WHAT'S NEW?
Loading...

Wahai Anakku, Bersemangatlah Untuk Menyebarkan Ilmu

::: WAHAI ANAKKU, BERSEMANGATLAH UNTUK MENYEBARKAN ILMU :::

[Wasiat Dari Seorang Awam kepada Syaikh Ibnu 'Utsaimin-rahimahullah-]
               
✹✹✹

Ini adalah sebuah nasehat yang agung dan faedah yang mulia, yang aku (Abu 'Abdillah Karim At-Tunisi) dengar dari ta’liqot Syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullah atas kitab Shahih Muslim, semoga Allah memberi manfaat dengannya.

Beliau rahimahullah ketika menjelaskan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

( ﺇﺫﺍ ﻣﺎﺕ ﺑﻦ ﺁﺩﻡ ﺇﻧﻘﻄﻊ ﻋﻤﻠﻪ ﺇﻻّ ﻣﻦ ﺛﻼﺙ .. ‏).ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ

"Jika seorang anak Adam meninggal, amalannya terputus kecuali dari tiga perkara, (diantaranya) … ilmu yang bermanfaat.”

Hadits ini termasuk banyak mendorong seseorang untuk menuntut ilmu yang bermanfaat, yang diharapkan dengannya untuk mendapat wajah Allah.

Demikian juga termasuk yang menjadikan seseorang untuk berusaha dengan segala yang dia mampu untuk menyebarkan ilmu dengan segala sarana, sampaipun di pertemuan-pertemuan khusus yang seseorang yang diberi taufik mungkin untuk menyebarkan ilmunya.

Aku telah diberi wasiat oleh seorang awam:

ﻳﺎ ﺑُﻨﻲّ ﺇﺣﺮﺹ ﻋﻠﻰ ﻧﺸﺮ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺣﺘّﻰ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺠﺎﻟﺲ ﻣﺠﺎﻟﺲ ﺍﻟﻘﻬﻮﺓ ﺃﻭ ﺍﻟﻐﺪﺍﺀ ﺃﻭ ﻣﺎ ﺃﺷﺒﻪ ﺫﻟﻚ

“Wahai anakku, semangatlah untuk menyebarkan ilmu WALAUPUN DI TEMPAT ORANG MINUM KOPI ATAU SARAPAN, atau yang semisalnya.

ﺇﺣﺮﺹ ﻋﻠﻴﻪ ﻻ ﺗﺘﺮﻙ ﻣﺠﻠﺴﺎ ﻭﺍﺣﺪﺍ ﺇﻻّ ﻭﺃﻫﺪﻳﺖَ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺠﺎﻟﺴﻴﻦ ﻭ ﻟﻮ ﻣﺴﺄﻟﺔ ﻭﺍﺣﺪﺓ

Semangatlah atas hal itu. Jangan engkau tinggalkan satu tempat pun KECUALI ENGKAU MEMBERIKAN KEPADA ORANG-ORANG YANG BERSAMAMU ILMU, WALAUPUN HANYA SATU.”

Demikian wasiatnya kepadaku. Dan aku berwasiat dengan hal itu kepada kalian, karena itu adalah sebuah nasehat yang bermanfaat.

Kitabul Buyu’ kaset kesebelas

------

ﻓﻬﺬﻩ ﻧﺼﻴﺤﺔ ﻋﻈﻴﻤﺔ ﻭﻓﺎﺋﺪﺓ ﺟﻠﻴﻠﺔ ﺳﻤﻌﺘﻬﺎ ﻣﻦ ﺗﻌﻠﻴﻘﺎﺕ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﺻﺤﻴﺢ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﻣﺴﻠﻢ ﻋﺴﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻥ ﻳﻨﻔﻊ ﺑﻬﺎ.

ﻗﺎﻝ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﺳﻴﺎﻕ ﺷﺮﺣﻪ ﻟﺤﺪﻳﺚ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ‏

( ﺇﺫﺍ ﻣﺎﺕ ﺑﻦ ﺁﺩﻡ ﺇﻧﻘﻄﻊ ﻋﻤﻠﻪ ﺇﻻّ ﻣﻦ ﺛﻼﺙ ..ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ‏)

 ﻭﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﺃﻛﺜﺮ ﻣﺎ ﻳﺤﻔﺰ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﻃﻠﺐ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺍﻟﻨﺎﻓﻊ ﻳﺒﺘﻐﻲ ﺑﺬﻟﻚ ﻭﺟﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻭ ﺃﻳﻀﺎ ﻣﻦ ﺃﺷﺪ ﻣﺎ ﻳﺠﻌﻞ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻳﺴﻌﻰ ﺑﻜﻞ ﻣﺎ ﻳﺴﺘﻄﻴﻊ ﻋﻠﻰ ﻧﺸﺮ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺑﻜﻞ ﻭﺳﻴﻠﺔ ﺣﺘﻰ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺠﺎﻟﺲ ﺍﻟﺨﺎﺻﺔ ﻳﻤﻜﻦ ﻟﻺﻧﺴﺎﻥ ﺍﻟﻤﻮﻓّﻖ ﺃﻥ ﻳﻨﺸﺮ ﻋﻠﻤﻪ
 ﻭﻟﻘﺪ ﺃﻭﺻﺎﻧﻲ ﺭﺟﻞ ﻣﻦ ﻋﺎﻣّﺔ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻗﺎﻝ ﻟﻲ ﻳﺎ ﺑُﻨﻲّ ﺇﺣﺮﺹ ﻋﻠﻰ ﻧﺸﺮ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺣﺘّﻰ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺠﺎﻟﺲ ﻣﺠﺎﻟﺲ ﺍﻟﻘﻬﻮﺓ ﺃﻭ ﺍﻟﻐﺪﺍﺀ ﺃﻭ ﻣﺎ ﺃﺷﺒﻪ ﺫﻟﻚ

ﺇﺣﺮﺹ ﻋﻠﻴﻪ ﻻ ﺗﺘﺮﻙ ﻣﺠﻠﺴﺎ ﻭﺍﺣﺪﺍ ﺇﻻّ ﻭﺃﻫﺪﻳﺖَ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺠﺎﻟﺴﻴﻦ ﻭ ﻟﻮ ﻣﺴﺄﻟﺔ ﻭﺍﺣﺪﺓ,
☝ ﺃﻭﺻﺎﻧﻲ ﺑﺬﻟﻚ ﻭ ﺃﻧﺎ ﺃﻭﺻﻴﻜﻢ ﺑﺬﻟﻚ ﻷﻧﻬﺎ ﻭﺻﻴّﺔ ﻧﺎﻓﻌﺔ ...

ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﺒﻴﻮﻉ ﺷﺮﻳﻂ ١١

✺❃✺❃✺❃✺

Sumber: http://www.albaidha.net/vb/showthread.php?t=31424

✒Alih Bahasa: Abu Sa'ad Ahmad Al-Faruq Al-Makassari حفظه الله - [FBF 3]

__________________
مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
❂ WA Forum Berbagi Faidah [FBF]

Wahai Anakku, Bersemangatlah Untuk Menyebarkan Ilmu

::: WAHAI ANAKKU, BERSEMANGATLAH UNTUK MENYEBARKAN ILMU :::

[Wasiat Dari Seorang Awam kepada Syaikh Ibnu 'Utsaimin-rahimahullah-]
               
✹✹✹

Ini adalah sebuah nasehat yang agung dan faedah yang mulia, yang aku (Abu 'Abdillah Karim At-Tunisi) dengar dari ta’liqot Syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullah atas kitab Shahih Muslim, semoga Allah memberi manfaat dengannya.

Beliau rahimahullah ketika menjelaskan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

( ﺇﺫﺍ ﻣﺎﺕ ﺑﻦ ﺁﺩﻡ ﺇﻧﻘﻄﻊ ﻋﻤﻠﻪ ﺇﻻّ ﻣﻦ ﺛﻼﺙ .. ‏).ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ

"Jika seorang anak Adam meninggal, amalannya terputus kecuali dari tiga perkara, (diantaranya) … ilmu yang bermanfaat.”

Hadits ini termasuk banyak mendorong seseorang untuk menuntut ilmu yang bermanfaat, yang diharapkan dengannya untuk mendapat wajah Allah.

Demikian juga termasuk yang menjadikan seseorang untuk berusaha dengan segala yang dia mampu untuk menyebarkan ilmu dengan segala sarana, sampaipun di pertemuan-pertemuan khusus yang seseorang yang diberi taufik mungkin untuk menyebarkan ilmunya.

Aku telah diberi wasiat oleh seorang awam:

ﻳﺎ ﺑُﻨﻲّ ﺇﺣﺮﺹ ﻋﻠﻰ ﻧﺸﺮ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺣﺘّﻰ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺠﺎﻟﺲ ﻣﺠﺎﻟﺲ ﺍﻟﻘﻬﻮﺓ ﺃﻭ ﺍﻟﻐﺪﺍﺀ ﺃﻭ ﻣﺎ ﺃﺷﺒﻪ ﺫﻟﻚ

“Wahai anakku, semangatlah untuk menyebarkan ilmu WALAUPUN DI TEMPAT ORANG MINUM KOPI ATAU SARAPAN, atau yang semisalnya.

ﺇﺣﺮﺹ ﻋﻠﻴﻪ ﻻ ﺗﺘﺮﻙ ﻣﺠﻠﺴﺎ ﻭﺍﺣﺪﺍ ﺇﻻّ ﻭﺃﻫﺪﻳﺖَ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺠﺎﻟﺴﻴﻦ ﻭ ﻟﻮ ﻣﺴﺄﻟﺔ ﻭﺍﺣﺪﺓ

Semangatlah atas hal itu. Jangan engkau tinggalkan satu tempat pun KECUALI ENGKAU MEMBERIKAN KEPADA ORANG-ORANG YANG BERSAMAMU ILMU, WALAUPUN HANYA SATU.”

Demikian wasiatnya kepadaku. Dan aku berwasiat dengan hal itu kepada kalian, karena itu adalah sebuah nasehat yang bermanfaat.

Kitabul Buyu’ kaset kesebelas

------

ﻓﻬﺬﻩ ﻧﺼﻴﺤﺔ ﻋﻈﻴﻤﺔ ﻭﻓﺎﺋﺪﺓ ﺟﻠﻴﻠﺔ ﺳﻤﻌﺘﻬﺎ ﻣﻦ ﺗﻌﻠﻴﻘﺎﺕ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﺻﺤﻴﺢ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﻣﺴﻠﻢ ﻋﺴﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻥ ﻳﻨﻔﻊ ﺑﻬﺎ.

ﻗﺎﻝ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﺳﻴﺎﻕ ﺷﺮﺣﻪ ﻟﺤﺪﻳﺚ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ‏

( ﺇﺫﺍ ﻣﺎﺕ ﺑﻦ ﺁﺩﻡ ﺇﻧﻘﻄﻊ ﻋﻤﻠﻪ ﺇﻻّ ﻣﻦ ﺛﻼﺙ ..ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ‏)

 ﻭﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﺃﻛﺜﺮ ﻣﺎ ﻳﺤﻔﺰ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﻃﻠﺐ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺍﻟﻨﺎﻓﻊ ﻳﺒﺘﻐﻲ ﺑﺬﻟﻚ ﻭﺟﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻭ ﺃﻳﻀﺎ ﻣﻦ ﺃﺷﺪ ﻣﺎ ﻳﺠﻌﻞ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻳﺴﻌﻰ ﺑﻜﻞ ﻣﺎ ﻳﺴﺘﻄﻴﻊ ﻋﻠﻰ ﻧﺸﺮ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺑﻜﻞ ﻭﺳﻴﻠﺔ ﺣﺘﻰ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺠﺎﻟﺲ ﺍﻟﺨﺎﺻﺔ ﻳﻤﻜﻦ ﻟﻺﻧﺴﺎﻥ ﺍﻟﻤﻮﻓّﻖ ﺃﻥ ﻳﻨﺸﺮ ﻋﻠﻤﻪ
 ﻭﻟﻘﺪ ﺃﻭﺻﺎﻧﻲ ﺭﺟﻞ ﻣﻦ ﻋﺎﻣّﺔ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻗﺎﻝ ﻟﻲ ﻳﺎ ﺑُﻨﻲّ ﺇﺣﺮﺹ ﻋﻠﻰ ﻧﺸﺮ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺣﺘّﻰ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺠﺎﻟﺲ ﻣﺠﺎﻟﺲ ﺍﻟﻘﻬﻮﺓ ﺃﻭ ﺍﻟﻐﺪﺍﺀ ﺃﻭ ﻣﺎ ﺃﺷﺒﻪ ﺫﻟﻚ

ﺇﺣﺮﺹ ﻋﻠﻴﻪ ﻻ ﺗﺘﺮﻙ ﻣﺠﻠﺴﺎ ﻭﺍﺣﺪﺍ ﺇﻻّ ﻭﺃﻫﺪﻳﺖَ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺠﺎﻟﺴﻴﻦ ﻭ ﻟﻮ ﻣﺴﺄﻟﺔ ﻭﺍﺣﺪﺓ,
☝ ﺃﻭﺻﺎﻧﻲ ﺑﺬﻟﻚ ﻭ ﺃﻧﺎ ﺃﻭﺻﻴﻜﻢ ﺑﺬﻟﻚ ﻷﻧﻬﺎ ﻭﺻﻴّﺔ ﻧﺎﻓﻌﺔ ...

ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﺒﻴﻮﻉ ﺷﺮﻳﻂ ١١

✺❃✺❃✺❃✺

Sumber: http://www.albaidha.net/vb/showthread.php?t=31424

✒Alih Bahasa: Abu Sa'ad Ahmad Al-Faruq Al-Makassari حفظه الله - [FBF 3]

__________________
مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
❂ WA Forum Berbagi Faidah [FBF]

Bathilnya Kaidah: Ambil Yang Haq dan Tinggalkan Yang Bathil Dari Ahli Bid’ah

::: BATHILNYA KAIDAH: AMBIL YANG HAQ DAN TINGGALKAN YANG BATHIL DARI AHLI BID’AH :::

Asy-Syaikh Al-'Allamah Muhammad bin Sholih Al-'Utsaimin رحمه الله

✹✹✹

Dan yang dapat diketahui dari ucapan Syaikh (Bakar Abu Zaid, pent) -rohimahulloh wa waffaqohulloh- bahwasanya tidak boleh diambil dari shohibul bid'ah sedikitpun, sekalipun dalam perkara yang tidak berkaitan dengan kebid'ahannya, sebagai contoh: apabila kita temukan ada seorang mubtadi' akan tetapi dia bagus dalam bidang ilmu bahasa arab: seperti ilmu balaghoh, nahwu dan shorof, maka apakah kita bermajelis dengannya dan kita ambil darinya ilmu ini yang mana ada pada dirinya atau kita meninggalkannya maka yang tampak dari ucapan Syaikh (Bakar Abu Zaid, pent) bahwa kita TIDAK Boleh BERMAJELIS kepadanya, karena hal itu akan memunculkan 2 kerusakan:

☝ Pertama: DIA AKAN TERTIPU DENGAN DIRINYA SENDIRI, sehingga dia mengira bahwa dirinya di atas Al-Haq.

✌ Kerusakan kedua: MANUSIA AKAN TERTIPU DENGAN DIRUNYA, dimana para penuntut ilmu meriwayatkan atas ucapannya, dan mengambil ilmu darinya, sedangkan orang awam tidak dapat membedakan antara ilmu nahwu, dengan ilmu aqidah, oleh karena ini kita lihat bahwa orang-orang tidak (boleh) bermajelis kepada ahlil ahwa wal bida' (para pengikut hawa nafsu dan kebid'ahan) secara mutlak, sekalipun tidak didapatkan ilmu bahasa arab dan balaghoh, serta ilmu shorof misalnya kecuali ada pada mereka, maka nanti pasti Alloh akan menjadikan baginya yang lebih baik darinya, karena kita jika seandainya mendatangi mereka-mereka, dan kita pulang-pergi menemui mereka maka tidak diragukan bahwasanya akan menjadikan mereka tertipu, dan manusia tertipu dengan mereka.

