ustadz penulis artikel tersebut melalui persaksian tiga ustadz Ahlus Sunnah di atas, berikutnya insya Allah kita akan mengupas “data-data” yang diungkap oleh ustadz penulis, s upaya kita bisa mengetahui lebih jauh lagi kadar kejujurannya

————————–
Catatan Kaki:
[1] Artinya, “Wahai Ikhwan, bagaimana kalau kita mendatangi Ja’far?”
[2] Artinya, “Tidak wahai Syaikh, dia itu main-main saja dalam taubatnya.”
[3] Artinya, “Bisa saja kalian tidak memberikan kesempatan baginya. Mungkin kalian telah menutup jalan (taubat) baginya. Seorang manusia jika jatuh dalam sebuah dosa besar tidak segera rujuk secara langsung, tetapi dia rujuk secara bertahap.

Sumber: ForumSalafy•Net


[AUDIO] Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim – Keberkahan Bersama Pemuka Ulama

Rekaman Kajian Ilmiyah
Masjid Asy-Syifa' RSUP, Semarang




» Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim ~hafidzahullah~

Ahad, 26 Shafar 1435H • 29/12/2013M

» Keberkahan Bersama Pemuka Ulama

Download rakaman:


[Sesi 1] Keberkahan Bersama Pemuka Ulama

[Sesi 2] Keberkahan Bersama Pemuka Ulama

Sumber: WhatsApp Salafy Indonesia

[AUDIO] Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim – Keberkahan Bersama Pemuka Ulama

Rekaman Kajian Ilmiyah
Masjid Asy-Syifa' RSUP, Semarang




» Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim ~hafidzahullah~

Ahad, 26 Shafar 1435H • 29/12/2013M

» Keberkahan Bersama Pemuka Ulama

Download rakaman:


[Sesi 1] Keberkahan Bersama Pemuka Ulama

[Sesi 2] Keberkahan Bersama Pemuka Ulama

Sumber: WhatsApp Salafy Indonesia

Catatan Al Ustadz Muhammad As-Sewed Terhadap Abdul Bar Kaisinda

Sungguh sangat miripnya ucapan Abdul Barr dgn Dzulqarnain. Begitu mendengar ucapan syaikh Rabie’ terhadap Dzulqarnain langsung menuduh saudaranya memberikan berita yang dusta.

Hanya saja Abdul Barr lebih kasar dan terburu-buru.

Apakah syaikh Rabie’ bisa semudah itu di bohongi oleh seorang Luqman atau semisalnya?! Semestinya beliau sabar, berfikir dengan hati yang tenang. Ini bukan menang atau kalah. Jangan seperti politikus kalah pemilu. Tiba-tiba marah kepada lawan politiknya, dengan menyebut segala tuduhan dan rapot merah.

Nasihat syaikh ini berkait dengan kebaikan dakwah salafiyyah dan keselamatan salafiyyin dari fitnah hizbiyyah. Syaikh Rabie’ sudah sering mendengar laporan kalian secara lengkap, apakah langsung ataupun melalui masyayikh lain.

Kita yang sederhana ilmunya bisa menilai, model apa dai yang diperingatkan dari bahaya hizbiyyahnya Rodja atau semisalnya kemudian menyangkal:

“tapi syaikh, mereka mendakwahkan tauhid”
“tapi syaikh, mereka mengajarkan sunnah”
“tapi syaikh, radio tersebut banyak memberikan manfaat untuk orang awam”

Apa bedanya dengan ucapan sururiyyin Salman Audah, safar, Aidh al Qorni, dan lain-lain berapa tahun lalu:
“tapi mereka juga punya kebaikan” “namun bagaimanapun juga mereka punya jasa” dan seterusnya.

Adapun urusan ana dengan ustadz Luqman pasca pertemuan bandung, itu hanya ketersinggungan pribadi ana, tentunya ana kalahkan dengan urusan dakwah yg mulia ini.

