Pages

Membedah Analisa : Kenapa Fitnah Di Indonesia Tidak Kunjung Padam?

Membedah Analisa :
Kenapa Fitnah Di Indonesia Tidak Kunjung Padam?

Telah sampai kepada saya dua buah surat yang berisi sebuah “ANALISA” fitnah yang terjadi di Negara kita Indonesia yang tidak kunjung padam. Saudara penganalisis ini ingin memberikan analisa dan juga sekaligus solusi bagaimana menyelesaikan segala permasalahan yang terjadi di Indonesia. Namun sangat disayangkan, niat baik dia tercampuri dengan sikap fanatik pada satu pihak dan menyalahkan pihak yang lain dan juga padanya penggambaran serta pengkiyasan yang kurang tepat, maka hal ini bisa menyebabkan bagi orang membaca analisa tersebut dalam keadaan tidak tahu hakikat permasalahan yang sesungguhnya, akan terbawa oleh analisanya sehingga tergiring kemana penganalisis akan membawanya.

Berikut dua analisa yang sampai kepada saya tanpa saya edit dan ubah tulisannya:

a. Syaikh abdurrohman sejak fitnahnya hajuri sampai skrg blm ada bantahnx dimajlis umum trhadp syaikh yahya tdk pula dg tulisan…adkah ulama yg mangatakn “syaikh abdurrohman lembek manhajnya ?? “bgtpn masyaikh yg lainnya,sprt syaikh abdulloh adzamary,syaikh,muh.assoumaly.dll dlm keadaan mereka tau klo syaikh yahya memilki penyimpangan,dan ulama lain yg membantah syaikh yahya tdk menyalahkn ulama2 yg msh mendekati syaikh yahya dlm rangka menasehatinya bkn setuju dg penyimpanganx,dan ini letak perbedaan ulama yaman dg sebagian asatidzah di indo dalm menyikapi fitnah…khususnya fitnah org2 yg asalnya adlh ahlissunnah..klo kita mengikuti manhajx para ulama dlm hal ini,insyaAllah asatidzah salafiyyiin. di indo akn bersatu..allahu ‘alam ini menurut analisa ana pribadi.

b. Padahal fitnah diyaman lbh para dibanding indonesia.krn disana memang bersentuhan lgsg dg sebab2 fitnah.hajuri asalanya di sana,abul hasan alma’ribi tinggalnya disana bhkn punya pondok dan sntri org2 indo,zindani ada disana,rofido ada disana indonesia sbnrnya cm kena imbas2nya,org2 yamqnpun tdk kalah semangatnya klo ada fitnah,tp kenapa di indo lbh terasa hawanya dan dipusatnya (yaman)bagaikn tdk ada fitnah…krn sebagian ust.di indo trll mengembor2kn dan menyeret seluruh madu’ msk ke dlm lubang fitnah, klo ulama diyaman melibatkn org2 yg berkompoten sj,khususnya fitnah yg berkaitan sesama ahlissunnah.

Apakah benar apa yang disampaikan olehnya? Begitukah gambaran dan solusinya?

Sebelum saya meluruskan analisa ini, maka saya memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala untuk diberikan kemudahan bisa menulis kalimat ini dan juga keikhlasan dalam beramal.

Saya akan jawab dua analisa tersebut menjadi 5 point;

Pertama:

“Syaikhuna Abdurahman tidak pernah membantah Hajuri di majelis umum ataupun dalam bentuk tulisan.”

Jawaban:

Hal demikian memang benar, karena Syaikhuna dengan sifat tawadhu’ yang ada pada beliau, mencukupkan dengan bantahan Syaikh Rabi’, Syaikh ‘Ubaid dan Syaikh Al Wushaby hafizhahumullah, mereka adalah orang tua kita dan telah tidak diragukan lagi dari sisi keilmuan dan pengalaman mereka dalam menghadapi dan membantah para pengikut kebatilan. Kata beliau; “Jika bantahan mereka saja tidak didengar, maka lebih-lebih perkataan saya!”