Syarah Hilyah Tholobil Ilmi, Hal: 93-94.

✲✲✲

إبطال قاعدة خذالحق واترك الباطل من أهل البدع

. وقال الشيخ محمد بن صالح العثيمين - رحمه الله - :

" والذي يعلم من كلام الشيخ - رحمه الله ووفقه الله - أنه لا يؤخذ عن صاحب البدعة شيء ،حتى فيما لا يتعلق ببدعته ،فمثلاً: إذا وجدنا رجلاً مبتدعاً لكنه جيد في علم العربية: كالبلاغة والنحو والصرف ،فهل نجلس إليه ونأخذ منه هذا العلم الذي هو موجوداً عنده أم نهجره الظاهر من كلام الشيخ أننا لا نجلس إليه ،لأن ذلك يوجب مفسدتين :

☝ الأولى اغتراره بنفسه ،فيحسب أنه على حق .
✌ المفسدة الثانية اغترار الناس به ،حيث يتوارد عليه طلاب العلم ،ويتلقون منه ، والعامي لا يفرق بين علم النحو ،وعلم العقيدة ،لهذا نرى أن الإنسان لا يجلس إلى أهل الأهواء والبدع مطلقاً ،حتى إن كان لا يجد علم العربية والبلاغة ،والصرف مثلاً إلا عندهم ،فسيجعل الله له خيراً منها ،لأننا لو نأتي إلى هؤلاء ،ونتردد إليهم لا شك أنه يوجب غرورهم ،واغترار الناس بهم."

شرح حلية طالب العلم ص93-94

                       ----

Sumber artikel: http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=125686&page=2

✒ Alih Bahasa: Al-Ustadz Muhammad Sholehuddin Abu 'Abduh (Karawang) حفظه الله [FBF 2]

______________________
مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
❂ WA Forum Berbagi Faidah [FBF]

Bathilnya Kaidah: Ambil Yang Haq dan Tinggalkan Yang Bathil Dari Ahli Bid’ah

::: BATHILNYA KAIDAH: AMBIL YANG HAQ DAN TINGGALKAN YANG BATHIL DARI AHLI BID’AH :::

Asy-Syaikh Al-'Allamah Muhammad bin Sholih Al-'Utsaimin رحمه الله

✹✹✹

Dan yang dapat diketahui dari ucapan Syaikh (Bakar Abu Zaid, pent) -rohimahulloh wa waffaqohulloh- bahwasanya tidak boleh diambil dari shohibul bid'ah sedikitpun, sekalipun dalam perkara yang tidak berkaitan dengan kebid'ahannya, sebagai contoh: apabila kita temukan ada seorang mubtadi' akan tetapi dia bagus dalam bidang ilmu bahasa arab: seperti ilmu balaghoh, nahwu dan shorof, maka apakah kita bermajelis dengannya dan kita ambil darinya ilmu ini yang mana ada pada dirinya atau kita meninggalkannya maka yang tampak dari ucapan Syaikh (Bakar Abu Zaid, pent) bahwa kita TIDAK Boleh BERMAJELIS kepadanya, karena hal itu akan memunculkan 2 kerusakan:

☝ Pertama: DIA AKAN TERTIPU DENGAN DIRINYA SENDIRI, sehingga dia mengira bahwa dirinya di atas Al-Haq.

✌ Kerusakan kedua: MANUSIA AKAN TERTIPU DENGAN DIRUNYA, dimana para penuntut ilmu meriwayatkan atas ucapannya, dan mengambil ilmu darinya, sedangkan orang awam tidak dapat membedakan antara ilmu nahwu, dengan ilmu aqidah, oleh karena ini kita lihat bahwa orang-orang tidak (boleh) bermajelis kepada ahlil ahwa wal bida' (para pengikut hawa nafsu dan kebid'ahan) secara mutlak, sekalipun tidak didapatkan ilmu bahasa arab dan balaghoh, serta ilmu shorof misalnya kecuali ada pada mereka, maka nanti pasti Alloh akan menjadikan baginya yang lebih baik darinya, karena kita jika seandainya mendatangi mereka-mereka, dan kita pulang-pergi menemui mereka maka tidak diragukan bahwasanya akan menjadikan mereka tertipu, dan manusia tertipu dengan mereka.

Syarah Hilyah Tholobil Ilmi, Hal: 93-94.

✲✲✲

إبطال قاعدة خذالحق واترك الباطل من أهل البدع

. وقال الشيخ محمد بن صالح العثيمين - رحمه الله - :

" والذي يعلم من كلام الشيخ - رحمه الله ووفقه الله - أنه لا يؤخذ عن صاحب البدعة شيء ،حتى فيما لا يتعلق ببدعته ،فمثلاً: إذا وجدنا رجلاً مبتدعاً لكنه جيد في علم العربية: كالبلاغة والنحو والصرف ،فهل نجلس إليه ونأخذ منه هذا العلم الذي هو موجوداً عنده أم نهجره الظاهر من كلام الشيخ أننا لا نجلس إليه ،لأن ذلك يوجب مفسدتين :

☝ الأولى اغتراره بنفسه ،فيحسب أنه على حق .
✌ المفسدة الثانية اغترار الناس به ،حيث يتوارد عليه طلاب العلم ،ويتلقون منه ، والعامي لا يفرق بين علم النحو ،وعلم العقيدة ،لهذا نرى أن الإنسان لا يجلس إلى أهل الأهواء والبدع مطلقاً ،حتى إن كان لا يجد علم العربية والبلاغة ،والصرف مثلاً إلا عندهم ،فسيجعل الله له خيراً منها ،لأننا لو نأتي إلى هؤلاء ،ونتردد إليهم لا شك أنه يوجب غرورهم ،واغترار الناس بهم."

شرح حلية طالب العلم ص93-94

                       ----

Sumber artikel: http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=125686&page=2

✒ Alih Bahasa: Al-Ustadz Muhammad Sholehuddin Abu 'Abduh (Karawang) حفظه الله [FBF 2]

______________________
مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
❂ WA Forum Berbagi Faidah [FBF]

Hikmah Tentang Larangan Seorang Anak Tidur Seranjang atau Satu Selimut Dengan Saudara atau Saudarinya

::: HIKMAH TENTANG LARANGAN SEORANG ANAK TIDUR SERANJANG ATAU SATU SELIMUT DENGAN SAUDARA ATAU SAUDARINYA :::

✹✹✹

Mungkin sebagian kita masih bingung dan belum tahu, mengapa Nabi Shallallaahu 'alaihi wasallam memerintahkan para orangtua agar memisah tempat tidur anak-anaknya semenjak kecil.

Beliau tidak memperkenankan seseorang tidur satu ranjang atau satu selimut antara seorang anak dengan saudara atau saudarinya.

                      ------

Maka berikut para kibar ulama dalam Lajnah Da`imah- semoga Allah memberkahi ilmu mereka - menjelaskan akan hikmah larangan tersebut.

نهى - صلى الله عليه وسلم - عن نوم الأخ والأخت في فراش ولحاف واحد بقوله  صلى الله عليه وسلم :

مروا أبناءكم بالصلاة لسبع، واضربوهم عليها لعشر، وفرقوا بينهم في المضاجع

لأن في هذا السن يبدأ ميل الذكر إلى الأنثى، وميل الأنثى إلى الذكر، مع قصور في العقل، فيكون ذلك وسيلة لاستجرار الشيطان لهما إلى ما لا يحل.

_________________

Rasululloh Shallallaahu alaihi wasallam melarang seorang saudara tidur bersama saudarinya dalam satu tempat tidur ataupun satu selimut berdasarkan Sabda beliau Shallallaahu alaihi wasallam :

⚡مروا أبناءكم بالصلاة لسبع واضربو عليهم لعشر و فرقوا بينهم في المضاجع

“Perintahkanlah  anak-anak kalian untuk sholat ketika mereka berumur 7 tahun , pukullah mereka (apabila tidak mengerjakan sholat,pent) ketika berumur 10 tahun  dan pisahkanlah  tempat tidur mereka.”

☝Hal ini dikarenakan pada umur-umur ini 'ketertarikan' laki-laki terhadap perempuan mulai muncul , begitu juga 'ketertarikan' perempuan terhadap laki-laki mulai muncul. Padahal akal-akal mereka masih dangkal.

فيكون ذلك وسيلة لاستجرار الشيطان لهما إلى ما لا يحل

Maka hal tersebut bisa menjadi perantara syaithon untuk menyeret mereka pada perkara yang tidak halal.

Sumber: Fatawaa Lajnah Daaimah 26/336

✒ Alih Bahasa: Abu Mas'ud Surabaya حفظه الله [FBF-7]

__________________
مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
❂ WA Forum Berbagi Faidah [FBF]

Hikmah Tentang Larangan Seorang Anak Tidur Seranjang atau Satu Selimut Dengan Saudara atau Saudarinya

::: HIKMAH TENTANG LARANGAN SEORANG ANAK TIDUR SERANJANG ATAU SATU SELIMUT DENGAN SAUDARA ATAU SAUDARINYA :::

✹✹✹

Mungkin sebagian kita masih bingung dan belum tahu, mengapa Nabi Shallallaahu 'alaihi wasallam memerintahkan para orangtua agar memisah tempat tidur anak-anaknya semenjak kecil.

Beliau tidak memperkenankan seseorang tidur satu ranjang atau satu selimut antara seorang anak dengan saudara atau saudarinya.

                      ------

Maka berikut para kibar ulama dalam Lajnah Da`imah- semoga Allah memberkahi ilmu mereka - menjelaskan akan hikmah larangan tersebut.

نهى - صلى الله عليه وسلم - عن نوم الأخ والأخت في فراش ولحاف واحد بقوله  صلى الله عليه وسلم :

مروا أبناءكم بالصلاة لسبع، واضربوهم عليها لعشر، وفرقوا بينهم في المضاجع

لأن في هذا السن يبدأ ميل الذكر إلى الأنثى، وميل الأنثى إلى الذكر، مع قصور في العقل، فيكون ذلك وسيلة لاستجرار الشيطان لهما إلى ما لا يحل.

_________________

Rasululloh Shallallaahu alaihi wasallam melarang seorang saudara tidur bersama saudarinya dalam satu tempat tidur ataupun satu selimut berdasarkan Sabda beliau Shallallaahu alaihi wasallam :

⚡مروا أبناءكم بالصلاة لسبع واضربو عليهم لعشر و فرقوا بينهم في المضاجع

“Perintahkanlah  anak-anak kalian untuk sholat ketika mereka berumur 7 tahun , pukullah mereka (apabila tidak mengerjakan sholat,pent) ketika berumur 10 tahun  dan pisahkanlah  tempat tidur mereka.”

☝Hal ini dikarenakan pada umur-umur ini 'ketertarikan' laki-laki terhadap perempuan mulai muncul , begitu juga 'ketertarikan' perempuan terhadap laki-laki mulai muncul. Padahal akal-akal mereka masih dangkal.

فيكون ذلك وسيلة لاستجرار الشيطان لهما إلى ما لا يحل

Maka hal tersebut bisa menjadi perantara syaithon untuk menyeret mereka pada perkara yang tidak halal.

Sumber: Fatawaa Lajnah Daaimah 26/336

✒ Alih Bahasa: Abu Mas'ud Surabaya حفظه الله [FBF-7]

__________________
مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
❂ WA Forum Berbagi Faidah [FBF]

Amalan Itu Tergantung Pada Akhirnya

::: AMALAN ITU TERGANTUNG PADA AKHIRNYA :::

                           ✹✹✹

Pertanyaan:
Apakah yang dimaksud dengan bahwasannya Amalan itu tergantung pada akhirnya, dan seperti apa contohnya ?

Jawaban:
العمل بالخواتيم، يعني عند الموت ما يموت عليه الإنسان

☝Al 'Amalu bilkhawatim (Amalan seseorang itu tergantung pada akhirnya) yakni ketika kematian, yakni amalan ketika seorang manusia mati diatasnya.

إن مات على خير وهو من أهل الخير، وأن مات على الشر وهو من أهل الشر.

Apabila ia mati diatas kebaikan maka ia termasuk ahlul khair ( orang-orang yang mendapatkan kebaikan) , namun apabila ia mati diatas kejelekan maka ia termasuk ahlusysyar (orang-orang yang mendapat kejelekan)

Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda :

إن أحدكم ليعمل بعمل أهل الجنة حتى ما يكون بينه وبينها ذراع فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل النار فيدخلها وإن أحدكم ليعمل بعمل أهل النار حتى ما يكون بينه وبينها ذراع فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل الجنة فيدخلها

"Sungguh salah seorang kalian beramal dengan amalan ahlul jannah (penghuni surga) sampai-sampai tidak ada antara ia dan jannah kecuali hanya sejengkal saja, namun catatan taqdir mendahuluinya hingga ia beramal dengan amalan ahlunnar (penduduk neraka) maka iapun dimasukkan kedalam neraka , dan sungguh salah seorang kalian beramal dengan amalan ahlunnar sampai-sampai tidak ada antara ia dan neraka kecuali hanya sejengkal saja namun catatan taqdir mendahuluinya maka iapun dimasukkan kedalam jannah."

⚡ Sehingga tempat kembali itu tergantung pada amalan akhirnya,maka dari itu sepantasnya bagi seorang muslim agar senantiasa meminta kepada Allah husnul khatimah (akhir yg baik) serta terus menerus diatas amal shalih, dalam rangka apabila datang kepadanya kematian maka ia berada diatas amal shalih .

Dan sepantasnya bagi seorang muslim apabila terjatuh pada kesalahan untuk segera bertaubat serta tidak menunda-nunda taubatnya.

Firman Allah :

 وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الآنَ

“Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yg mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang diantara mereka, (barulah) ia mengatakan ‘sesungguhnya saya bertaubat sekarang.’” (QS annisa 18)

Maka tidak diterima taubat seseorang ketika nyawa sudah sampai kerongkongan,telah habis waktu taubat.

Sehingga semestinya atas seseorang untuk bersegera didalam bertaubat apabila ia terjatuh dalam kesalahan ataupun ketergelinciran, Maka niscaya Allah akan menerima taubat  atas siapa yang bertaubat, Untuk menjadikan akhir kehidupannya sebagai akhir yg baik dan bagus.

                                   ✲✲✲

العمل بالخواتيم

السؤال:

ما المراد بان العمل بالخواتيم، وما الأمثلة من ذلك؟

الجواب:

العمل بالخواتيم، يعني عند الموت ما يموت عليه الإنسان، إن مات على خير وهو من أهل الخير، وأن مات على الشر وهو من أهل الشر،

قال صلى الله عليه وسلم:(إن أحدكم ليعمل بعمل أهل الجنة حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل النار فيدخلها وإن أحدكم ليعمل بعمل أهل النار حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع فيسبق عليه الكتاب فيدخلها).

المدار على الخاتمة، ولذلك يجدر بالمسلم، إن يسال الله دائما، حسن الخاتمة ويكون دائما على عمل صالح، لأجل إذا جاءه الموت، إذا هو على عمل صالح، يجدر بالمسلم إذا وقع منهُ خطاً، يبادر بالتوبه ولا يؤجل التوبة،

(وَلَيْسَتْ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمْ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الآنَ)،

فلا تقبل التوبة، عند الغرغرة، ينتهي وقت التوبة، فعلى الإنسان ان يبادر بالتوبة، إذا وقع منهُ خطيئة أو زلة، والله يتوب على من تاب، لتكون خاتمتهُ طيبة وحسنة .  

                     ------

Sumber artikel: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/15392

✒Alih Bahasa: Abu 'Alifah Ayyub حفظه الله (Balikpapan)
             
__________________
مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
❂ WA Forum Berbagi Faidah [FBF]

Amalan Itu Tergantung Pada Akhirnya

::: AMALAN ITU TERGANTUNG PADA AKHIRNYA :::

                           ✹✹✹

Pertanyaan:
Apakah yang dimaksud dengan bahwasannya Amalan itu tergantung pada akhirnya, dan seperti apa contohnya ?