Sebaliknya ana gak ada urusan pribadi dengan Jakfar Salih, Ustadz Dzul dan Ustadz AbdulBarr tapi karena dakwah yg mulia ini ana cemburu ketika mereka datang ke tempat-tempat hizbiyyin, apakah di Riau, di Batam atau di Bali bahkan akrab dengan beberapa hizbiyyin orang-orang Rodja.

Demikian pula ketika mereka membuat statmen-statmen yg terkesan tidak suka dengan manhaj tahdzir dan terkesan membela hizbiyyin. Pantas kalau Ustadz Dzul dkk sering diundang mereka. ana secara pribadi tidak dirugikan, tapi saya sangat khawatir dakwah ini yg akan bergeser kearah sururiyyah model baru.

Saya kembali menasihatkan kpd Ustadz Abdul Barr untuk memandang urusan dgn kacamata ilmiyyah, jangan dengan kacamata hizbiyyah.

Sampaikan ucapanmu ke Syaikh Rabie’ bukan kehalayak ramai yang akhirnya anda juga menjadi pemecah belah ummat.

Cuma bedanya Ustadz Luqman bersama syaikh Rabie’ memecah belah antara salafiyyin dan hizbiyyin. Sedangkan engkau menentang Syaikh Rabie’ mengkaburkan mana salafiyyin, mana hizbiyyin.

Nasalullahat taufiq wal hidayah lana wa lahum wa lijamie’il muslimin. Wa shallallahu ala muhammad wa ala alihi wa shahbihi wa sallam.

Al faqier ila ‘afwi Rabbih
Muhammad Umar As sewed


Sumber: ForumSalafy•Net


Catatan Al Ustadz Muhammad As-Sewed Terhadap Abdul Bar Kaisinda

Sungguh sangat miripnya ucapan Abdul Barr dgn Dzulqarnain. Begitu mendengar ucapan syaikh Rabie’ terhadap Dzulqarnain langsung menuduh saudaranya memberikan berita yang dusta.

Hanya saja Abdul Barr lebih kasar dan terburu-buru.

Apakah syaikh Rabie’ bisa semudah itu di bohongi oleh seorang Luqman atau semisalnya?! Semestinya beliau sabar, berfikir dengan hati yang tenang. Ini bukan menang atau kalah. Jangan seperti politikus kalah pemilu. Tiba-tiba marah kepada lawan politiknya, dengan menyebut segala tuduhan dan rapot merah.

Nasihat syaikh ini berkait dengan kebaikan dakwah salafiyyah dan keselamatan salafiyyin dari fitnah hizbiyyah. Syaikh Rabie’ sudah sering mendengar laporan kalian secara lengkap, apakah langsung ataupun melalui masyayikh lain.

Kita yang sederhana ilmunya bisa menilai, model apa dai yang diperingatkan dari bahaya hizbiyyahnya Rodja atau semisalnya kemudian menyangkal:

“tapi syaikh, mereka mendakwahkan tauhid”
“tapi syaikh, mereka mengajarkan sunnah”
“tapi syaikh, radio tersebut banyak memberikan manfaat untuk orang awam”

Apa bedanya dengan ucapan sururiyyin Salman Audah, safar, Aidh al Qorni, dan lain-lain berapa tahun lalu:
“tapi mereka juga punya kebaikan” “namun bagaimanapun juga mereka punya jasa” dan seterusnya.

Adapun urusan ana dengan ustadz Luqman pasca pertemuan bandung, itu hanya ketersinggungan pribadi ana, tentunya ana kalahkan dengan urusan dakwah yg mulia ini.

Sebaliknya ana gak ada urusan pribadi dengan Jakfar Salih, Ustadz Dzul dan Ustadz AbdulBarr tapi karena dakwah yg mulia ini ana cemburu ketika mereka datang ke tempat-tempat hizbiyyin, apakah di Riau, di Batam atau di Bali bahkan akrab dengan beberapa hizbiyyin orang-orang Rodja.