Saya secara pribadi sebagai saksi dan juga sebagian ikhwah yang pernah bermajelis khushus dengan Syaikhuna, ketika beliau ditanya tentang Ihya At Turats, maka beliau menjawab; “Cukuplah bagi kita dengan apa yang telah disampaikan Syaikh Rabi’, Syaikh Muqbil dan ulama yang lainnya. Saya tidak ingin menyaingi mereka dalam membantah Ihya At Turats. Kita telah tercukupi dengan bantahan mereka. Jika bantahan mereka tidak didengar, maka lebih-lebih saya! Siapa saya?! Saya cuma penuntut ilmu.” Demikian makna kalimat beliau. Ini adalah diantara alasan beliau tidak membantah Hajuri.

Dan perlu diketahui, meskipun Syaikhuna Abdurahman tidak pernah membantah dimajelis umum, beliau telah mengemukakan ketidaksepakatan atas perbuatan Hajuri di majelis-majelis khushus, sebagaimana hal ini telah diketahui oleh siapa saja yang berziarah kepada beliau.

Salah satu contoh; suatu hari Syaikhuna Abdurahman setelah selesai setoran Al Quran dengan saya, beliau menyampaikan bahwa; “Hajuri ini sangat bahaya, di awal fitnah dia berusaha menyalakan api perpecahan diantara Ahlussunnah, kemudian menjatuhkan dan menghina harga diri para ulama dan sekarang dia menyulut api fitnah pertumpahan darah dengan Rafidhah.”

Apakah Syaikhuna selamanya diam, tidak membantah Hajuri dimajelis umum?

Setelah beliau melakukan ziarah ke kediaman Al Walid Syaikh Rabi hafizhahullah, Syaikhuna mendapatkan wasiat dari Syaikh Rabi’ untuk ikut aktif dalam membantah para pengikut kebatilan, sehingga tepatnya pada tanggal 13 Rabi’ul Awwal 1435 Syaikhuna membantah Shaleh Bakri, Hajuri dan para penyimpang dari manhaj Salafi di mejelis umum pada pelajaran antara shalat maghrib dan ‘isya. Dan selanjutnya juga beliau aktif dibeberapa majelis dan muhadharah membantah para pengikut kebatilan.

Dan juga sebenarnya kalau kalian selalu mengikuti muhadharah Syaikhuna dibeberapa daerah, kalian akan mendapatkan beliau telah lama membantah Abul Hasan Al Ma’ribi, IM, Ihya At Turats, Ali Hasan Al Halabi dan juga yang lainnya. Bahkan beliau pernah membantah Syi’ah Rafidhah dengan bantahan yang luar biasa dalam 11 khutbah jumat berturut-turut secara berseri, hal ini belum saya dapatkan pada ulama yang lainnya. Dengan hal ini, jelas tidak ada yang mengatakan Syaikhuna lembek dalam manhaj. silahkan lihat beberapa fatwa-fatwa manhajiyah Syaikhuna di website www.olamayemen.com .


Kedua:

“ Abdullah Adz Dzamari dan Ash Shoumali – hafizhaumallah masih belum membantah Hajuri, bahkan masih mengadakan pendekatan kepada Hajuri untuk menasehatinya dan para ulama tidak ada yang menyalahkan mereka.”

Jawaban:

Hal demikian memang benar, namun apakah pernah kalian mendengar bahwa Syaikh Abdullah Adz Dzamari dan Ash Shoumali hafizhahumallah membela Hajuri secara terang-terangan, ‘Jangan bantah Hajuri!’ Apakah kalian juga pernah mendengar mereka menyalahkan Syaikh Rabi’, Syaikh ‘Ubaid, Syaikh Al Wushabi, Syaikh Al Bura’i, Syaikh Al Imam dan ulama yang lainnya yang telah membantah Hajuri?! Tentunya tidak pernah kan?!

Kira-kira bisa tidak hal ini dikiyaskan dengan sebagian da’i yang ada di Indonesia?

Jujur saja kita katakan tidak bisa, karena mereka yang berhujjah tawaquf (diam) atau berhujjah masih ingin mengadakan pendekatan secara pribadi dalam fitnah yang terjadi di Negara kita, pada prakteknya mereka menyalahkan pihak-pihak yang melakukan bantahan, baik secara terang-terangan, sindiran ataupun diam-diam. Sungguh sikap inilah diantara yang menjadi penyebab fitnah tidak kunjung padam.

Kalau memang jujur para da’i yang masih ingin melakukan pendekatan pribadi dengan pihak yang menyimpang dengan hujjah mencontoh sebagian ulama di yaman, maka bersikaplah sebagaimana mereka bersikap.