Jawaban:
العمل بالخواتيم، يعني عند الموت ما يموت عليه الإنسان

☝Al 'Amalu bilkhawatim (Amalan seseorang itu tergantung pada akhirnya) yakni ketika kematian, yakni amalan ketika seorang manusia mati diatasnya.

إن مات على خير وهو من أهل الخير، وأن مات على الشر وهو من أهل الشر.

Apabila ia mati diatas kebaikan maka ia termasuk ahlul khair ( orang-orang yang mendapatkan kebaikan) , namun apabila ia mati diatas kejelekan maka ia termasuk ahlusysyar (orang-orang yang mendapat kejelekan)

Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda :

إن أحدكم ليعمل بعمل أهل الجنة حتى ما يكون بينه وبينها ذراع فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل النار فيدخلها وإن أحدكم ليعمل بعمل أهل النار حتى ما يكون بينه وبينها ذراع فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل الجنة فيدخلها

"Sungguh salah seorang kalian beramal dengan amalan ahlul jannah (penghuni surga) sampai-sampai tidak ada antara ia dan jannah kecuali hanya sejengkal saja, namun catatan taqdir mendahuluinya hingga ia beramal dengan amalan ahlunnar (penduduk neraka) maka iapun dimasukkan kedalam neraka , dan sungguh salah seorang kalian beramal dengan amalan ahlunnar sampai-sampai tidak ada antara ia dan neraka kecuali hanya sejengkal saja namun catatan taqdir mendahuluinya maka iapun dimasukkan kedalam jannah."

⚡ Sehingga tempat kembali itu tergantung pada amalan akhirnya,maka dari itu sepantasnya bagi seorang muslim agar senantiasa meminta kepada Allah husnul khatimah (akhir yg baik) serta terus menerus diatas amal shalih, dalam rangka apabila datang kepadanya kematian maka ia berada diatas amal shalih .

Dan sepantasnya bagi seorang muslim apabila terjatuh pada kesalahan untuk segera bertaubat serta tidak menunda-nunda taubatnya.

Firman Allah :

 وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الآنَ

“Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yg mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang diantara mereka, (barulah) ia mengatakan ‘sesungguhnya saya bertaubat sekarang.’” (QS annisa 18)

Maka tidak diterima taubat seseorang ketika nyawa sudah sampai kerongkongan,telah habis waktu taubat.

Sehingga semestinya atas seseorang untuk bersegera didalam bertaubat apabila ia terjatuh dalam kesalahan ataupun ketergelinciran, Maka niscaya Allah akan menerima taubat  atas siapa yang bertaubat, Untuk menjadikan akhir kehidupannya sebagai akhir yg baik dan bagus.

                                   ✲✲✲

العمل بالخواتيم

السؤال:

ما المراد بان العمل بالخواتيم، وما الأمثلة من ذلك؟

الجواب:

العمل بالخواتيم، يعني عند الموت ما يموت عليه الإنسان، إن مات على خير وهو من أهل الخير، وأن مات على الشر وهو من أهل الشر،

قال صلى الله عليه وسلم:(إن أحدكم ليعمل بعمل أهل الجنة حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل النار فيدخلها وإن أحدكم ليعمل بعمل أهل النار حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع فيسبق عليه الكتاب فيدخلها).

المدار على الخاتمة، ولذلك يجدر بالمسلم، إن يسال الله دائما، حسن الخاتمة ويكون دائما على عمل صالح، لأجل إذا جاءه الموت، إذا هو على عمل صالح، يجدر بالمسلم إذا وقع منهُ خطاً، يبادر بالتوبه ولا يؤجل التوبة،

(وَلَيْسَتْ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمْ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الآنَ)،

فلا تقبل التوبة، عند الغرغرة، ينتهي وقت التوبة، فعلى الإنسان ان يبادر بالتوبة، إذا وقع منهُ خطيئة أو زلة، والله يتوب على من تاب، لتكون خاتمتهُ طيبة وحسنة .  

                     ------

Sumber artikel: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/15392

✒Alih Bahasa: Abu 'Alifah Ayyub حفظه الله (Balikpapan)
             
__________________
مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
❂ WA Forum Berbagi Faidah [FBF]

Beberapa Catatan Tentang Memakai Cincin Bagi Lelaki

::: BEBERAPA CATATAN TENTANG MEMAKAI CINCIN BAGI LELAKI :::

Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
          
                             ✹✹✹

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

1. Apakah dulu Rasulullah memakai cincin?
2. Apakah seorang pria boleh memakai cincin selain cincin emas?
 
Jawaban:
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Ya, Rasulullah shollallahu alaihi wasallam memakai cincin. Beberapa hadits yang menunjukkan hal itu, di antaranya:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَبِسَ خَاتَمَ فِضَّةٍ فِي يَمِينِهِ فِيهِ فَصٌّ حَبَشِيٌّ كَانَ يَجْعَلُ فَصَّهُ مِمَّا يَلِي كَفَّهُ

Dari Anas bin Malik –radhiyallahu anhu- bahwa Rasulullah shollallahu alaihi wasallam memakai cincin perak di tangan kanannya. Pada cincin itu terdapat mata cincin dari Habasyah. Beliau menjadikan mata cincin itu berada di arah telapak tangan (H.R Muslim)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَعْفَرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَخَتَّمُ بِيَمِينِهِ

Dari Abdullah bin Ja’far radhiyallahu anhu bahwa Nabi shollallahu alaihi wasallam memakai cincin pada tangan kanannya (H.R anNasaai, dishahihkan al-Albany)

Sebagian riwayat hadits menunjukkan bahwa Nabi memakainya di tangan kanan, sedangkan sebagian riwayat lagi menyatakan bahwa beliau menggunakan tangan kiri. Seperti yang akan disebutkan beberapa riwayat tersebut nanti, InsyaAllah.

Seorang pria boleh memakai cincin, dengan beberapa aturan syar’i di antaranya:

1. Bukan cincin terbuat dari emas.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى خَاتَمًا مِنْ ذَهَبٍ فِي يَدِ رَجُلٍ فَنَزَعَهُ فَطَرَحَهُ وَقَالَ يَعْمِدُ أَحَدُكُمْ إِلَى جَمْرَةٍ مِنْ نَارٍ فَيَجْعَلُهَا فِي يَدِهِ فَقِيلَ لِلرَّجُلِ بَعْدَ مَا ذَهَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُذْ خَاتِمَكَ انْتَفِعْ بِهِ قَالَ لَا وَاللَّهِ لَا آخُذُهُ أَبَدًا وَقَدْ طَرَحَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Abdullah bin Abbas –radhiyallahu anhu- bahwa Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam melihat cincin dari emas pada tangan seorang laki-laki. Kemudian Nabi mencabutnya dan membuangnya. Beliau Shallallaahu alaihi wasallam bersabda: Salah seorang dari kalian memakai bara api di tangannya.

Kemudian dikatakan kepada laki-laki itu setelah Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam pergi:

Ambillah cincinmu dan ambil manfaat darinya. Ia berkata: Tidak, demi Allah. Aku tidak akan pernah mengambil sesuatu yang telah dibuang oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam (H.R Muslim)

Dulunya, Nabi Shallallaahu alaihi wasallam pernah memakai cincin dari emas, namun kemudian beliau membuangnya saat berada di atas mimbar, dan para Sahabat juga membuang cincin mereka yang terbuat dari emas.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اصْطَنَعَ خَاتَمًا مِنْ ذَهَبٍ وَكَانَ يَلْبَسُهُ فَيَجْعَلُ فَصَّهُ فِي بَاطِنِ كَفِّهِ فَصَنَعَ النَّاسُ خَوَاتِيمَ ثُمَّ إِنَّهُ جَلَسَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَنَزَعَهُ فَقَالَ إِنِّي كُنْتُ أَلْبَسُ هَذَا الْخَاتِمَ وَأَجْعَلُ فَصَّهُ مِنْ دَاخِلٍ فَرَمَى بِهِ ثُمَّ قَالَ وَاللَّهِ لَا أَلْبَسُهُ أَبَدًا فَنَبَذَ النَّاسُ خَوَاتِيمَهُمْ

Dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma bahwa Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam membuat cincin dari emas. Dulunya beliau memakainya, dan menjadikan mata cincin di perut telapak tangan. Maka para Sahabat membuat cincin-cincin. Kemudian beliau duduk pada mimbar dan mencabut cincin (emasnya) dan berkata:

☝Dulu aku memakai cincin ini dan menjadikan mata cincinnya ada di dalam. Kemudian beliau melemparkan cincin (emas) tersebut dan menyatakan:

Demi Allah, aku tidak akan pernah memakainya selamanya. Kemudian para Sahabat juga melemparkan cincin-cincin (emas) mereka (H.R al-Bukhari dan Muslim)

Dulunya cincin emas boleh dipakai laki-laki, kemudian dihapus hukum itu menjadi haram dipakai oleh laki-laki.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ نَهَى عَنْ خَاتَمِ الذَّهَبِ

Dari Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- dari Nabi Shallallaahu alaihi wasallam bahwasanya beliau melarang dari cincin emas (bagi laki-laki, pent)(H.R al-Bukhari dan Muslim)

حُرِّمَ لِبَاسُ الْحَرِيرِ وَالذَّهَبِ عَلَى ذُكُورِ أُمَّتِي وَأُحِلَّ لِإِنَاثِهِمْ

Diharamkan memakai sutera dan emas bagi laki-laki dari kalangan umatku dan dihalalkan bagi kaum wanita mereka (H.R Abu Dawud, anNasaai, atTirmidzi, Ibnu Majah. Lafadz sesuai riwayat atTirmidzi, dishahihkan al-Albaniy)          


2. Bukan cincin pernikahan, yang itu adalah tasyabbuh (penyerupaan) dengan orang kafir.

Berikut Fatwa al-Lajnah ad-Daaimah:

س: هل يجوز استعمال الخاتم الذي على شكل حلقة بمناسبة الزواج؟

ج: لا يجوز لبس الخاتم بمناسبة الزواج؛ لما في ذلك من مشابهة الكفار في عاداتهم؛ لأن ذلك لم يكن شعارا للمسلمين في الزواج، وإنما هو عادة الكفار في الزواج، ثم قلدهم فيه ضعاف الإيمان، وجهلة المسلمين. وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.

Pertanyaan:
Apakah boleh memakai cincin dengan bentuk melingkar untuk keperluan pernikahan?

Jawaban:
Tidak boleh memakai cincin untuk keperluan pernikahan. Karena yang demikian termasuk penyerupaan dengan orang-orang kafir dalam adat mereka. Dan yang demikian bukanlah syiar kaum muslimin dalam pernikahan.

Itu hanyalah adat orang kafir dalam pernikahan, kemudian diikuti oleh orang-orang yang tidak tahu dan lemah iman dari kaum muslimin. Hanya kepada Allahlah kita meminta taufiq, dan semoga sholawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para Sahabatnya.

(Fatwa al-Lajnah ad-Daaimah no 5158)


3. Memakainya bukan di jari yang terlarang, yaitu jari tengah dan jari telunjuk.

عَنْ أَبِي بُرْدَةَ قَالَ قَالَ عَلِيٌّ نَهَانِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَتَخَتَّمَ فِي إِصْبَعِي هَذِهِ أَوْ هَذِهِ قَالَ فَأَوْمَأَ إِلَى الْوُسْطَى وَالَّتِي تَلِيهَا

Dari Abu Burdah beliau berkata: Ali (bin Abi Tholib) berkata: Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam melarangku memakai cincin di jari ini dan ini. (Abu Burdah) berkata:

⚡ Ali memberi isyarat pada jari tengah dan jari setelahnya (telunjuk, sebagaimana dijelaskan dalam riwayat lain) (H.R Muslim)

Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam memakai cincin pada jari kelingking.

عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ خَاتَمُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي هَذِهِ وَأَشَارَ إِلَى الْخِنْصِرِ مِنْ يَدِهِ الْيُسْرَى

Dari Anas –radhiyallahu anhu- beliau berkata: Cincin Nabi Shallallaahu alaihi wasallam dipakai di sini, Anas mengisyaratkan pada jari kelingking di tangan kiri (H.R Muslim)

Kadang Nabi menggunakan cincin di tangan kanan kadang di tangan kiri sebagaimana hadits-hadits di atas.

Al-Imam anNawawi rahimahullah menyatakan:

أجمع المسلمون على أن السنة جعل خاتم الرجل في الخنصر ، وأما المرأة فلها التختم في الأصابع كلها

Kaum muslimin telah sepakat bahwa sunnah memakai cincin di jari kelingking pada laki-laki. Sedangkan pada wanita, ia bisa memakai cincin di jari seluruhnya (Syarh Shahih Muslim lin Nawawiy (14/71)).

_____________

✏Catatan tambahan: terdapat perbedaan pendapat para Ulama tentang memakai cincin yang terbuat dari besi bagi laki-laki.

Sebagian Ulama menyatakan haram, dan sebagian lagi membolehkan. Di antara yang membolehkan adalah al-Imam anNawawiy, al-Lajnah ad-Daaimah, dan Syaikh Ibn Utsaimin. Mereka berpendapat bahwa memakai cincin dari besi boleh, karena Nabi pernah menyuruh seorang yang akan menikah: Carilah (sebagai mahr) meski itu adalah cincin dari besi (H.R al-Bukhari dan Muslim).

Sedangkan hadits-hadits tentang larangan memakai cincin dari besi menurut para Ulama ini haditsnya lemah.

Ada sebagian hadits tentang larangan memakai cincin dari besi bagi laki-laki yang dishahihkan/ dihasankan Syaikh al-Albaniy dalam sebagian karyanya. Di antaranya:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو أَن َّالنَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى عَلَى بَعْضِ أَصْحَابِهِ خَاتَمًا مِنْ ذَهَبٍ فَأَعْرَضَ عَنْهُ فَأَلْقَاهُ وَاتّخَذَ خَاتَمًا مِنْ حَدِيْدٍ فَقَالَ : هَذَا شَرٌّ هَذَا حِلْيَةُ أَهْلِ النَّارِ فَأَلْقَاهُ فَاتَّخَذَ خَاتَمًا مِنْ وَرَقٍ فَسَكَتَ عَنْهُ

Dari Abdullah bin ‘Amr bahwa Nabi Shallallaahu alaihi wasallam melihat pada sebagian Sahabatnya cincin dari emas. Beliau berpaling darinya (menunjukkan kebencian, pent) kemudian Sahabat itu melempar cincin (emas) tersebut. Dan mengambil cincin dari besi kemudian berkata: Ini lebih buruk. Ini adalah perhiasan penduduk anNaar. Kemudian Sahabat itu melemparkan cincin dari besi itu. Kemudian ia memakai cincin dari kertas. Nabi diam (H.R Ahmad dan al-Bukhari dalam Adabul Mufrad, dishahihkan oleh al-Albaniy dalam Aadabuz Zifaaf. Dinyatakan bahwa jalur riwayat itu sanadnya hasan dan ada jalur penguat yang lemah dari riwayat Ibnu Umar. Syaikh al-Albaniy juga menshahihkannya dalam Shahihul Jami’).

* * *

Kesimpulan:

Memakai cincin besi bagi laki-laki hendaknya dihindari. Hadits tentang perintah Nabi untuk mencari cincin meski dari besi bagi Sahabat yang akan menikah itu, Wallaahu A’lam mengandung kemungkinan untuk dipakai oleh istrinya sebagai mahar, bukan untuk dipakai laki-laki itu.

Ulama yang berpendapat dibencinya cincin besi bagi laki-laki di antaranya adalah al-Imam Ahmad bin Hanbal, dalam suatu riwayat dari al-Atsram yg bertanya langsung pd beliau.

Wallaahu A’lam.