Demikian pula ketika mereka membuat statmen-statmen yg terkesan tidak suka dengan manhaj tahdzir dan terkesan membela hizbiyyin. Pantas kalau Ustadz Dzul dkk sering diundang mereka. ana secara pribadi tidak dirugikan, tapi saya sangat khawatir dakwah ini yg akan bergeser kearah sururiyyah model baru.

Saya kembali menasihatkan kpd Ustadz Abdul Barr untuk memandang urusan dgn kacamata ilmiyyah, jangan dengan kacamata hizbiyyah.

Sampaikan ucapanmu ke Syaikh Rabie’ bukan kehalayak ramai yang akhirnya anda juga menjadi pemecah belah ummat.

Cuma bedanya Ustadz Luqman bersama syaikh Rabie’ memecah belah antara salafiyyin dan hizbiyyin. Sedangkan engkau menentang Syaikh Rabie’ mengkaburkan mana salafiyyin, mana hizbiyyin.

Nasalullahat taufiq wal hidayah lana wa lahum wa lijamie’il muslimin. Wa shallallahu ala muhammad wa ala alihi wa shahbihi wa sallam.

Al faqier ila ‘afwi Rabbih
Muhammad Umar As sewed


Sumber: ForumSalafy•Net


Apakah Mencari-cari Kekeliruan dan Kesalahan Termasuk Manhaj Salaf?

بسم الله الرحمن الرحيم

Saya sangat senang bisa menghadirkan bagi saudara-saudara saya Salafiyyun, kesimpulan dari pertemuan yang diberkahi -yang dikumpulkan oleh sebagian thullab dari Libya- bersama Fadhilatusy Syaikh Ahmad bin Umar Bazmul hafizhahullah dan yang berada di kediaman beliau di Makkah -semoga Allah menjaganya-

Pertemuan ini mengandung sejumlah permasalahan manhaj yang sangat penting bagi orang yang mencari al-haq.

Di antaranya;

1. Bantahan terhadap syubuhat dimutlakkannya mencari-cari aurat/’aib dan ketergelinciran terhadap penyelisihan syar’i (bantahan terhadap orang yang melakukan kesalahan syar’i dianggap sebagai perbuatan mencari-cari aurat dan kesalahan), dan penjelasan bahwa syubhat ini termasuk metode ahlul bid’ah.

Soal pertama;

Apakah membantah kesalahan-kesalahan sebagian manusia dianggap sebagai mencari-cari ‘aurat, dan apakah benar pendalilan hal ini dengan sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam,

” يا معشر من أمن بلسانه إلى قوله لا تتبعوا عورات المسلمين

“Wahai sekalian orang yang baru beriman dengan lisannya, ….. sampai pada sabda beliau, ” … dan janganlah kalian mencari-cari aurat kaum muslimin.”

Apakah mencari-cari waham(kekeliruan) dan kesalahan termasuk manhaj salaf?

Jawaban Syaikh Ahmad Bazmul hafizhahullah;

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على المبعوث رحمة للعالمين وعلى أله وصحبه وسلم أجمعين , أما بعد :

Jawaban dari pertanyaan ini adalah hendaknya engkau mengatakan, “Bantahan terhadap kesalahan yang sebagian manusia terjatuh di dalamnya di dalam permasalahan-permasalahan agama, ilmu, dan syariat, adalah wajib bagi ulama dan wajib bagi orang yang bisa mengenali al-haq dari al-bathil dari kalangan para penuntut ilmu syar’i. Hal ini bukan termasuk pembahasan perbuatan mencari-cari aurat kaum muslimin.

Dan juga kami katakan bahwa penerapan dan pemutlakan terhadap orang yang menyelisihi syariat, dan bantahan terhadap kesalahan, serta penamaannya dengan ”mencari-cari aurat”, hanya saja hal ini dikenal (muncul) dari kalangan hizbiyyun dan ahlul bathil yang suka memutarbalikkan hakikat.