Ketiga:

“Inilah letak perbedaan antara ulama yaman dengan sebagian asatidzah dalam menyikapi fitnah, khushusnya fitnah orang-orang yang asalnya Ahlussunnah. Kalau kita mengikuti manhajnya para ulama dalam hal ini, insya Allah asatidzah Salafiyin di Indonesia bersatu. Allahu a’lam.”

Jawaban:

Hal ini memang benar, namun dengan syarat kita harus benar-benar konsekuensi mengikuti manhajnya para ulama dan menyusuri jalan yang telah ditempuh mereka.

Apa itu?

a. Syaikh Abdullah Adz Dzamari dan Ash Shoumali hafizhaumallah tidak menyalahkan para ulama yang membantah pihak yang menyimpang (Hajuri).

b. Mengakui bahwa pihak yang didekati adalah salah dan menyimpang, sehingga harus dinasehati.

c. Tidak membela pihak yang menyimpang.

d. Kalimat mereka satu dengan jumhur ulama, bahwa pihak yang menyimpang adalah salah.

e. Ketika pihak yang menyimpang tetap dengan prinsipnya dan tidak mau bertaubat, maka mereka ditinggalkan.

Sudahkah hal ini ditempuh dan diteladani oleh para asatidzah yang tawaquf (diam) atau yang berhujjah masih ingin mengadakan pendekatan diri kepada pihak yang menyimpang?

Ataukah justru sebaliknya, malah menyalahkan pihak yang mentahdzir, membela yang menyimpang?!

Allah Ta’ala befirman:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ}

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur.” [QS. At Taubah:119]


Keempat:

“Fitnah di Yaman lebih parah dibanding dengan di Indonesia, karena disana memang bersentuhan langsung dengan sebab-sebab fitnah. Fitnah Hajuri, Abul Hasan, Zindani dan Rafidhah semuanya berasal dari yaman, sedangkan di Indonesia cuma kena imbasnya saja. Kenapa di Indonesia lebih terasa hawanya, sedangkan dipusatnya (Yaman) bagaikan tidak ada fitnah?!”

Jawaban:

Semua fitnah yang disebutkan diatas memang benar berasal dari Yaman.

Kenapa di Yaman lebih tenang, seolah-olah tidak ada fitnah?

Hal ini karena para Salafiyin berada diatas satu kalimat “Kami mendengar dan kami taat”, para Salafiyin ketika mendengar Syaikh Rabi’ membantah Abul Hasan dan menjelaskan penyimpangannya, maka para ulama Yaman dan ikhwah Salafiyin menjunjung tinggi dan menerima bantahan tersebut, sehingga ditinggalkanlah Abul Hasan. Demikian pula ketika para ulama membantah Hajuri, maka ikhwah Salafiyin di Yaman menjunjung tinggi dan menerima bantahan tersebut, sehingga ditinggalkanlah Hajuri. Tidak ada yang berani terang-terangan menentang bantahan mereka.

Para Salafiyin dan para santri, baik di Makbar, Dzamar dan Al Fiyusy mereka berada diatas kalimat yang satu, bersama Kibar Ulama dan menjunjung tinggi bantahan mereka, tanpa penentangan. Jika ada yang menentang, itupun sedikit sekali dan tidak berani terang-terangan, yaitu dari golongan orang-orang yang masih fanatik terhadap para penyimpang. Dengan inilah suasana di Yaman terlihat tenang, karena mereka tunduk dan hormat terhadap apa yang diterangkan para ulama dalam bantahan-bantahan mereka terhadap para penyimpang.

Kenapa di Indonesia kok lebih terasa hawanya?

a. Karena Ikhwah Salafiyin di Indonesia tidak berada diatas kalimat yang satu.

b. Karena sebagian ikhwah Salafiyin tidak tunduk dan hormat dengan nasehat dan bantahan para Ulama Kibar, bahkan ada diantara mereka mencela para Ulama – Na’udzubillah – dengan mengatakan “Bantahan Syaikh Rabi’ lemah”, “Tidak semua bantahan Syaikh Rabi’ kita harus terima, buktinya ada ulama yang tidak setuju dengan beliau”, ada juga yang mengatakan; “Fatwa Syaikh Rabi’ bukan wahyu, jadi tidak harus diikuti” dan perkataan kasar yang lainnya yang keluar dari sebagian Salafiyin dan sebagian penuntut ilmu yang baru menetas dari telurnya. Siapa kita ya akhi?! Beraninya mengatakan kalimat seperti ini. Sebutkan ulama yang perrnah mengatakan seperti perkataanmu itu?! Hati-hati ya akhi! Allah berfirman:

{وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا}

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” [QS. Al Isra: 36]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalla bersabda:

«إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ، مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا، يَهْوِي بِهَا فِي النَّارِ، أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ»

“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan kalimat tanpa diteliti yang karenanya ia terlempar ke neraka sejauh antara jarak timur dan barat.” [Muttafaqun 'alahi, dari shahabat Abu Hurairah]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalla bersabda:

«مَنْ كانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيصْمُتْ»

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia mengucapkan perkataan yang baik atau diam.” [Muttafaqun 'alahi, dari shahabat Abu Hurairah].

c. Di Indonesia, jika tidak setuju dengan pihak yang membantah, maka menyalahkan dan menganggap mereka keras dan extrim.

d. Sebagian Salafiyin berusaha mencari fatwa ulama yang lainnya guna mementahkan bantahan para ulama yang sudah ada terhadap para penyimpang.

Faktor-faktor inilah diantara penyebab kenapa fitnah di Indonesia lebih parah daripada di Yaman. Kalau seandainya kita jujur ingin keadaan di Indonesia seperti apa yang ada di Yaman, maka hendaknya kita mencontoh dan menempuh jalan mereka dalam menghadapi fitnah.

Perlu anda ketahui, bahwa para asatidzah yang membantah para penyimpang, telah berusaha sebelumnya mengadakan islah (perdamaian) dan pendekatan diri semenjak tahun 2002. Perdamaian demi perdamaian secara interen maupun langsung dihadapan para ulama telah dilakukan guna bersatunya para asatidzah Ahlussunnah dari semenjak tahun 2002 sampai puncaknya tahun 2012 di bulan Ramadhan. Konsultasi dengan para ulama pun masih terus dilakukan.

Disini, saudara penganalisis ini terkesan memandang rendah dari upaya yang telah ditempuh para asatidzah diatas dan seolah-olah analisa dia selama dia belajar di Yaman dua tahun (kurang lebihnya) itu paling baik dari apa yang telah ditempuh para asatidzah. Wallahul musta’an.


Kelima:

“Di Indonesia terlalu menggembor-gemborkan fitnah dan menyeret seluruh mad’u masuk ke dalam fitnah, kalau ulama di Yaman hanya melibatkan orang-orang yang berkompeten saja, khushusnya fitnah yang berkaitan sesama Ahlussunnah.”

Jawaban:

Kalimat saudara penganalisis bahwa “Di Indonesia terlalu menggembor-gemborkan fitnah” ini terlalu berlebih-lebihan dan kasar. Demkian juga kalimat dia “menyeret seluruh mad’u (para Salafiyin) masuk ke dalam fitnah” sepertinya terlalu berlebih-lebihan.

Bukankah sekarang yang berbicara tentang pihak menyimpang ulama kibar?! Syaikh Rabi’, Syaikh Muhamad bin Hadi dan Syaikh Bukhari hafizhahumullah?! Apakah mereka tidak punya kompeten dalam menangani fitnah?!

Perlu diketahui bahwa Syaikh Rabi’ hafizhahullah adalah ulama yang paling mengetahui tentang dakwah di Indonesia, karena beliau telah mengikuti perkembangan dan problemantika dakwah semenjak tahun 1994/1995.

Ketahuilah, sesungguhnya para asatidzah hanyalah menyampaikan tahdzirnya para ulama terhadap pihak yang menyimpang kepada para Salafiyin. Dan ini merupakan bentuk amanah yang harus disampaikan kepada umat.

Pada hakekatnya, tahdzir para ulama itu merupakan bentuk kasih sayang dan nasehat agar pihak yang menyimpang kembali kepada kebenaran. Apakah kamu akan katakan bahwa tahdzir para ulama yang memang berkompeten dalam bidang tersebut dikatakan fitnah? Kamu katakan; ‘Jangan disebar, karena ini akan memecah belah umat?!’ Kamu kemanakan firman Allah Ta’ala:

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا

“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri (para Ulama) di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).” [QS. An Nisaa:83]

Dijelaskan oleh As Sa’di_rahimahullah, bahwa yang dimaksud Ulil Amri mereka adalah orang-orang yang berilmu, berakal, penasehat, tenang dan teguh dalam bersikap.