__________________
مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
❂ WA Forum Berbagi Faidah [FBF]. Dikutip dari WA alI'tishom - Probolinggo

Beberapa Catatan Tentang Memakai Cincin Bagi Lelaki

::: BEBERAPA CATATAN TENTANG MEMAKAI CINCIN BAGI LELAKI :::

Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله
          
                             ✹✹✹

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

1. Apakah dulu Rasulullah memakai cincin?
2. Apakah seorang pria boleh memakai cincin selain cincin emas?
 
Jawaban:
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Ya, Rasulullah shollallahu alaihi wasallam memakai cincin. Beberapa hadits yang menunjukkan hal itu, di antaranya:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَبِسَ خَاتَمَ فِضَّةٍ فِي يَمِينِهِ فِيهِ فَصٌّ حَبَشِيٌّ كَانَ يَجْعَلُ فَصَّهُ مِمَّا يَلِي كَفَّهُ

Dari Anas bin Malik –radhiyallahu anhu- bahwa Rasulullah shollallahu alaihi wasallam memakai cincin perak di tangan kanannya. Pada cincin itu terdapat mata cincin dari Habasyah. Beliau menjadikan mata cincin itu berada di arah telapak tangan (H.R Muslim)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَعْفَرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَخَتَّمُ بِيَمِينِهِ

Dari Abdullah bin Ja’far radhiyallahu anhu bahwa Nabi shollallahu alaihi wasallam memakai cincin pada tangan kanannya (H.R anNasaai, dishahihkan al-Albany)

Sebagian riwayat hadits menunjukkan bahwa Nabi memakainya di tangan kanan, sedangkan sebagian riwayat lagi menyatakan bahwa beliau menggunakan tangan kiri. Seperti yang akan disebutkan beberapa riwayat tersebut nanti, InsyaAllah.

Seorang pria boleh memakai cincin, dengan beberapa aturan syar’i di antaranya:

1. Bukan cincin terbuat dari emas.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى خَاتَمًا مِنْ ذَهَبٍ فِي يَدِ رَجُلٍ فَنَزَعَهُ فَطَرَحَهُ وَقَالَ يَعْمِدُ أَحَدُكُمْ إِلَى جَمْرَةٍ مِنْ نَارٍ فَيَجْعَلُهَا فِي يَدِهِ فَقِيلَ لِلرَّجُلِ بَعْدَ مَا ذَهَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُذْ خَاتِمَكَ انْتَفِعْ بِهِ قَالَ لَا وَاللَّهِ لَا آخُذُهُ أَبَدًا وَقَدْ طَرَحَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Abdullah bin Abbas –radhiyallahu anhu- bahwa Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam melihat cincin dari emas pada tangan seorang laki-laki. Kemudian Nabi mencabutnya dan membuangnya. Beliau Shallallaahu alaihi wasallam bersabda: Salah seorang dari kalian memakai bara api di tangannya.

Kemudian dikatakan kepada laki-laki itu setelah Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam pergi:

Ambillah cincinmu dan ambil manfaat darinya. Ia berkata: Tidak, demi Allah. Aku tidak akan pernah mengambil sesuatu yang telah dibuang oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam (H.R Muslim)

Dulunya, Nabi Shallallaahu alaihi wasallam pernah memakai cincin dari emas, namun kemudian beliau membuangnya saat berada di atas mimbar, dan para Sahabat juga membuang cincin mereka yang terbuat dari emas.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اصْطَنَعَ خَاتَمًا مِنْ ذَهَبٍ وَكَانَ يَلْبَسُهُ فَيَجْعَلُ فَصَّهُ فِي بَاطِنِ كَفِّهِ فَصَنَعَ النَّاسُ خَوَاتِيمَ ثُمَّ إِنَّهُ جَلَسَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَنَزَعَهُ فَقَالَ إِنِّي كُنْتُ أَلْبَسُ هَذَا الْخَاتِمَ وَأَجْعَلُ فَصَّهُ مِنْ دَاخِلٍ فَرَمَى بِهِ ثُمَّ قَالَ وَاللَّهِ لَا أَلْبَسُهُ أَبَدًا فَنَبَذَ النَّاسُ خَوَاتِيمَهُمْ

Dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma bahwa Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam membuat cincin dari emas. Dulunya beliau memakainya, dan menjadikan mata cincin di perut telapak tangan. Maka para Sahabat membuat cincin-cincin. Kemudian beliau duduk pada mimbar dan mencabut cincin (emasnya) dan berkata:

☝Dulu aku memakai cincin ini dan menjadikan mata cincinnya ada di dalam. Kemudian beliau melemparkan cincin (emas) tersebut dan menyatakan:

Demi Allah, aku tidak akan pernah memakainya selamanya. Kemudian para Sahabat juga melemparkan cincin-cincin (emas) mereka (H.R al-Bukhari dan Muslim)

Dulunya cincin emas boleh dipakai laki-laki, kemudian dihapus hukum itu menjadi haram dipakai oleh laki-laki.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ نَهَى عَنْ خَاتَمِ الذَّهَبِ

Dari Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- dari Nabi Shallallaahu alaihi wasallam bahwasanya beliau melarang dari cincin emas (bagi laki-laki, pent)(H.R al-Bukhari dan Muslim)

حُرِّمَ لِبَاسُ الْحَرِيرِ وَالذَّهَبِ عَلَى ذُكُورِ أُمَّتِي وَأُحِلَّ لِإِنَاثِهِمْ

Diharamkan memakai sutera dan emas bagi laki-laki dari kalangan umatku dan dihalalkan bagi kaum wanita mereka (H.R Abu Dawud, anNasaai, atTirmidzi, Ibnu Majah. Lafadz sesuai riwayat atTirmidzi, dishahihkan al-Albaniy)          


2. Bukan cincin pernikahan, yang itu adalah tasyabbuh (penyerupaan) dengan orang kafir.

Berikut Fatwa al-Lajnah ad-Daaimah:

س: هل يجوز استعمال الخاتم الذي على شكل حلقة بمناسبة الزواج؟

ج: لا يجوز لبس الخاتم بمناسبة الزواج؛ لما في ذلك من مشابهة الكفار في عاداتهم؛ لأن ذلك لم يكن شعارا للمسلمين في الزواج، وإنما هو عادة الكفار في الزواج، ثم قلدهم فيه ضعاف الإيمان، وجهلة المسلمين. وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.

Pertanyaan:
Apakah boleh memakai cincin dengan bentuk melingkar untuk keperluan pernikahan?

Jawaban:
Tidak boleh memakai cincin untuk keperluan pernikahan. Karena yang demikian termasuk penyerupaan dengan orang-orang kafir dalam adat mereka. Dan yang demikian bukanlah syiar kaum muslimin dalam pernikahan.

Itu hanyalah adat orang kafir dalam pernikahan, kemudian diikuti oleh orang-orang yang tidak tahu dan lemah iman dari kaum muslimin. Hanya kepada Allahlah kita meminta taufiq, dan semoga sholawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para Sahabatnya.

(Fatwa al-Lajnah ad-Daaimah no 5158)


3. Memakainya bukan di jari yang terlarang, yaitu jari tengah dan jari telunjuk.

عَنْ أَبِي بُرْدَةَ قَالَ قَالَ عَلِيٌّ نَهَانِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَتَخَتَّمَ فِي إِصْبَعِي هَذِهِ أَوْ هَذِهِ قَالَ فَأَوْمَأَ إِلَى الْوُسْطَى وَالَّتِي تَلِيهَا

Dari Abu Burdah beliau berkata: Ali (bin Abi Tholib) berkata: Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam melarangku memakai cincin di jari ini dan ini. (Abu Burdah) berkata:

⚡ Ali memberi isyarat pada jari tengah dan jari setelahnya (telunjuk, sebagaimana dijelaskan dalam riwayat lain) (H.R Muslim)

Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam memakai cincin pada jari kelingking.

عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ خَاتَمُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي هَذِهِ وَأَشَارَ إِلَى الْخِنْصِرِ مِنْ يَدِهِ الْيُسْرَى

Dari Anas –radhiyallahu anhu- beliau berkata: Cincin Nabi Shallallaahu alaihi wasallam dipakai di sini, Anas mengisyaratkan pada jari kelingking di tangan kiri (H.R Muslim)

Kadang Nabi menggunakan cincin di tangan kanan kadang di tangan kiri sebagaimana hadits-hadits di atas.

Al-Imam anNawawi rahimahullah menyatakan:

أجمع المسلمون على أن السنة جعل خاتم الرجل في الخنصر ، وأما المرأة فلها التختم في الأصابع كلها

Kaum muslimin telah sepakat bahwa sunnah memakai cincin di jari kelingking pada laki-laki. Sedangkan pada wanita, ia bisa memakai cincin di jari seluruhnya (Syarh Shahih Muslim lin Nawawiy (14/71)).

_____________

✏Catatan tambahan: terdapat perbedaan pendapat para Ulama tentang memakai cincin yang terbuat dari besi bagi laki-laki.

Sebagian Ulama menyatakan haram, dan sebagian lagi membolehkan. Di antara yang membolehkan adalah al-Imam anNawawiy, al-Lajnah ad-Daaimah, dan Syaikh Ibn Utsaimin. Mereka berpendapat bahwa memakai cincin dari besi boleh, karena Nabi pernah menyuruh seorang yang akan menikah: Carilah (sebagai mahr) meski itu adalah cincin dari besi (H.R al-Bukhari dan Muslim).

Sedangkan hadits-hadits tentang larangan memakai cincin dari besi menurut para Ulama ini haditsnya lemah.

Ada sebagian hadits tentang larangan memakai cincin dari besi bagi laki-laki yang dishahihkan/ dihasankan Syaikh al-Albaniy dalam sebagian karyanya. Di antaranya:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو أَن َّالنَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى عَلَى بَعْضِ أَصْحَابِهِ خَاتَمًا مِنْ ذَهَبٍ فَأَعْرَضَ عَنْهُ فَأَلْقَاهُ وَاتّخَذَ خَاتَمًا مِنْ حَدِيْدٍ فَقَالَ : هَذَا شَرٌّ هَذَا حِلْيَةُ أَهْلِ النَّارِ فَأَلْقَاهُ فَاتَّخَذَ خَاتَمًا مِنْ وَرَقٍ فَسَكَتَ عَنْهُ

Dari Abdullah bin ‘Amr bahwa Nabi Shallallaahu alaihi wasallam melihat pada sebagian Sahabatnya cincin dari emas. Beliau berpaling darinya (menunjukkan kebencian, pent) kemudian Sahabat itu melempar cincin (emas) tersebut. Dan mengambil cincin dari besi kemudian berkata: Ini lebih buruk. Ini adalah perhiasan penduduk anNaar. Kemudian Sahabat itu melemparkan cincin dari besi itu. Kemudian ia memakai cincin dari kertas. Nabi diam (H.R Ahmad dan al-Bukhari dalam Adabul Mufrad, dishahihkan oleh al-Albaniy dalam Aadabuz Zifaaf. Dinyatakan bahwa jalur riwayat itu sanadnya hasan dan ada jalur penguat yang lemah dari riwayat Ibnu Umar. Syaikh al-Albaniy juga menshahihkannya dalam Shahihul Jami’).

* * *

Kesimpulan:

Memakai cincin besi bagi laki-laki hendaknya dihindari. Hadits tentang perintah Nabi untuk mencari cincin meski dari besi bagi Sahabat yang akan menikah itu, Wallaahu A’lam mengandung kemungkinan untuk dipakai oleh istrinya sebagai mahar, bukan untuk dipakai laki-laki itu.

Ulama yang berpendapat dibencinya cincin besi bagi laki-laki di antaranya adalah al-Imam Ahmad bin Hanbal, dalam suatu riwayat dari al-Atsram yg bertanya langsung pd beliau.

Wallaahu A’lam.

__________________
مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
❂ WA Forum Berbagi Faidah [FBF]. Dikutip dari WA alI'tishom - Probolinggo

Jarh Wat Ta'dil Tetap Eksis dan Akan Senantiasa Kokoh

::: JARH WAT TA'DIL TETAP EKSIS DAN AKAN SENANTIASA KOKOH :::

Asy Syaikh Zaid bin Muhammad  Al Madkholiy rohimahulloh

                            ✹✹✹

☝"Sesungguhnya orang yang menyatakan bahwa ilmu jarh wat ta'dil, bahwa perkara tersebut berlaku pada masa tertentu, telah berlalu dan telah selesai serta pena telah diangkat, lembarannya pun telah kering, pilar pilarnya telah mati.

Maka didalamnya terkandung kelemahan yang sangat jelas dan semangat yang kendur dari merenungi nash-nash kitabullah dan sunnah serta ilmu-ilmu yang berkaitan dengan keduanya.

⚡ Kemudian memalingkan para penuntut ilmu syari'at dari meneliti riwayat hadits-hadits dan matan-matannya.

Maka perkara tersebut sangat berbahaya terhadap suatu kedudukan yang tidak samar terhadap para perawi ilmu dan ulama fiqh agama ini. Pendapat yang benar -insya Allah-:

 ﺃﻥ ﻋﻠﻢ ﺍﻟﺠﺮﺡ ﻭﺍﻟﺘﻌﺪﻳﻞ ﺑﺎﻕٍ ﻭﺳﻴﺒﻘﻰ ﻣﺎﺩﺍﻡ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻭﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ

Bahwa ilmu jarh wat ta'dil tetap eksis dan akan senantiasa kokoh selama ilmu dan para ulama masih ada.

ﻭﺫﻟﻚ ﺃﻥ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺯﻣﺎﻥ ﻏﺎﻟﺒﺎً ﺃﺋﻤﺔ ﻣﺆﻫﻠﻴﻦ ﻟﺘﻌﺪﻳﻞ ﻣﻦ ﻳﺴﺘﺤﻖ ﺍﻟﺘﻌﺪﻳﻞ ﻭﺟﺮﺡ ﻣﻦ ﻳﺴﺘﺤﻖ ﺍﻟﺠﺮﺡ

Dan secara umum pada setiap masa akan senantiasa ada dari kalangan para ulama yang ahli (menguasai) dalam bidang ilmu ta'dil (memberikan pujian terhadap pihak yang berhak mendapatkan pujian) dan jarh (memberikan kritikan terhadap pihak yang berhak mendapat kritikan).

                         •••

قال ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺯﻳﺪ ﺑﻦ ﻣﺤﻤﺪ ﺍﻟﻤﺪﺧﻠﻲ رحمه الله:

ﺇﻥ ﻗﻮﻝ ﺍﻟﻘﺎﺋﻞ ﻓﻲ ﺷﺄﻥ ﻋﻠﻢ ﺍﻟﺠﺮﺡ ﻭﺍﻟﺘﻌﺪﻳﻞ : ﺇﻧَّﻤﺎ ﻭﺿﻊ ﻟﻔﺘﺮﺓ ﺯﻣﻨﻴﺔ ﻣﻌﻴﻨﺔ ﻗﺪ ﻣﻀﺖ ﻭﺍﻧﺘﻬﺖ ﻭﺭﻓﻌﺖ ﺃﻗﻼﻣﻬﺎ ﻭﺟﻔﺖ ﺻﺤﻔﻬﺎ ﻭﻣﺎﺕ ﺃﺳﺎﻃﻴﻨﻬﺎ .

ﺧﻄﺄ ﻣﺤﺾ ﻭﻓﻴﻪ ﻣﺠﺎﺯﻓﺔ ﻭﺍﺿﺤﺔ ﻭﺗﺜﺒﻴﻂ ﻟﻠﻬﻤﻢ ﻋﻦ ﺍﻟﻌﻨﺎﻳﺔ ﺑﻨﺼﻮﺹ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﻭﺍﻟﺴﻨﺔ ﻭﻋﻠﻮﻣﻬﺎ ، ﻭﺻﺮﻑ ﻟﻄﻼﺏ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺍﻟﺸﺮﻋﻲ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﻈﺮ ﻓﻲ ﺭﻭﺍﺓ ﺍﻷﺣﺎﺩﻳﺚ ﻭﻣﺘﻮﻧِﻬﺎ ، ﻭﺫﻟﻚ ﻣﻦ ﺍﻟﺨﻄﺮ ﺑﻤﻜﺎﻥ ﻻ ﻳﺨﻔﻰ ﻋﻠﻰ ﺭﺟﺎﻝ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻭﺃﺋﻤﺔ ﺍﻟﻔﻘﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻳﻦ .

ﻭﺍﻟﺤﻖ – ﺇﻥ ﺷﺎﺀ ﺍﻟﻠﻪ – ﺃﻥ ﻋﻠﻢ ﺍﻟﺠﺮﺡ ﻭﺍﻟﺘﻌﺪﻳﻞ ﺑﺎﻕٍ ﻭﺳﻴﺒﻘﻰ ﻣﺎﺩﺍﻡ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻭﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ، ﻭﺫﻟﻚ ﺃﻥ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺯﻣﺎﻥ ﻏﺎﻟﺒﺎً ﺃﺋﻤﺔ ﻣﺆﻫﻠﻴﻦ ﻟﺘﻌﺪﻳﻞ ﻣﻦ ﻳﺴﺘﺤﻖ ﺍﻟﺘﻌﺪﻳﻞ ﻭﺟﺮﺡ ﻣﻦ ﻳﺴﺘﺤﻖ ﺍﻟﺠﺮﺡ.

ﺍﻷﺟﻮﺑﺔ ﺍﻟﺴﺪﻳﺪﺓ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﺳﺌﻠﺔ ﺍﻟﺮﺷﻴﺪﺓ ٦/ ٢٤٤

                      ------

Al Ajwibatis Sadidah 'alal As`ilatir Rasyidah 6/244

☕Alih Bahasa: Abu Sa'ad Ahmad Al-Faruq Al-Makassari حفظه الله - [FBF 3]

__________________
مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
❂ WA Forum Berbagi Faidah [FBF]

Jarh Wat Ta'dil Tetap Eksis dan Akan Senantiasa Kokoh

::: JARH WAT TA'DIL TETAP EKSIS DAN AKAN SENANTIASA KOKOH :::

Asy Syaikh Zaid bin Muhammad  Al Madkholiy rohimahulloh

                            ✹✹✹

☝"Sesungguhnya orang yang menyatakan bahwa ilmu jarh wat ta'dil, bahwa perkara tersebut berlaku pada masa tertentu, telah berlalu dan telah selesai serta pena telah diangkat, lembarannya pun telah kering, pilar pilarnya telah mati.

Maka didalamnya terkandung kelemahan yang sangat jelas dan semangat yang kendur dari merenungi nash-nash kitabullah dan sunnah serta ilmu-ilmu yang berkaitan dengan keduanya.

⚡ Kemudian memalingkan para penuntut ilmu syari'at dari meneliti riwayat hadits-hadits dan matan-matannya.

Maka perkara tersebut sangat berbahaya terhadap suatu kedudukan yang tidak samar terhadap para perawi ilmu dan ulama fiqh agama ini. Pendapat yang benar -insya Allah-:

 ﺃﻥ ﻋﻠﻢ ﺍﻟﺠﺮﺡ ﻭﺍﻟﺘﻌﺪﻳﻞ ﺑﺎﻕٍ ﻭﺳﻴﺒﻘﻰ ﻣﺎﺩﺍﻡ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻭﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ

Bahwa ilmu jarh wat ta'dil tetap eksis dan akan senantiasa kokoh selama ilmu dan para ulama masih ada.

ﻭﺫﻟﻚ ﺃﻥ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺯﻣﺎﻥ ﻏﺎﻟﺒﺎً ﺃﺋﻤﺔ ﻣﺆﻫﻠﻴﻦ ﻟﺘﻌﺪﻳﻞ ﻣﻦ ﻳﺴﺘﺤﻖ ﺍﻟﺘﻌﺪﻳﻞ ﻭﺟﺮﺡ ﻣﻦ ﻳﺴﺘﺤﻖ ﺍﻟﺠﺮﺡ

Dan secara umum pada setiap masa akan senantiasa ada dari kalangan para ulama yang ahli (menguasai) dalam bidang ilmu ta'dil (memberikan pujian terhadap pihak yang berhak mendapatkan pujian) dan jarh (memberikan kritikan terhadap pihak yang berhak mendapat kritikan).

                         •••

قال ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺯﻳﺪ ﺑﻦ ﻣﺤﻤﺪ ﺍﻟﻤﺪﺧﻠﻲ رحمه الله:

ﺇﻥ ﻗﻮﻝ ﺍﻟﻘﺎﺋﻞ ﻓﻲ ﺷﺄﻥ ﻋﻠﻢ ﺍﻟﺠﺮﺡ ﻭﺍﻟﺘﻌﺪﻳﻞ : ﺇﻧَّﻤﺎ ﻭﺿﻊ ﻟﻔﺘﺮﺓ ﺯﻣﻨﻴﺔ ﻣﻌﻴﻨﺔ ﻗﺪ ﻣﻀﺖ ﻭﺍﻧﺘﻬﺖ ﻭﺭﻓﻌﺖ ﺃﻗﻼﻣﻬﺎ ﻭﺟﻔﺖ ﺻﺤﻔﻬﺎ ﻭﻣﺎﺕ ﺃﺳﺎﻃﻴﻨﻬﺎ .

ﺧﻄﺄ ﻣﺤﺾ ﻭﻓﻴﻪ ﻣﺠﺎﺯﻓﺔ ﻭﺍﺿﺤﺔ ﻭﺗﺜﺒﻴﻂ ﻟﻠﻬﻤﻢ ﻋﻦ ﺍﻟﻌﻨﺎﻳﺔ ﺑﻨﺼﻮﺹ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﻭﺍﻟﺴﻨﺔ ﻭﻋﻠﻮﻣﻬﺎ ، ﻭﺻﺮﻑ ﻟﻄﻼﺏ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺍﻟﺸﺮﻋﻲ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﻈﺮ ﻓﻲ ﺭﻭﺍﺓ ﺍﻷﺣﺎﺩﻳﺚ ﻭﻣﺘﻮﻧِﻬﺎ ، ﻭﺫﻟﻚ ﻣﻦ ﺍﻟﺨﻄﺮ ﺑﻤﻜﺎﻥ ﻻ ﻳﺨﻔﻰ ﻋﻠﻰ ﺭﺟﺎﻝ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻭﺃﺋﻤﺔ ﺍﻟﻔﻘﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻳﻦ .

ﻭﺍﻟﺤﻖ – ﺇﻥ ﺷﺎﺀ ﺍﻟﻠﻪ – ﺃﻥ ﻋﻠﻢ ﺍﻟﺠﺮﺡ ﻭﺍﻟﺘﻌﺪﻳﻞ ﺑﺎﻕٍ ﻭﺳﻴﺒﻘﻰ ﻣﺎﺩﺍﻡ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻭﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ، ﻭﺫﻟﻚ ﺃﻥ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺯﻣﺎﻥ ﻏﺎﻟﺒﺎً ﺃﺋﻤﺔ ﻣﺆﻫﻠﻴﻦ ﻟﺘﻌﺪﻳﻞ ﻣﻦ ﻳﺴﺘﺤﻖ ﺍﻟﺘﻌﺪﻳﻞ ﻭﺟﺮﺡ ﻣﻦ ﻳﺴﺘﺤﻖ ﺍﻟﺠﺮﺡ.

ﺍﻷﺟﻮﺑﺔ ﺍﻟﺴﺪﻳﺪﺓ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﺳﺌﻠﺔ ﺍﻟﺮﺷﻴﺪﺓ ٦/ ٢٤٤

                      ------

Al Ajwibatis Sadidah 'alal As`ilatir Rasyidah 6/244

☕Alih Bahasa: Abu Sa'ad Ahmad Al-Faruq Al-Makassari حفظه الله - [FBF 3]

__________________
مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
❂ WA Forum Berbagi Faidah [FBF]

Kebenaran Manhaj Dan Jannah

::: KEBENARAN MANHAJ DAN JANNAH :::

Oleh: Asy-Syaikh Al-'Allamah Shalih bin Fauzan Al-Fauzan حفظه الله
                    
                          ✹✹✹

Pertanyaan:
“Apakah kebenaran Manhaj ada kaitannya dengan Jannah (Surga) dan Nar (Neraka)?”

Jawaban:
“Ya. Manhaj apabila benar, maka pemiliknya menjadi termasuk penduduk Al-Jannah (surga).

Apabila dia berjalan di atas manhaj Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi Wasallam dan manhaj As Salaf Ash Shalih maka dia menjadi termasuk penduduk Al Jannah, biidznillah.

Sebaliknya, apabila dia berjalan di atas manhaj sesat, maka dia terancam dengan neraka.

 ﻓَﺼِﺤَّﺔ ﺍﻟﻤﻨﻬﺞ ﻣﻦ ﻋﺪﻣﻬﺎ ﻳﺘﺮﺗﺐ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺟﻨﺔ ﺃﻭ ﻧﺎﺭ

☝Jadi, benar tidaknya manhaj itu berkonsekuensi jannah (surga) atau neraka.”

                           ∷∷∷

السؤال: ﻫﻞ ﻳﺘﻮﻗﻒ ﻋﻠﻰ ﺻﺤﺔ ﺍﻟﻤﻨﻬﺞ ﺟﻨﺔ ﺃﻭ ﻧﺎﺭ ؟ .

ﺍﻟﺠـﻮﺍﺏ:

 ﻧﻌﻢ، ﺍﻟﻤﻨﻬﺞ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﺻﺤﻴﺤﺎً ﺻﺎﺭ ﺻﺎﺣﺒﻪ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺠﻨﺔ؛
 ﻓﺈﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﻣﻨﻬﺞ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻣﻨﻬﺞ ﺍﻟﺴﻠﻒ ﺍﻟﺼﺎﻟﺢ ﻳﺼﻴﺮ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﺑﺈﺫﻥ ﺍﻟﻠﻪ،

ﻭﺇﺫﺍ ﺻﺎﺭ ﻋﻠﻰ ﻣﻨﻬﺞ ﺍﻟﻀُّﻼِّﻝ ﻓﻬﻮ ﻣُﺘَﻮَﻋَّﺪٌ ﺑﺎﻟﻨﺎﺭ
 ﻓَﺼِﺤَّﺔ ﺍﻟﻤﻨﻬﺞ ﻣﻦ ﻋﺪﻣﻬﺎ ﻳﺘﺮﺗﺐ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺟﻨﺔ ﺃﻭ ﻧﺎﺭ.

ﺍﻷﺟﻮﺑﺔ ﺍﻟﻤﻔﻴﺪﺓ ﻋﻠﻰ ﺃﺳﺌﻠﺔ ﺍﻟﻤﻨﺎﻫﺞ ﺍﻟﺠﺪﻳﺪﺓ ﻟﻠﺸﻴﺦ صالح  ﺍﻟﻔﻮﺯﺍﻥ ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ

                     ------

Sumber: Al Ajwibah Al Mufidah 'ala As`ilah Al Manahij Al Jadidah lisy Syaikh Shalih Al Fauzan Hafizhahullah ta'ala

✒Alih Bahasa: Abu Sa'ad Ahmad Al-Faruq (ASAF) Al-Makassari حفظه الله [FBF 3]

__________________
مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
❂ WA Forum Berbagi Faidah [FBF]

Kebenaran Manhaj Dan Jannah

::: KEBENARAN MANHAJ DAN JANNAH :::

Oleh: Asy-Syaikh Al-'Allamah Shalih bin Fauzan Al-Fauzan حفظه الله
                    
                          ✹✹✹

Pertanyaan:
“Apakah kebenaran Manhaj ada kaitannya dengan Jannah (Surga) dan Nar (Neraka)?”

Jawaban:
“Ya. Manhaj apabila benar, maka pemiliknya menjadi termasuk penduduk Al-Jannah (surga).

Apabila dia berjalan di atas manhaj Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi Wasallam dan manhaj As Salaf Ash Shalih maka dia menjadi termasuk penduduk Al Jannah, biidznillah.

Sebaliknya, apabila dia berjalan di atas manhaj sesat, maka dia terancam dengan neraka.

 ﻓَﺼِﺤَّﺔ ﺍﻟﻤﻨﻬﺞ ﻣﻦ ﻋﺪﻣﻬﺎ ﻳﺘﺮﺗﺐ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺟﻨﺔ ﺃﻭ ﻧﺎﺭ

☝Jadi, benar tidaknya manhaj itu berkonsekuensi jannah (surga) atau neraka.”

                           ∷∷∷

السؤال: ﻫﻞ ﻳﺘﻮﻗﻒ ﻋﻠﻰ ﺻﺤﺔ ﺍﻟﻤﻨﻬﺞ ﺟﻨﺔ ﺃﻭ ﻧﺎﺭ ؟ .

ﺍﻟﺠـﻮﺍﺏ:

 ﻧﻌﻢ، ﺍﻟﻤﻨﻬﺞ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﺻﺤﻴﺤﺎً ﺻﺎﺭ ﺻﺎﺣﺒﻪ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺠﻨﺔ؛
 ﻓﺈﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﻣﻨﻬﺞ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻣﻨﻬﺞ ﺍﻟﺴﻠﻒ ﺍﻟﺼﺎﻟﺢ ﻳﺼﻴﺮ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﺑﺈﺫﻥ ﺍﻟﻠﻪ،

ﻭﺇﺫﺍ ﺻﺎﺭ ﻋﻠﻰ ﻣﻨﻬﺞ ﺍﻟﻀُّﻼِّﻝ ﻓﻬﻮ ﻣُﺘَﻮَﻋَّﺪٌ ﺑﺎﻟﻨﺎﺭ
 ﻓَﺼِﺤَّﺔ ﺍﻟﻤﻨﻬﺞ ﻣﻦ ﻋﺪﻣﻬﺎ ﻳﺘﺮﺗﺐ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺟﻨﺔ ﺃﻭ ﻧﺎﺭ.

ﺍﻷﺟﻮﺑﺔ ﺍﻟﻤﻔﻴﺪﺓ ﻋﻠﻰ ﺃﺳﺌﻠﺔ ﺍﻟﻤﻨﺎﻫﺞ ﺍﻟﺠﺪﻳﺪﺓ ﻟﻠﺸﻴﺦ صالح  ﺍﻟﻔﻮﺯﺍﻥ ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ

                     ------

Sumber: Al Ajwibah Al Mufidah 'ala As`ilah Al Manahij Al Jadidah lisy Syaikh Shalih Al Fauzan Hafizhahullah ta'ala

✒Alih Bahasa: Abu Sa'ad Ahmad Al-Faruq (ASAF) Al-Makassari حفظه الله [FBF 3]

__________________
مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
❂ WA Forum Berbagi Faidah [FBF]

Apa Kewajiban Kita Kepada Orang Tua Yang Tidak Shalat Dan Tidak Berpuasa?

::: APA KEWAJIBAN KITA KEPADA ORANG TUA YANG TIDAK SHALAT DAN TIDAK BERPUASA? :::

Asy-Syaikh Al-'Allamah Sholih bin Fauzan Al-Fauzan حفظه الله

✹✹✹

الواجب نحو الوالد الذي لايصلي ولا يصوم

السؤال:
▪والدي لا يصلي ولا يصوم، وكثير ما يشرب الدخان، وكثير السب ولسانهُ بذي، وقد قام بظلم أمي، فأنا لا أحبه، وأكره هذه الأفعال، ماذا يجب علي نحو والدي؟

Pertanyaan:

▪ Orangtua saya (yakni ayah) tidak mau shalat dan tidak pula mau berpuasa dan gemar sekali merokok serta banyak sekali mencela dan berlisan kotor. Dan sungguh dia telah melakukan kezhaliman kepada Ibu saya, sehingga saya tidak suka kepada Ayah saya,
Dan saya benci terhadap tindakan-tindakan  tersebut. Maka apa kewajiban saya kepada orang tua saya?