Yang ketiga, kami katakan, bahwa perbuatan membantah kesalahan menurut ahlul ilmi adalah jihad fi sabilillah dan termasuk di dalam bab (pembahasan) amar ma’ruf nahi munkar. Adapun hadits يا معشر من أمن بلسانه tadi, bukanlah yang dimaksudkan oleh hadits tadi bantahan tehadap orang yang menyelisihi syariat, namun maksudnya adalah mencari-cari aurat manusia di dalam urusan-urusan dunia dan aurat manusia yang tersembunyi, tidak nampak, dan tidak diketahui. Adapun orang yang menampakkan kebatilannya di muka umum, dan menjadi jelas perkara orang ini (karena ia sendiri yang menampakkannya), yang demikian ini adalah sebagaimana dinukilkan -oleh sekelompok ulama- adanya kesepakatan bolehnya menyingkap aib-aibnya, bahkan (hukumnya) wajib menjelaskannya, wajib menjelaskannya.

Adapun (pertanyaan apakah) mencari-cari waham dan kesalahan orang lain itu termasuk manhaj salaf, pertanyaan ini tidak diragukan lagi keganjilan/keanehannya, dan pertanyaan ini menunjukkan bahwa orang yang mengingkari (bantahan dan penjelasan terhadap kesalahan manusia) ini tidak mengetahui manhaj salaf. Ia tidak mengetahui bagaimana para salaf dahulu di dalam mengajarkan ilmu, bagaimana mereka menyikapi orang yang menyelisihi al-haq, dan bagaimana mereka bersikap keras dan mengingkari orang ini secara langsung.Jadi para pendahulu kita yang shalih -semoga Allah meridhai mereka- mereka menjelaskan kesalahan dan waham (yang dilakukan manusia).

Di sini saya akan menjelaskan sebuah perkara yang penting dan permasalahan yang mendetail yang harus kita perhatikan; seorang penuntut ilmu maupun seorang ‘alim, karena tingginya kesibukannya dengan ilmu, seringnya ia menelaah kitab-kitab ilmu, dan banyaknya pergaulannya dengan penuntut ilmu,  ia menyikapi permasalahan ini bukan dalam rangka mencari-cari aurat manusia, namun hal ini termasuk di dalam bab membahas, membaca, dan menyebarkan ilmu. Jadi ketika ia melewati / mengetahui kesalahan-kesalahan ini, bukanlah sikap para penuntut ilmu menjelaskan kesalahan-kesalahan ini (kepada manusia) merupakan perbuatan mencari-cari kesalahan dan keteegelinciran fulan/orang tertentu! Sama sekali bukan!

Bahkan kami katakan kepada orang yang salah dan tergelincir, “Bila kamu belum (cukup) bagus ilmumu, maka janganlah kamu berbicara, sehingga niscaya tidak akan dicari-cari (kesalahanmu). Karena barangsiapa yang menampakkan keilmuannya kepada kita, maka kita berkedudukan sebagai orang yang mengambil faidah darinya maupun sebagai orang yang memberi faidah. Juga sebagai orang yang memperingatkan dan membenarkan, sebagaimana ini adalah sikap salaf kita, semoga Allah meridhai mereka.

Jadi permasalahannya sekarang yang ingin kami peringatkan adalah, bahwa para ulama’ dan penuntut ilmu yang membantah orang yang melakukan penyelisihan terhadap al-haq (secara terang-terangan), perbuatan mereka ini bukanlah mencari-cari aib manusia, namun hal ini menunjukkan tingginya kesibukan mereka dengan ilmu, banyaknya telaah kitab yang mereka lakukan, dan banyaknya faidah yang mereka miliki. Sehingga ketika mereka melihat kesalahan-kesalahan yang semisal  ini, mereka pun menjelaskannya.