Dan juga firman Allah Ta’ala:

{فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ}

“maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.” [QS. AN Nahl: 43 dan Al Anbiya: 7]

Kalimat dia “kalau ulama di Yaman hanya melibatkan orang-orang yang berkompeten saja, khushusnya fitnah yang berkaitan sesama Ahlussunnah”, mungkin saudara kita ini belum pernah ikut keluar dakwah ke masyarakat Yaman dan melihat keadaan masyarakat Yaman, terkhushus kalangan Salafiyin. Saya secara pribadi pernah beberapa kali ikut keluar dakwah dan juga ziaroh ke beberapa desa. Saya dapatkan Ikhwah Salafiyin membicarakan Hajuri dan ini bukan hanya di satu atau dua kampung saja.

Ketahuilah, bahwa dimana sebagian ulama Yaman membuat muhadharah pada suatu desa maka para pengikut Hajuri menyaingi membuat muhadharah di desa itu pula. Para pengikut Hajuri banyak diberbagai tempat dimana mereka berada, selalu melakukan penggembosan dan makar serta celaan terhadap para ulama. Oleh karena itu, para ulama yang bukan termasuk kibar ulama Yaman dan juga para mustafidh (istilah kita ustadz) ikut andil melakukan tahdzir dan penjelasan tentang fitnah Hajuri kepada para salafiyin. Sehingga kalau dikatakan di Yaman yang bicara masalah tahdzir hanya ulama kibar Yaman saja, maka ini adalah salah.

Adapun di Indonesia, karena di Negara kita tidak ada ulama, maka para asatidzah-lah yang bicara menjelaskan dan menyampaikan tahdzirnya para ulama. Mereka punya hak untuk menyampaikan, terlebih lagi wilayah Indonesia yang begitu luas, maka para asatidzah masing-masing daerah membantu menyampaikan fatwa atau tahdzir para ulama jika memang dibutuhkan. Jangan dimaknakan bahwa para asatidzah telah memposisikan dirinya sebagai ulama Jarah wa Ta’dil! Karena mereka hanya sekedar menyampaikan tahdzir para ulama terhadap para penyimpang. Wallahu ‘alam.

Saya nasehatkan untuk pribadi saya secara khusus dan juga saudaraku sekalian untuk jujur dalam berkata dan tidak mengikuti hawa nafsunya. Pandanglah suatu masalah dengan ilmiyah, adil, bukan diatas kefanatikan. Ikutilah bimbingan para ulama kibar, karena yang demikian ini akan membawa keberkahan bagi kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

«الْبَرَكَةُ مَعَ أَكَابِرِكُمْ»

“Barakah itu bersama para pembesar kalian” [HR. Ibnu Hiban, dishahihkan Syaikh Al Albani dalam kitabnya Ash Shahihah no 1778]

Demikian yang bisa saya jawab pada kesempatan ini dari dua analisa terhadap fitnah di Indonesia yang telah sampai kepada saya. Disana masih banyak perkara yang belum tersampaikan, namun saya rasa apa yang sudah tertulis ini cukup mewakilinya.  Semoga tulisan ini bermanfaat bagi saudara kami yang belum mengetahui hakekat permasalahan yang sebenarnya.

Apabila ada benarnya dari apa yang ana tulis, itu semata-mata datangnya dari Allah Ta’ala, dan jika ada salahnya maka itu datangnya dari setan dan dari kejahilan saya.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

✏ Muhibbukum Fillah;

Abu ‘Ubaidah Iqbal bin Damiri Al Jawy_15 Rajab 1435/ 14 Mei 2014_di Daarul Hadits Al Fiyusy_Harasahallah

Sumber nukilan:
WA. Thullab Al Fiyusy via situs TukPencariAl-Haq

Kajian Al-FawaaidNet

Diperbolehkan menyebarkan rekaman kajian ini untuk kepentingan da’wah, bukan untuk tujuan komersil serta tetap mencantumkan URL Sumber. Baarakallahu fiikum.