                     ----

الجواب:

 والدك ما دام لا يصلي ولا يصوم ليس بمسلم وكافر، والكافر لا يجوز لك أن تودهُ و لو كان والدك،

( لا تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ)،

فلا يجوز لك، أن توادهُ وهو تارك للصلاة وتارك للصيام وأركان الإسلام هذا ليس بمسلم، وأمك المسلمة لا يجوز أن تبقى معهُ، لأنهُ كافر إلا إذا تاب إلى الله عز وجل ورجع إلى دينه فوا صلهُ،
☝وأما ما دام أنه لم يتب وهو باقي على ردتهِ وكفره، فيجب عليك أن تبغضه فالله عز وجل،
لكن إذا أحتاج إليك واحتاج إلى برك تبر به، لكن لا تحبهُ تبر به للقرابه التي بينك وبينه.

                            ✲✲✲

Al-Jawab:

Ayah Anda selama tidak mau shalat dan tidak  mau berpuasa maka ia bukan seorang muslim, Ia kafir. Dan seorang yang kafir maka tidak boleh bagi Anda untuk mencintainya meskipun ia adalah Ayah Anda,

☝Firman Allah Subhanahu Wata’ala :

لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُم

"Kamu tidak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, sekalipun orang itu adalah bapak-bapak atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka." {QS. Al-Mujadalah: 22}

Maka tidak boleh bagi Anda untuk saling berkasih sayang kepadanya, dalam keadaan dia adalah seorang yang meninggalkan shalat, meninggalkan berpuasa serta rukun-rukun Islam maka dia bukanlah seorang muslim.

Adapun ibu Anda yang seorang muslimah tidak boleh untuk tetap tinggal bersamanya karena ia kafir, kecuali apabila ia bertaubat kepada Allah 'Azza wa Jalla serta kembali kepada agamanya dan terus konsisten.

Adapun selama ia tidak mau bertaubat dan masih saja terus-menerus pada kemurtadan dan kekufurannya, maka wajib atas anda untuk membencinya karena Allah 'Azza Wa Jalla.

Namun apabila ia membutuhkanmu (yakni) butuh pada baktimu maka berbaktilah kepadanya tetapi jangan mencintainya, berbaktilah kepadanya karena kekerabatan antara Anda dan dia.

                         ----

Sumber artikel: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/15379

✒Alih Bahasa: Abu 'Alifah Ayyub (Balikpapan) حفظه الله - [FBF 4]

__________________
مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
❂ WA Forum Berbagi Faidah [FBF]

Apa Kewajiban Kita Kepada Orang Tua Yang Tidak Shalat Dan Tidak Berpuasa?

::: APA KEWAJIBAN KITA KEPADA ORANG TUA YANG TIDAK SHALAT DAN TIDAK BERPUASA? :::

Asy-Syaikh Al-'Allamah Sholih bin Fauzan Al-Fauzan حفظه الله

✹✹✹

الواجب نحو الوالد الذي لايصلي ولا يصوم

السؤال:
▪والدي لا يصلي ولا يصوم، وكثير ما يشرب الدخان، وكثير السب ولسانهُ بذي، وقد قام بظلم أمي، فأنا لا أحبه، وأكره هذه الأفعال، ماذا يجب علي نحو والدي؟

Pertanyaan:

▪ Orangtua saya (yakni ayah) tidak mau shalat dan tidak pula mau berpuasa dan gemar sekali merokok serta banyak sekali mencela dan berlisan kotor. Dan sungguh dia telah melakukan kezhaliman kepada Ibu saya, sehingga saya tidak suka kepada Ayah saya,
Dan saya benci terhadap tindakan-tindakan  tersebut. Maka apa kewajiban saya kepada orang tua saya?

                     ----

الجواب:

 والدك ما دام لا يصلي ولا يصوم ليس بمسلم وكافر، والكافر لا يجوز لك أن تودهُ و لو كان والدك،

( لا تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ)،

فلا يجوز لك، أن توادهُ وهو تارك للصلاة وتارك للصيام وأركان الإسلام هذا ليس بمسلم، وأمك المسلمة لا يجوز أن تبقى معهُ، لأنهُ كافر إلا إذا تاب إلى الله عز وجل ورجع إلى دينه فوا صلهُ،
☝وأما ما دام أنه لم يتب وهو باقي على ردتهِ وكفره، فيجب عليك أن تبغضه فالله عز وجل،
لكن إذا أحتاج إليك واحتاج إلى برك تبر به، لكن لا تحبهُ تبر به للقرابه التي بينك وبينه.

                            ✲✲✲

Al-Jawab:

Ayah Anda selama tidak mau shalat dan tidak  mau berpuasa maka ia bukan seorang muslim, Ia kafir. Dan seorang yang kafir maka tidak boleh bagi Anda untuk mencintainya meskipun ia adalah Ayah Anda,

☝Firman Allah Subhanahu Wata’ala :

لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُم

"Kamu tidak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, sekalipun orang itu adalah bapak-bapak atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka." {QS. Al-Mujadalah: 22}

Maka tidak boleh bagi Anda untuk saling berkasih sayang kepadanya, dalam keadaan dia adalah seorang yang meninggalkan shalat, meninggalkan berpuasa serta rukun-rukun Islam maka dia bukanlah seorang muslim.

Adapun ibu Anda yang seorang muslimah tidak boleh untuk tetap tinggal bersamanya karena ia kafir, kecuali apabila ia bertaubat kepada Allah 'Azza wa Jalla serta kembali kepada agamanya dan terus konsisten.

Adapun selama ia tidak mau bertaubat dan masih saja terus-menerus pada kemurtadan dan kekufurannya, maka wajib atas anda untuk membencinya karena Allah 'Azza Wa Jalla.

Namun apabila ia membutuhkanmu (yakni) butuh pada baktimu maka berbaktilah kepadanya tetapi jangan mencintainya, berbaktilah kepadanya karena kekerabatan antara Anda dan dia.

                         ----

Sumber artikel: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/15379

✒Alih Bahasa: Abu 'Alifah Ayyub (Balikpapan) حفظه الله - [FBF 4]

__________________
مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
❂ WA Forum Berbagi Faidah [FBF]

Menjalani Pengobatan untuk Menurunkan Syahwat

::: MENJALANI PENGOBATAN UNTUK MENURUNKAN SYAHWAT :::

✹✹✹

Pertanyaan :

Apakah seseorang diperbolehkan untuk mengkonsumsi sebagian obat-obatan dengan tujuan menurunkan syahwat/ keinginan nikah?

Jawaban dari Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah: 

Hal itu TIDAK APA-APA. Tapi tidak boleh baginya melakukan pengobatan dengan apa-apa yang memutus syahwatnya (secara permanen/total_ed).

 أما التخفيف فلا بأس به لما في ذلك من المصلحة الظاهرة،

Adapun kalau untuk menurunkan/mengurangi saja maka tidak apa-apa jika pada hal itu ada maslahat yang nampak.

Dan Rasul Shallallaahu 'alaihi wasallam telah mengabarkan bahwa puasa akan meringankan syahwat,sebagaimana sabdanya - Sholawat dan salam atasnya - :

يا معشر الشباب من استطاع منكم الباءة فليتزوج ومن لم يستطع فعليه بالصوم فإنه له وجاء( متفق عليه.)

"Wahai para pemuda ,barangsiapa yang sudah mampu di antara kalian untuk ba'ah, maka hendaknya dia menikah, Dan barangsiapa yang belum mampu, hendaknya dia puasa karena sungguh puasa itu adalah perisai baginya". [Muttafaq 'alaihi]

                            ✲✲✲

س: هل يجوز للرجل تعاطي بعض الأدوية لتخفيف شهوة النكاح؟

.ج: لا بأس بذلك، ولكن لا يجوز له أن يتعاطى ما يقطعها، أما التخفيف فلا بأس به لما في ذلك من المصلحة الظاهرة، ورسول الله صلى الله عليه وسلم قد أخبر أن الصوم يخفف الشهوة، في قوله عليه الصلاة والسلام ;
 يا معشر الشباب من استطاع منكم الباءة فليتزوج ومن لم يستطع فعليه بالصوم فإنه له وجاء( متفق عليه.)

                    ------


Sumber: Majmu' Fatawa Al Allamah Ibnu Baaz 21/ 189

✒Alih Bahasa: Abu Mas' ud Surabaya حفظه الله - [FBF-7 ]
                   

Semoga bermanfaat..!

بارك اللـــــــه فيــــــــكم...

______________________
مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
❂ WA Forum Berbagi Faidah [FBF]

Menjalani Pengobatan untuk Menurunkan Syahwat

::: MENJALANI PENGOBATAN UNTUK MENURUNKAN SYAHWAT :::

✹✹✹

Pertanyaan :

Apakah seseorang diperbolehkan untuk mengkonsumsi sebagian obat-obatan dengan tujuan menurunkan syahwat/ keinginan nikah?

Jawaban dari Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah: 

Hal itu TIDAK APA-APA. Tapi tidak boleh baginya melakukan pengobatan dengan apa-apa yang memutus syahwatnya (secara permanen/total_ed).

 أما التخفيف فلا بأس به لما في ذلك من المصلحة الظاهرة،

Adapun kalau untuk menurunkan/mengurangi saja maka tidak apa-apa jika pada hal itu ada maslahat yang nampak.

Dan Rasul Shallallaahu 'alaihi wasallam telah mengabarkan bahwa puasa akan meringankan syahwat,sebagaimana sabdanya - Sholawat dan salam atasnya - :

يا معشر الشباب من استطاع منكم الباءة فليتزوج ومن لم يستطع فعليه بالصوم فإنه له وجاء( متفق عليه.)

"Wahai para pemuda ,barangsiapa yang sudah mampu di antara kalian untuk ba'ah, maka hendaknya dia menikah, Dan barangsiapa yang belum mampu, hendaknya dia puasa karena sungguh puasa itu adalah perisai baginya". [Muttafaq 'alaihi]

                            ✲✲✲

س: هل يجوز للرجل تعاطي بعض الأدوية لتخفيف شهوة النكاح؟

.ج: لا بأس بذلك، ولكن لا يجوز له أن يتعاطى ما يقطعها، أما التخفيف فلا بأس به لما في ذلك من المصلحة الظاهرة، ورسول الله صلى الله عليه وسلم قد أخبر أن الصوم يخفف الشهوة، في قوله عليه الصلاة والسلام ;
 يا معشر الشباب من استطاع منكم الباءة فليتزوج ومن لم يستطع فعليه بالصوم فإنه له وجاء( متفق عليه.)

                    ------


Sumber: Majmu' Fatawa Al Allamah Ibnu Baaz 21/ 189

✒Alih Bahasa: Abu Mas' ud Surabaya حفظه الله - [FBF-7 ]
                   

Semoga bermanfaat..!

بارك اللـــــــه فيــــــــكم...

______________________
مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
❂ WA Forum Berbagi Faidah [FBF]

Menjauhi Ahlul Ahwa (Pengekor Hawa Nafsu) & Bukan Mendekatinya

::: MENJAUHI AHLUL AHWA (PENGEKOR HAWA NAFSU) & BUKAN MENDEKATINYA :::

[Peringatan Bagi Orang Yang Senang Bermajlis Khusus atau Memberikan Pelajaran Khusus Terhadap Mereka]

✹✹✹

Asy Syaikh Al 'Allamah Muhammad bin Hadi Al Madkhali hafizhahullah berkata:

Ahlul hawa dihinakan, direndahkan, dan dijauhi, bukannya malah dia mendekati tokoh diantara mereka secara khusus, bukannya malah dia mendekati dan memberikan satu pelajaran secara khusus!!

Sesungguhnya perbuatan dia memberikan pelajaran khusus -yang nampak bagiku-bahwa dia sangat menghormati tokoh ahli bi’dah itu. Jika tidak maka dia tidak akan memberikan majlis khusus dan menyempatkan memberikan waktunya untuk duduk bersamanya.

☝Aku berkata: Sesungguhnya orang ini aku khawatirkan telah cenderung dengan hatinya kepada para ahlul bid’ah itu. Jika dia telah condong dengan hatinya kepada mereka, maka tidak aneh akan terjadi hal itu darinya.

 ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﻨﻔﻊ ﺍﻟﺠﺮﺑﺎﺀ ﻗﺮﺏ ﺻﺤﻴﺤﺔ ﺇﻟﻴﻬﺎ ، ﻭﻟﻜﻦ ﺍﻟﺼﺤﻴﺤﺔ ﺗﺠﺮﺏ .

"Dan hendaklah diketahui bahwa orang yang berkudis tidak akan sembuh dengan dekatnya orang sehat, akan tetapi orang sehat itu yang akan tertulari"

Perkataan  salaf tentang ahlul bid’ah adalah mutawatir (sangat banyak) dalam membuat peringatan dari duduk-duduk dengan ahlul bid’ah, terlebih dari mendekati mereka dalam majlis-majlis khusus dan memberikan pelajaran khusus!!

Orang yang ditanyakan ini, atau pertanyaan yang ditanyakan saudaraku ini tentang orang itu menunjukkan bahwa orang itu bukanlah salafi.

Wallahul musta’an.

___________________

قال الشيخ ﺍﻟﻌﻼﻣﺔ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻫﺎﺩﻱ ﺍﻟﻤﺪﺧﻠﻲ حفظه الله :

ﻓﺄﻫﻞ ﺍﻷﻫﻮﺍﺀ ﻳﻘﻬﺮﻭﻥ ﻭﻳﺬﻟﻮﻥ ﻭﻳﺒﻌﺪﻭﻥ ﻭﻳﻘﺼﻮﻥ ﻻ ﺃﻧﻪ ﻳﻘﺮﺏ ﻣﻦ ﻛﺎﻥ ﻣﻨﻬﻢ ﺭﺃﺳﺎ ﺧﺎﺻﺔ ﻻ ﺃﻧﻪ ﻳﻘﺮﺏ ﻭﻳﻌﻄﻰ ﺩﺭﺳﺎً ﺧﺎﺻﺎ!!

☝ﻓﺈﻥ ﺇﻋﻄﺎﺋﻪ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺪﺭﺱ ﺍﻟﺨﺎﺹ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻈﻬﺮ ﻟﻲ ﺃﻧﻪ ﻏﺎﻳﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﺒﺠﻴﻞ ﻭﺍﻹﺣﺘﺮﺍﻡ ﻟﻪ، ﻭﺇﻻ ﻟﻤﺎ ﺃﻋﻄﺎﻩ ﺟﻠﺴﺔ ﺧﺎﺻﺔ، ﻭﺍﻗﺘﻄﻊ ﻣﻦ ﻭﻗﺘﻪ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﻟﻠﺠﻠﻮﺱ ﻣﻌﻪ،

ﻓﺄﻧﺎ ﺃﻗﻮﻝ : ﺇﻥ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺸﺨﺺ ﺃﺧﺸﻰ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻗﺪ ﻣﺎﻝ ﺑﻘﻠﺒﻪ ﺇﻟﻰ ﻫﺆﻻﺀ ، ﻭﺇﺫﺍ ﻣﺎﻝ ﺑﻘﻠﺒﻪ ﺇﻟﻴﻬﻢ ﻓﻼ ﻳﺴﺘﻐﺮﺏ ﺃﻥ ﻳﺤﺼﻞ ﻣﻨﻪ ﺫﻟﻚ ، ﻭﻟﻴﻌﻠﻢ : ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﻨﻔﻊ ﺍﻟﺠﺮﺑﺎﺀ ﻗﺮﺏ ﺻﺤﻴﺤﺔ ﺇﻟﻴﻬﺎ ، ﻭﻟﻜﻦ ﺍﻟﺼﺤﻴﺤﺔ ﺗﺠﺮﺏ .