Dan aku juga menjelaskan dan memperingatkan dari satu perkara yang penting, yaitu sebagaimana telah disebutkan sebelumnya,  bahwa manhaj salaf di dalam bantahan terhadap orang yang menyelisihi (al-haq) dan juga penjelasan terhadap kesalahan-kesalahannya, kita harus mengetahui dan mengerti secara yakin/pasti bahwa salaf kita -semoga Allah meridhai mereka- bila salah seorang dari mereka melakukan kesalahan, lalu kesalahan itu menjadi jelas baginya, ia akan senang. Ia senang dengan urusan ini (dengan teguran saudaranya), ia akan rujuk dari kesalahannya, menyebarkan kebenaran di tengah-tengah manusia, dan berterima kasih kepada orang yang telah menjelaskan kebenaran kepadanya.

Jadi kalian yang berkata bahwa mencari-cari dan membantah (kesalahan) orang yang menyelisihi al-haq bukan termasuk mahaj salaf, kami katakan kepada mereka ini, “Ya, bahkan ini termasuk manhaj salaf. Bahkan termasuk manhaj salaf, bahwa orang yang melakukan kesalahan di antara mereka, bila jelas kebenaran baginya, ia akan kembali dan ruju’  secara nyata dan terang-terangan, dan dia tidak akan melakukan tala’ub (bermain-main) di dalam perkataannya, ia akan menyalahkan dirinya, dan membersihkan agama Allah ‘Azza wajalla dari berbagai kekeliruan, kesalahan dan kontradiksi.

Ini semua berbeda dengan sikap yang kami lihat dan kami dengar dari sebagian orang di masa ini. Ketika ia dibantah, ia pun mencaci-maki dan menganggap bantahan atasnya adalah perbuatan mencari-cari kesalahan, dan bahwa bantahan terhadapnya adalah perbuatan menjatuhkan (harga dirinya yang di lakukan oleh) orang lain, dan sebagainya, yang ungkapan-ungkapannya tersebut tidak kita kenali kecuali muncul dari kalangan hizbiyyun. Dan di sini orang yang bersikap seperti ini adalah si sesat, Abul Hasan al-Ma’ribi beserta para pengikutnya.

Jadi wajib bagi kita untuk memperingatkan dari perkara dan perilaku ini. Engkau, bila Engkau menyeru manusia ke jalan Allah, janganlah engkau mementingkan dan melihat dirimu sendiri, menginginkan ketinggian diri di muka bumi ini. Engkau hanya dengan al-haqq akan menjadi tinggi, dan dengan al-bathil menjadi rendah. Bila kamu berdakwah menyeru kepada dirimu sendiri, ketika engkau melihat bantahan terhadap penyelisihan, engkau akan menganggapnya sebagai ‘perbuatan mencari-cari kesalahan dan ketergelinciran’, dan ungkapan-ungkapan lainnya yang rusak (akan muncul darimu). Demikianlah.

http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=136061.

Ditulis oleh Abu Muhammad as-Sunni al-Liibii
Dialihbahasakan oleh Ummu Maryam Lathifah

Sumber: ForumSalafy•Net


Apakah Mencari-cari Kekeliruan dan Kesalahan Termasuk Manhaj Salaf?

بسم الله الرحمن الرحيم

Saya sangat senang bisa menghadirkan bagi saudara-saudara saya Salafiyyun, kesimpulan dari pertemuan yang diberkahi -yang dikumpulkan oleh sebagian thullab dari Libya- bersama Fadhilatusy Syaikh Ahmad bin Umar Bazmul hafizhahullah dan yang berada di kediaman beliau di Makkah -semoga Allah menjaganya-

Pertemuan ini mengandung sejumlah permasalahan manhaj yang sangat penting bagi orang yang mencari al-haq.

Di antaranya;

1. Bantahan terhadap syubuhat dimutlakkannya mencari-cari aurat/’aib dan ketergelinciran terhadap penyelisihan syar’i (bantahan terhadap orang yang melakukan kesalahan syar’i dianggap sebagai perbuatan mencari-cari aurat dan kesalahan), dan penjelasan bahwa syubhat ini termasuk metode ahlul bid’ah.

Soal pertama;

Apakah membantah kesalahan-kesalahan sebagian manusia dianggap sebagai mencari-cari ‘aurat, dan apakah benar pendalilan hal ini dengan sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam,

” يا معشر من أمن بلسانه إلى قوله لا تتبعوا عورات المسلمين

“Wahai sekalian orang yang baru beriman dengan lisannya, ….. sampai pada sabda beliau, ” … dan janganlah kalian mencari-cari aurat kaum muslimin.”

Apakah mencari-cari waham(kekeliruan) dan kesalahan termasuk manhaj salaf?

Jawaban Syaikh Ahmad Bazmul hafizhahullah;

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على المبعوث رحمة للعالمين وعلى أله وصحبه وسلم أجمعين , أما بعد :

Jawaban dari pertanyaan ini adalah hendaknya engkau mengatakan, “Bantahan terhadap kesalahan yang sebagian manusia terjatuh di dalamnya di dalam permasalahan-permasalahan agama, ilmu, dan syariat, adalah wajib bagi ulama dan wajib bagi orang yang bisa mengenali al-haq dari al-bathil dari kalangan para penuntut ilmu syar’i. Hal ini bukan termasuk pembahasan perbuatan mencari-cari aurat kaum muslimin.

Dan juga kami katakan bahwa penerapan dan pemutlakan terhadap orang yang menyelisihi syariat, dan bantahan terhadap kesalahan, serta penamaannya dengan ”mencari-cari aurat”, hanya saja hal ini dikenal (muncul) dari kalangan hizbiyyun dan ahlul bathil yang suka memutarbalikkan hakikat.

Yang ketiga, kami katakan, bahwa perbuatan membantah kesalahan menurut ahlul ilmi adalah jihad fi sabilillah dan termasuk di dalam bab (pembahasan) amar ma’ruf nahi munkar. Adapun hadits يا معشر من أمن بلسانه tadi, bukanlah yang dimaksudkan oleh hadits tadi bantahan tehadap orang yang menyelisihi syariat, namun maksudnya adalah mencari-cari aurat manusia di dalam urusan-urusan dunia dan aurat manusia yang tersembunyi, tidak nampak, dan tidak diketahui. Adapun orang yang menampakkan kebatilannya di muka umum, dan menjadi jelas perkara orang ini (karena ia sendiri yang menampakkannya), yang demikian ini adalah sebagaimana dinukilkan -oleh sekelompok ulama- adanya kesepakatan bolehnya menyingkap aib-aibnya, bahkan (hukumnya) wajib menjelaskannya, wajib menjelaskannya.

Adapun (pertanyaan apakah) mencari-cari waham dan kesalahan orang lain itu termasuk manhaj salaf, pertanyaan ini tidak diragukan lagi keganjilan/keanehannya, dan pertanyaan ini menunjukkan bahwa orang yang mengingkari (bantahan dan penjelasan terhadap kesalahan manusia) ini tidak mengetahui manhaj salaf. Ia tidak mengetahui bagaimana para salaf dahulu di dalam mengajarkan ilmu, bagaimana mereka menyikapi orang yang menyelisihi al-haq, dan bagaimana mereka bersikap keras dan mengingkari orang ini secara langsung.Jadi para pendahulu kita yang shalih -semoga Allah meridhai mereka- mereka menjelaskan kesalahan dan waham (yang dilakukan manusia).

Di sini saya akan menjelaskan sebuah perkara yang penting dan permasalahan yang mendetail yang harus kita perhatikan; seorang penuntut ilmu maupun seorang ‘alim, karena tingginya kesibukannya dengan ilmu, seringnya ia menelaah kitab-kitab ilmu, dan banyaknya pergaulannya dengan penuntut ilmu,  ia menyikapi permasalahan ini bukan dalam rangka mencari-cari aurat manusia, namun hal ini termasuk di dalam bab membahas, membaca, dan menyebarkan ilmu. Jadi ketika ia melewati / mengetahui kesalahan-kesalahan ini, bukanlah sikap para penuntut ilmu menjelaskan kesalahan-kesalahan ini (kepada manusia) merupakan perbuatan mencari-cari kesalahan dan keteegelinciran fulan/orang tertentu! Sama sekali bukan!