ﻭﺍﻟﺴﻠﻒ ﺍﻟﻜﻼﻡ ﻋﻨﻬﻢ ﻣﺘﻮﺍﺗﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﻨﻔﻴﺮ ﻣﻦ ﻣﺠﺎﻟﺴﺔ ﺍﻟﻤﺒﺘﺪﻋﺔ ، ﻓﻀﻼ ﻋﻦ ﺗﻘﺮﻳﺒﻬﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺠﺎﻟﺲ ﺍﻟﺨﺎﺻﺔ !! ﻭﺇﻋﻄﺎﺋﻬﻢ ﺍﻟـﺪﺭﻭﺱ ﺍﻟﺨﺎﺻﺔ ، ﻓﻬﺬ ﺍﻷﺥ ﺍﻟـﺬﻱ ﻳﺴﺄﻝ ﻋﻨﻪ ، ﺃﻭ ﻫـﺬﺍ ﺍﻟﺴﺆﺍﻝ ﺍﻟـﺬﻱ ﺳﺎﻟﻪ ﺍﻷﺥ ﻋﻦ ﻫـﺬﺍ ﺍﻟﻤﺴﺆﻭﻝ ﻋﻨﻪ ﻳﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﺃﻧـﻪ ﻟﻴﺲ ﺑﺴﻠﻔﻲ ، ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻤﺴﺘﻌﺎﻥ.

                       ----

Sumber: http://www.sahab.net/forums/index.php?s=9f3b4ade3f8a6acb0d516531e4b09a7c&showtopic=119490

✒Alih Bahasa: Abu Sa'ad Ahmad Al-Faruq (ASAF) Al-Makassari حفظه الله [FBF 3]
_____________________
مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
❂ WA Forum Berbagi Faidah [FBF]

Menjauhi Ahlul Ahwa (Pengekor Hawa Nafsu) & Bukan Mendekatinya

::: MENJAUHI AHLUL AHWA (PENGEKOR HAWA NAFSU) & BUKAN MENDEKATINYA :::

[Peringatan Bagi Orang Yang Senang Bermajlis Khusus atau Memberikan Pelajaran Khusus Terhadap Mereka]

✹✹✹

Asy Syaikh Al 'Allamah Muhammad bin Hadi Al Madkhali hafizhahullah berkata:

Ahlul hawa dihinakan, direndahkan, dan dijauhi, bukannya malah dia mendekati tokoh diantara mereka secara khusus, bukannya malah dia mendekati dan memberikan satu pelajaran secara khusus!!

Sesungguhnya perbuatan dia memberikan pelajaran khusus -yang nampak bagiku-bahwa dia sangat menghormati tokoh ahli bi’dah itu. Jika tidak maka dia tidak akan memberikan majlis khusus dan menyempatkan memberikan waktunya untuk duduk bersamanya.

☝Aku berkata: Sesungguhnya orang ini aku khawatirkan telah cenderung dengan hatinya kepada para ahlul bid’ah itu. Jika dia telah condong dengan hatinya kepada mereka, maka tidak aneh akan terjadi hal itu darinya.

 ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﻨﻔﻊ ﺍﻟﺠﺮﺑﺎﺀ ﻗﺮﺏ ﺻﺤﻴﺤﺔ ﺇﻟﻴﻬﺎ ، ﻭﻟﻜﻦ ﺍﻟﺼﺤﻴﺤﺔ ﺗﺠﺮﺏ .

"Dan hendaklah diketahui bahwa orang yang berkudis tidak akan sembuh dengan dekatnya orang sehat, akan tetapi orang sehat itu yang akan tertulari"

Perkataan  salaf tentang ahlul bid’ah adalah mutawatir (sangat banyak) dalam membuat peringatan dari duduk-duduk dengan ahlul bid’ah, terlebih dari mendekati mereka dalam majlis-majlis khusus dan memberikan pelajaran khusus!!

Orang yang ditanyakan ini, atau pertanyaan yang ditanyakan saudaraku ini tentang orang itu menunjukkan bahwa orang itu bukanlah salafi.

Wallahul musta’an.

___________________

قال الشيخ ﺍﻟﻌﻼﻣﺔ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻫﺎﺩﻱ ﺍﻟﻤﺪﺧﻠﻲ حفظه الله :

ﻓﺄﻫﻞ ﺍﻷﻫﻮﺍﺀ ﻳﻘﻬﺮﻭﻥ ﻭﻳﺬﻟﻮﻥ ﻭﻳﺒﻌﺪﻭﻥ ﻭﻳﻘﺼﻮﻥ ﻻ ﺃﻧﻪ ﻳﻘﺮﺏ ﻣﻦ ﻛﺎﻥ ﻣﻨﻬﻢ ﺭﺃﺳﺎ ﺧﺎﺻﺔ ﻻ ﺃﻧﻪ ﻳﻘﺮﺏ ﻭﻳﻌﻄﻰ ﺩﺭﺳﺎً ﺧﺎﺻﺎ!!

☝ﻓﺈﻥ ﺇﻋﻄﺎﺋﻪ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺪﺭﺱ ﺍﻟﺨﺎﺹ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻈﻬﺮ ﻟﻲ ﺃﻧﻪ ﻏﺎﻳﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﺒﺠﻴﻞ ﻭﺍﻹﺣﺘﺮﺍﻡ ﻟﻪ، ﻭﺇﻻ ﻟﻤﺎ ﺃﻋﻄﺎﻩ ﺟﻠﺴﺔ ﺧﺎﺻﺔ، ﻭﺍﻗﺘﻄﻊ ﻣﻦ ﻭﻗﺘﻪ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﻟﻠﺠﻠﻮﺱ ﻣﻌﻪ،

ﻓﺄﻧﺎ ﺃﻗﻮﻝ : ﺇﻥ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺸﺨﺺ ﺃﺧﺸﻰ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻗﺪ ﻣﺎﻝ ﺑﻘﻠﺒﻪ ﺇﻟﻰ ﻫﺆﻻﺀ ، ﻭﺇﺫﺍ ﻣﺎﻝ ﺑﻘﻠﺒﻪ ﺇﻟﻴﻬﻢ ﻓﻼ ﻳﺴﺘﻐﺮﺏ ﺃﻥ ﻳﺤﺼﻞ ﻣﻨﻪ ﺫﻟﻚ ، ﻭﻟﻴﻌﻠﻢ : ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﻨﻔﻊ ﺍﻟﺠﺮﺑﺎﺀ ﻗﺮﺏ ﺻﺤﻴﺤﺔ ﺇﻟﻴﻬﺎ ، ﻭﻟﻜﻦ ﺍﻟﺼﺤﻴﺤﺔ ﺗﺠﺮﺏ .

ﻭﺍﻟﺴﻠﻒ ﺍﻟﻜﻼﻡ ﻋﻨﻬﻢ ﻣﺘﻮﺍﺗﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﻨﻔﻴﺮ ﻣﻦ ﻣﺠﺎﻟﺴﺔ ﺍﻟﻤﺒﺘﺪﻋﺔ ، ﻓﻀﻼ ﻋﻦ ﺗﻘﺮﻳﺒﻬﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺠﺎﻟﺲ ﺍﻟﺨﺎﺻﺔ !! ﻭﺇﻋﻄﺎﺋﻬﻢ ﺍﻟـﺪﺭﻭﺱ ﺍﻟﺨﺎﺻﺔ ، ﻓﻬﺬ ﺍﻷﺥ ﺍﻟـﺬﻱ ﻳﺴﺄﻝ ﻋﻨﻪ ، ﺃﻭ ﻫـﺬﺍ ﺍﻟﺴﺆﺍﻝ ﺍﻟـﺬﻱ ﺳﺎﻟﻪ ﺍﻷﺥ ﻋﻦ ﻫـﺬﺍ ﺍﻟﻤﺴﺆﻭﻝ ﻋﻨﻪ ﻳﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﺃﻧـﻪ ﻟﻴﺲ ﺑﺴﻠﻔﻲ ، ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻤﺴﺘﻌﺎﻥ.

                       ----

Sumber: http://www.sahab.net/forums/index.php?s=9f3b4ade3f8a6acb0d516531e4b09a7c&showtopic=119490

✒Alih Bahasa: Abu Sa'ad Ahmad Al-Faruq (ASAF) Al-Makassari حفظه الله [FBF 3]
_____________________
مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
❂ WA Forum Berbagi Faidah [FBF]

Menjelaskan Kesalahan Walaupun Dia Dari Seorang Ahlussunnah

::: MENJELASKAN KESALAHAN WALAUPUN DIA DARI SEORANG AHLUSSUNNAH :::

                               ✹✹✹

Pertanyaan yang diajukan kepada as-Syaikh Muhammad bin Hadi al-Madkholi حفظه الله

[] Pertanyaan :  Semoga Alloh memberikan kebaikan kepada anda. Apakah ucapan ini benar, BAHWA THOLIBUL ILMI TIDAK BERBICARA TENTANG SESEORANG DARI KALANGAN AHLUSSUNNAH YANG TERJATUH KEPADA KESALAHAN, KECUALI DENGAN MEMINTA PENDAPAT DARI AHLUL 'ILMI??

Jawab:
TIDAK, INI TIDAK BENAR, akan tetapi berbicaralah dalam rangka menjelaskan kesalahan orang tersebut (yang terjatuh pada kesalahan), walaupun yang terjatuh adalah seorang 'alim sunnah, atau seorang sunny, atau selain mereka, karena hal ini (berbicara tentang seseorang yang terjatuh pada kesalahan) adalah kebutuhan, menjelaskan karena kebutuhan.

Maka jika dia datang, dan memandang bahwa akan dikhawatirkan (orang yang salah tersebut) akan diikuti dengan kesalahan tersebut, maka katakanlah ini salah, fulan salah pada masalah ini, fulan ucapannya (dho'if) lemah, fulan ucapannya rojih (kuat), walaupun orang yang salah tersebut dari kalangan ahlus sunnah.

☝Dikarenakan, sesungguhnya para ulama sejak zaman dahulu senantiasa mengkritik satu dengan yang lain.

Maka tidak ada masalah pada perkara tersebut, semoga Alloh Subhaanahu wa Ta'ala memberikan kepada kami keikhlasan pada ucapan dan amal perbuatan kita hanya untuk-Nya. 

Semoga Sholawat, salam serta keberkahan Alloh limpahkan atas hamba dan utusannya Nabi kita Muhammad Shallallaahu 'alaihi wasallam,  keluarga beliau dan para sahabat beliau serta para pengikut beliau dengan benar.

↘ Audio:
Durasi 00:55 link unduh http://bit.ly/1tniMTU

Alih Bahasa: Abu 'Ubaidah Azmi bin Munawwar Kholil (Muntilan) حفظه الله [FBF 2]


                     ------

__________________
مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
❂ WA Forum Berbagi Faidah [FBF]

Menjelaskan Kesalahan Walaupun Dia Dari Seorang Ahlussunnah

::: MENJELASKAN KESALAHAN WALAUPUN DIA DARI SEORANG AHLUSSUNNAH :::

                               ✹✹✹

Pertanyaan yang diajukan kepada as-Syaikh Muhammad bin Hadi al-Madkholi حفظه الله

[] Pertanyaan :  Semoga Alloh memberikan kebaikan kepada anda. Apakah ucapan ini benar, BAHWA THOLIBUL ILMI TIDAK BERBICARA TENTANG SESEORANG DARI KALANGAN AHLUSSUNNAH YANG TERJATUH KEPADA KESALAHAN, KECUALI DENGAN MEMINTA PENDAPAT DARI AHLUL 'ILMI??

Jawab:
TIDAK, INI TIDAK BENAR, akan tetapi berbicaralah dalam rangka menjelaskan kesalahan orang tersebut (yang terjatuh pada kesalahan), walaupun yang terjatuh adalah seorang 'alim sunnah, atau seorang sunny, atau selain mereka, karena hal ini (berbicara tentang seseorang yang terjatuh pada kesalahan) adalah kebutuhan, menjelaskan karena kebutuhan.

Maka jika dia datang, dan memandang bahwa akan dikhawatirkan (orang yang salah tersebut) akan diikuti dengan kesalahan tersebut, maka katakanlah ini salah, fulan salah pada masalah ini, fulan ucapannya (dho'if) lemah, fulan ucapannya rojih (kuat), walaupun orang yang salah tersebut dari kalangan ahlus sunnah.

☝Dikarenakan, sesungguhnya para ulama sejak zaman dahulu senantiasa mengkritik satu dengan yang lain.

Maka tidak ada masalah pada perkara tersebut, semoga Alloh Subhaanahu wa Ta'ala memberikan kepada kami keikhlasan pada ucapan dan amal perbuatan kita hanya untuk-Nya. 

Semoga Sholawat, salam serta keberkahan Alloh limpahkan atas hamba dan utusannya Nabi kita Muhammad Shallallaahu 'alaihi wasallam,  keluarga beliau dan para sahabat beliau serta para pengikut beliau dengan benar.

↘ Audio:
Durasi 00:55 link unduh http://bit.ly/1tniMTU

Alih Bahasa: Abu 'Ubaidah Azmi bin Munawwar Kholil (Muntilan) حفظه الله [FBF 2]


                     ------

__________________
مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
❂ WA Forum Berbagi Faidah [FBF]

Fatwa Muslimah: Jarak Safar Seorang Wanita

::: FATWA MUSLIMAH: JARAK SAFAR SEORANG WANITA :::

Bersama Asy-Syeikh Al-Muhadist Muqbil bin Hadi Al-Wadi' -Rahimahullahu ta'ala-

✹✹✹

Pertanyaan:
Di tempat kami terdapat beberapa wanita yang bepergian dari kota ke kota untuk membeli suatu kebutuhan bersama wanita dan anak-anak kecil, dan kembali pada hari itu juga,  apakah baginya dosa?

Jawaban:
Apabila jarak tempuh perjalanan selama setengah hari¹ jika ditempuh dengan berjalan kaki maka TIDAK BOLEH karena terhitung sebagai "safar" (perjalanan.pent)

Dan telah ditekankan dari hadist Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam:

لا يحل لامرأة تؤمن بالله و اليوم الآخر أن تسافر إلا مع ذي محرم

" Tidak diperbolehkan bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir bepergian, kecuali bersama mahramnya"

(Diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim dari Hadist Abu Hurairah -radhiyallahu 'anhu-. pent)

☝Walaupun perjalanan tersebut dipotong / ditempuh dengan kereta atau mobil dengan satu jam, maka yang menjadi pertimbangan adalah apa yang terjadi pada zaman Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam.

Sumber: Ghorotil Asyrithoh 2 / 90 | Alih Bahasa: Abu Kuraib bin Ahmad Bandung حفظه الله [FBF-1]


________________
¹ maksud perjalanan setengah hari adalah sesuai dengan hadist Abu Hurairah dalam shahih Muslim dan yang lainnya

تسافر مسيرة ليلة

"Bepergian dengan jarak semalam"

Perjalanan dengan jarak semalam dalam arti setengah hari karena satu hari terhitung 24 jam. Wallahu a'lam

Semoga bermanfaat..!

بارك اللـــــــه فيــــــــكم ...

______________________
مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
❂ WA Forum Berbagi Faidah [FBF]

Fatwa Muslimah: Jarak Safar Seorang Wanita

::: FATWA MUSLIMAH: JARAK SAFAR SEORANG WANITA :::

Bersama Asy-Syeikh Al-Muhadist Muqbil bin Hadi Al-Wadi' -Rahimahullahu ta'ala-

✹✹✹

Pertanyaan:
Di tempat kami terdapat beberapa wanita yang bepergian dari kota ke kota untuk membeli suatu kebutuhan bersama wanita dan anak-anak kecil, dan kembali pada hari itu juga,  apakah baginya dosa?