Bahkan kami katakan kepada orang yang salah dan tergelincir, “Bila kamu belum (cukup) bagus ilmumu, maka janganlah kamu berbicara, sehingga niscaya tidak akan dicari-cari (kesalahanmu). Karena barangsiapa yang menampakkan keilmuannya kepada kita, maka kita berkedudukan sebagai orang yang mengambil faidah darinya maupun sebagai orang yang memberi faidah. Juga sebagai orang yang memperingatkan dan membenarkan, sebagaimana ini adalah sikap salaf kita, semoga Allah meridhai mereka.

Jadi permasalahannya sekarang yang ingin kami peringatkan adalah, bahwa para ulama’ dan penuntut ilmu yang membantah orang yang melakukan penyelisihan terhadap al-haq (secara terang-terangan), perbuatan mereka ini bukanlah mencari-cari aib manusia, namun hal ini menunjukkan tingginya kesibukan mereka dengan ilmu, banyaknya telaah kitab yang mereka lakukan, dan banyaknya faidah yang mereka miliki. Sehingga ketika mereka melihat kesalahan-kesalahan yang semisal  ini, mereka pun menjelaskannya.

Dan aku juga menjelaskan dan memperingatkan dari satu perkara yang penting, yaitu sebagaimana telah disebutkan sebelumnya,  bahwa manhaj salaf di dalam bantahan terhadap orang yang menyelisihi (al-haq) dan juga penjelasan terhadap kesalahan-kesalahannya, kita harus mengetahui dan mengerti secara yakin/pasti bahwa salaf kita -semoga Allah meridhai mereka- bila salah seorang dari mereka melakukan kesalahan, lalu kesalahan itu menjadi jelas baginya, ia akan senang. Ia senang dengan urusan ini (dengan teguran saudaranya), ia akan rujuk dari kesalahannya, menyebarkan kebenaran di tengah-tengah manusia, dan berterima kasih kepada orang yang telah menjelaskan kebenaran kepadanya.

Jadi kalian yang berkata bahwa mencari-cari dan membantah (kesalahan) orang yang menyelisihi al-haq bukan termasuk mahaj salaf, kami katakan kepada mereka ini, “Ya, bahkan ini termasuk manhaj salaf. Bahkan termasuk manhaj salaf, bahwa orang yang melakukan kesalahan di antara mereka, bila jelas kebenaran baginya, ia akan kembali dan ruju’  secara nyata dan terang-terangan, dan dia tidak akan melakukan tala’ub (bermain-main) di dalam perkataannya, ia akan menyalahkan dirinya, dan membersihkan agama Allah ‘Azza wajalla dari berbagai kekeliruan, kesalahan dan kontradiksi.

Ini semua berbeda dengan sikap yang kami lihat dan kami dengar dari sebagian orang di masa ini. Ketika ia dibantah, ia pun mencaci-maki dan menganggap bantahan atasnya adalah perbuatan mencari-cari kesalahan, dan bahwa bantahan terhadapnya adalah perbuatan menjatuhkan (harga dirinya yang di lakukan oleh) orang lain, dan sebagainya, yang ungkapan-ungkapannya tersebut tidak kita kenali kecuali muncul dari kalangan hizbiyyun. Dan di sini orang yang bersikap seperti ini adalah si sesat, Abul Hasan al-Ma’ribi beserta para pengikutnya.

Jadi wajib bagi kita untuk memperingatkan dari perkara dan perilaku ini. Engkau, bila Engkau menyeru manusia ke jalan Allah, janganlah engkau mementingkan dan melihat dirimu sendiri, menginginkan ketinggian diri di muka bumi ini. Engkau hanya dengan al-haqq akan menjadi tinggi, dan dengan al-bathil menjadi rendah. Bila kamu berdakwah menyeru kepada dirimu sendiri, ketika engkau melihat bantahan terhadap penyelisihan, engkau akan menganggapnya sebagai ‘perbuatan mencari-cari kesalahan dan ketergelinciran’, dan ungkapan-ungkapan lainnya yang rusak (akan muncul darimu). Demikianlah.

http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=136061.

Ditulis oleh Abu Muhammad as-Sunni al-Liibii
Dialihbahasakan oleh Ummu Maryam Lathifah

Sumber: ForumSalafy•Net


[AUDIO] Al-Ustadz Luqman Ba'abduh & Al-Ustadz Qomar Suaidi – 29 Prinsip Ahlussunnah

Rekaman Kajian Ilmiyah
Masjid Raya Ukhuwwah, Denpasar




» Al-Ustadz Luqman bin Muhammad Ba'abduh & Al-Ustadz Qomar Suaidi ~hafidzahumullah~

Sabtu & Ahad, 25-26 Shafar 1435H • 28-29/12/2013M

» 29 Prinsip Ahlussunnah

Download rakaman:


01. Tausiyah Shubuh – Ust. Qomar

02. Khutbah Jum'at – Ust. Luqman

03. Sifat-sifat Istri Shalihah – Ust. Qomar

04. Ushulus Sunnah Imam Ahmad – Ust. Qomar

05. Ushulus Sunnah Imam Ahmad – Ust. Luqman

06. Ushulus Sunnah Imam Ahmad – Ust. Qomar

07. Ushulus Sunnah Imam Ahmad – Ust. Luqman

08. Ushulus Sunnah Imam Ahmad – Ust. Qomar

09. Taushiyah Ba'da Shubuh – Ust. Luqman

Sumber: DammajHabibah•Net

[AUDIO] Al-Ustadz Luqman Ba'abduh & Al-Ustadz Qomar Suaidi – 29 Prinsip Ahlussunnah

Rekaman Kajian Ilmiyah
Masjid Raya Ukhuwwah, Denpasar




» Al-Ustadz Luqman bin Muhammad Ba'abduh & Al-Ustadz Qomar Suaidi ~hafidzahumullah~

Sabtu & Ahad, 25-26 Shafar 1435H • 28-29/12/2013M

» 29 Prinsip Ahlussunnah

Download rakaman:


01. Tausiyah Shubuh – Ust. Qomar

02. Khutbah Jum'at – Ust. Luqman

03. Sifat-sifat Istri Shalihah – Ust. Qomar

04. Ushulus Sunnah Imam Ahmad – Ust. Qomar

05. Ushulus Sunnah Imam Ahmad – Ust. Luqman

06. Ushulus Sunnah Imam Ahmad – Ust. Qomar

07. Ushulus Sunnah Imam Ahmad – Ust. Luqman

08. Ushulus Sunnah Imam Ahmad – Ust. Qomar

09. Taushiyah Ba'da Shubuh – Ust. Luqman

Sumber: DammajHabibah•Net

[AUDIO] Al-Ustadz Muhammad As-Sewed – Jadilah Seorang Salafy Sejati (Makna Ahlussunnah dan Makna Salafy)

Rekaman Kajian Ilmiyah
« Jadilah Seorang Salafy Sejati »



» Al-Ustadz Muhammad Umar As-Sewed ~hafidzahullah~ 

Download rakaman:



Pertemuan Ke-2
Masjid Al-Mujahidin, Slipi
Sabtu, 25 Shafar 1435H * 28/12/2013M

[Sesi 1] Makna Ahlussunnah & Makna Salafy





13.2MB

[Sesi 2] Makna Ahlussunnah & Makna Salafy9.3MB

[Sesi 3] Tanya Jawab7.2MB

Sumber: WhatsApp Salafy Indonesia
Kajian lalu:
Pertemuan Ke-1

Diperbolehkan menyebarkan rekaman kajian ini untuk kepentingan da’wah, bukan untuk tujuan komersil. Untuk mengunduh / download sila right click pada link file yang berkenaan dan pilih “Save Link As ...”. Semoga bermanfaat. Baarakallahu fiikum.