Jawaban:
Apabila jarak tempuh perjalanan selama setengah hari¹ jika ditempuh dengan berjalan kaki maka TIDAK BOLEH karena terhitung sebagai "safar" (perjalanan.pent)

Dan telah ditekankan dari hadist Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam:

لا يحل لامرأة تؤمن بالله و اليوم الآخر أن تسافر إلا مع ذي محرم

" Tidak diperbolehkan bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir bepergian, kecuali bersama mahramnya"

(Diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim dari Hadist Abu Hurairah -radhiyallahu 'anhu-. pent)

☝Walaupun perjalanan tersebut dipotong / ditempuh dengan kereta atau mobil dengan satu jam, maka yang menjadi pertimbangan adalah apa yang terjadi pada zaman Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam.

Sumber: Ghorotil Asyrithoh 2 / 90 | Alih Bahasa: Abu Kuraib bin Ahmad Bandung حفظه الله [FBF-1]


________________
¹ maksud perjalanan setengah hari adalah sesuai dengan hadist Abu Hurairah dalam shahih Muslim dan yang lainnya

تسافر مسيرة ليلة

"Bepergian dengan jarak semalam"

Perjalanan dengan jarak semalam dalam arti setengah hari karena satu hari terhitung 24 jam. Wallahu a'lam

Semoga bermanfaat..!

بارك اللـــــــه فيــــــــكم ...

______________________
مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
❂ WA Forum Berbagi Faidah [FBF]

Metode Yang Benar Dalam Bermu'amalah Dengan Buku-Buku Ahlul Bid'ah

::: METODE YANG BENAR DALAM BERMU'AMALAH DENGAN BUKU-BUKU AHLUL BID'AH :::

✹✹✹

Berkata Asy-Syeikh Al-'Allaamah Ubaid bin Abdillah Al-Jabiry -Hafidzohullahu wa ro'aahu-:

___________________
☝"Sesungguhnya melihat (membaca. pent) buku-buku yang menyimpang (dari Ahlus Sunnah) mempunyai tiga hukum:

1. Buku yang di dalamnya terdapat kebid'ahan yang murni dan tidak didapati sedikitpun di dalamnya sunnah,

Contohnya:
Kitab "Ushulul Kaafi" karya Al-Kulainy dan yang lainnya dari buku-buku milik (syi'ah) Rafidhah, yang semacam ini (hukumnya) melihatnya atau membacanya HARAM kecuali bagi seorang 'Alim matang keilmuannya yang ingin membantah (kesesatan) kepada suatu kaum dari kitab-kitab mereka.

Dua syaratnya yaitu:
i. Seorang Alim yang matang keilmuannya
ii. Ingin membantah atas suatu kaum dari kitab-kitab mereka.

2. Buku yang di dalamnya bercampur antara bid'ah dengan sunnah, dan yang seperti ini TIDAK DIPERBOLEHKAN membaca buku tersebut kecuali bagi seorang Alim matang keilmuannya yang mampu mengklarifikasi antara yang benar dan salah, antara sunnah dan bid'ah,

Contohnya seperti:
Kitab "Al-Kasyaaf" karya Az-Zamakhsyary yang berpaham mu'tazilah, seorang yang cerdik dalam membuat makar (penipuan), yang menyembunyikan ke-mu'tazilahnnya, maka bagi seorang yang matang keilmuannya dari kalangan Ahli 'Ilm, akan mengambil faedah-faedah yang tertuang di dalamnya dari arti-arti kalimat, balaghoh (retorika kalimat. pent), keindahan rangkaian kalimat, juga dari bahasa, nahwu (tata cara berbahasa arab), dan lain sebagainya, yaitu selagi ia memiliki kemampuan untuk membedakan (antara haq dan bathil. pent).

3. Kitab-kitab yang terlepas dan bersih dari kebid'ahan, dan pemilik atau penulisnya adalah seorang yang telah sesat dan keluar dari Ahlus sunnah,  tetapi kitabnya tidak ditemukan di dalamnya kebid'ahan,

Contohnya adalah seorang Mubtadi' yang menulis kitab tentang Fiqh, atau dalam bab "Thoharoh" (bersuci. pent) saja, atau dalam bab jual beli saja, atau dia (penyusun) hanya mengambil Kitab-Kitab hadist yang kemudian ia susun, ia rapihkan berdasarkan bab-babnya kemudian ia beri penomeran pada setiap hadist saja, tanpa ia masukkan di dalamnya kebid'ahannya, maka yang semacam ini jika seorang 'Alim menunjukanmu (untuk membaca) kepada kitab tersebut, dan dikatakan kepada anda:

"Sesungguhnya kitab fulan tidak terdapat di dalamnya kebid'ahan, aku telah membacanya dan menela'ahnya", (sehingga 'Alim tersebut mengatakan) "kitab milik fulany tidak terdapat di dalamnya kebid'ahannya" maka yang seperti ini TIDAK ADA LARANGAN DARI MEMBACANYA.

Washallallaahu wa sallama 'alaa nabiyyina Muhammad wa 'alaa aalihi wa sohbihi ilaa yaumiddin wal hamdulillahi rabbil 'aalamiin.

-----------------------------
المنهج الصحيح في التعامل مع كتب أهل البدع
للشيخ العلامة عبيد الجابري
-----------------------------

قال الشيخ العلاَّمة عُبيد بن عبد الله الجابري: «إنَّ النَّظر في كتب الانحراف له ثلاثة أحكام:

1- ما كان بدعةً خالصاً ليس فيه شيءٌ من السُنَّة، ومثال ذلك: “أصول الكافي” للكُلَيْنيّ وغيره من كُتُب الرافضة، فهذا يحرم النظر فيه ومطالعته إلاَّ لعالمٍ متمكن يريد الردَّ على القوم من كتبهم.سمعتم ؟ شرطان:

أ - عالم متمكن.
ب - يريد الرَّد على القوم من كتبهم.


2- ما كان خليطاً فيه سُنَّةٌ وبدعة؛ فهذا لا يحل النظرُ فيه إلاَّ لعالمٍ مُتمكن قادرٌ على التمييز بين الصحيح والسقيم والغث والسمين والسنة والبدعة؛ ومن أمثلة ذلك: “الكشَّاف” للزمخشري تفسير الكشَّاف للزمخشري، فإنَّ الزمخشري معتزلي جلد، ماكرٌ داهيةٌ، يدُسُّ اعتزالياته؛ فالمُتمكِّنُ من أهل العلم يستفيدُ مما فيه من المعاني والبلاغة والبديع واللغة والنحو وغير ذلك ما دامت عنده القدرةُ على التمييز.

3- الثالثُ ما كان خالياً من البدعة، صاحبهُ مبتدع مُؤلفه مبتدع ولكنَّ الكتاب ليس فيه بدعة، يؤلفُ مثلاً في الفقه، في الطهارة، في البيوع، ولا يدسُّ، يقول ليس لي شأن، أنا أؤلف أطلب المعيشة، أطلب الرزق من هذا التأليف، أو يأخذ مثلاً كتاباً من كُتُب الحديث ويرتبه وينظمُ أبوابهُ ويُرقمه فقط، ولا يدخل شيئاً من بدعته، فهذا إذا أرشدك إليه عالمٌ متمكنٌ أرشدك إلى هذا الكتاب، وقال لك: إن كتاب فُلان ليس فيه بدعة، طالعتهُ وخبَرتهُ، الكتاب الفلاني ليس فيه شيءٌ من بِدَعِِهِ، فلا مانع من قراءته» اهـ.

وصلى الله وسلَّم على نبينا مُحمَّد وآله وصحبه إلى يوم الدين والحمد لله رب العالمين.

Sumber: http://ajurry.com/home/كتب-أهل-البدع/

Alih Bahasa: Abu Kuraib bin Ahmad Bandung حفظه الله [FBF-1]

Semoga bermanfaat..!

بارك اللـــــــه فيــــــــكم ...

______________________
مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
❂ WA Forum Berbagi Faidah [FBF]

Metode Yang Benar Dalam Bermu'amalah Dengan Buku-Buku Ahlul Bid'ah

::: METODE YANG BENAR DALAM BERMU'AMALAH DENGAN BUKU-BUKU AHLUL BID'AH :::

✹✹✹

Berkata Asy-Syeikh Al-'Allaamah Ubaid bin Abdillah Al-Jabiry -Hafidzohullahu wa ro'aahu-:

___________________
☝"Sesungguhnya melihat (membaca. pent) buku-buku yang menyimpang (dari Ahlus Sunnah) mempunyai tiga hukum:

1. Buku yang di dalamnya terdapat kebid'ahan yang murni dan tidak didapati sedikitpun di dalamnya sunnah,

Contohnya:
Kitab "Ushulul Kaafi" karya Al-Kulainy dan yang lainnya dari buku-buku milik (syi'ah) Rafidhah, yang semacam ini (hukumnya) melihatnya atau membacanya HARAM kecuali bagi seorang 'Alim matang keilmuannya yang ingin membantah (kesesatan) kepada suatu kaum dari kitab-kitab mereka.

Dua syaratnya yaitu:
i. Seorang Alim yang matang keilmuannya
ii. Ingin membantah atas suatu kaum dari kitab-kitab mereka.

2. Buku yang di dalamnya bercampur antara bid'ah dengan sunnah, dan yang seperti ini TIDAK DIPERBOLEHKAN membaca buku tersebut kecuali bagi seorang Alim matang keilmuannya yang mampu mengklarifikasi antara yang benar dan salah, antara sunnah dan bid'ah,

Contohnya seperti:
Kitab "Al-Kasyaaf" karya Az-Zamakhsyary yang berpaham mu'tazilah, seorang yang cerdik dalam membuat makar (penipuan), yang menyembunyikan ke-mu'tazilahnnya, maka bagi seorang yang matang keilmuannya dari kalangan Ahli 'Ilm, akan mengambil faedah-faedah yang tertuang di dalamnya dari arti-arti kalimat, balaghoh (retorika kalimat. pent), keindahan rangkaian kalimat, juga dari bahasa, nahwu (tata cara berbahasa arab), dan lain sebagainya, yaitu selagi ia memiliki kemampuan untuk membedakan (antara haq dan bathil. pent).

3. Kitab-kitab yang terlepas dan bersih dari kebid'ahan, dan pemilik atau penulisnya adalah seorang yang telah sesat dan keluar dari Ahlus sunnah,  tetapi kitabnya tidak ditemukan di dalamnya kebid'ahan,

Contohnya adalah seorang Mubtadi' yang menulis kitab tentang Fiqh, atau dalam bab "Thoharoh" (bersuci. pent) saja, atau dalam bab jual beli saja, atau dia (penyusun) hanya mengambil Kitab-Kitab hadist yang kemudian ia susun, ia rapihkan berdasarkan bab-babnya kemudian ia beri penomeran pada setiap hadist saja, tanpa ia masukkan di dalamnya kebid'ahannya, maka yang semacam ini jika seorang 'Alim menunjukanmu (untuk membaca) kepada kitab tersebut, dan dikatakan kepada anda:

"Sesungguhnya kitab fulan tidak terdapat di dalamnya kebid'ahan, aku telah membacanya dan menela'ahnya", (sehingga 'Alim tersebut mengatakan) "kitab milik fulany tidak terdapat di dalamnya kebid'ahannya" maka yang seperti ini TIDAK ADA LARANGAN DARI MEMBACANYA.

Washallallaahu wa sallama 'alaa nabiyyina Muhammad wa 'alaa aalihi wa sohbihi ilaa yaumiddin wal hamdulillahi rabbil 'aalamiin.

-----------------------------
المنهج الصحيح في التعامل مع كتب أهل البدع
للشيخ العلامة عبيد الجابري
-----------------------------

قال الشيخ العلاَّمة عُبيد بن عبد الله الجابري: «إنَّ النَّظر في كتب الانحراف له ثلاثة أحكام:

1- ما كان بدعةً خالصاً ليس فيه شيءٌ من السُنَّة، ومثال ذلك: “أصول الكافي” للكُلَيْنيّ وغيره من كُتُب الرافضة، فهذا يحرم النظر فيه ومطالعته إلاَّ لعالمٍ متمكن يريد الردَّ على القوم من كتبهم.سمعتم ؟ شرطان:

أ - عالم متمكن.
ب - يريد الرَّد على القوم من كتبهم.


2- ما كان خليطاً فيه سُنَّةٌ وبدعة؛ فهذا لا يحل النظرُ فيه إلاَّ لعالمٍ مُتمكن قادرٌ على التمييز بين الصحيح والسقيم والغث والسمين والسنة والبدعة؛ ومن أمثلة ذلك: “الكشَّاف” للزمخشري تفسير الكشَّاف للزمخشري، فإنَّ الزمخشري معتزلي جلد، ماكرٌ داهيةٌ، يدُسُّ اعتزالياته؛ فالمُتمكِّنُ من أهل العلم يستفيدُ مما فيه من المعاني والبلاغة والبديع واللغة والنحو وغير ذلك ما دامت عنده القدرةُ على التمييز.

3- الثالثُ ما كان خالياً من البدعة، صاحبهُ مبتدع مُؤلفه مبتدع ولكنَّ الكتاب ليس فيه بدعة، يؤلفُ مثلاً في الفقه، في الطهارة، في البيوع، ولا يدسُّ، يقول ليس لي شأن، أنا أؤلف أطلب المعيشة، أطلب الرزق من هذا التأليف، أو يأخذ مثلاً كتاباً من كُتُب الحديث ويرتبه وينظمُ أبوابهُ ويُرقمه فقط، ولا يدخل شيئاً من بدعته، فهذا إذا أرشدك إليه عالمٌ متمكنٌ أرشدك إلى هذا الكتاب، وقال لك: إن كتاب فُلان ليس فيه بدعة، طالعتهُ وخبَرتهُ، الكتاب الفلاني ليس فيه شيءٌ من بِدَعِِهِ، فلا مانع من قراءته» اهـ.

وصلى الله وسلَّم على نبينا مُحمَّد وآله وصحبه إلى يوم الدين والحمد لله رب العالمين.

Sumber: http://ajurry.com/home/كتب-أهل-البدع/

Alih Bahasa: Abu Kuraib bin Ahmad Bandung حفظه الله [FBF-1]

Semoga bermanfaat..!

بارك اللـــــــه فيــــــــكم ...

______________________
مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
❂ WA Forum Berbagi Faidah [FBF]

Sebarkan Bantahan, Jangan Sembunyikan

::: SEBARKAN BANTAHAN, JANGAN SEMBUNYIKAN :::

✯✯✯

ﺃﺣﺴﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻟﻴﻜﻢ ﻫﺬﺍ ﺍﻷﺥ ﺃﺑﻮ ﺃﺣﻤﺪ ، ﺍﻟﺤﻘﻴﻘﺔ ﻳﺎ ﺷﻴﺦ ﺻﺎﻟﺢ ﺍﻟﻔﻮﺯﺍﻥ ﺃﺭﺳﻞ ﻟﻲ ﺳﺆﺍﻝ ﺟﻴﺪ ﻭﺟﻤﻴﻞ ﻭﻧﺮﻳﺪ ﺃﻥ ﻧﺒﺴﻂ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﻘﻮﻝ ﻳﻘﻮﻝ ﻓﻴﻪ ﺍﻷﺥ ﺃﺣﻤﺪ :

✔ ﺃﻧﺎ ﺃﺣﺐ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻭﺃﻛﺮﻩ ﺍﻟﺒﺪﻉ ﻭﺍﻟﺨﺮﺍﻓﺎﺕ ، ﻭﻟﻜﻦ ﻳﺎ ﻓﻀﻴﻠﺔ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﻟﺮﺩﻭﺩ ﻋﻠﻰ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺒﺪﻉ ﻭﺍﻟﺰﻳﻎ ﻳﻘﻮﻝ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻣﻦ ﻣﻨﻬﺞ ﺍﻟﺴﻠﻒ ﻭﺃﻥ ﻛﺘﺐ ﺍﻟﺮﺩﻭﺩ ﻻ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﺃﻥ ﺗﻨﺸﺮ ﺇﻻ ﺑﻴﻦ ﻃﻠﺒﺔ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻧﺮﺟﻮ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺻﺎﻟﺢ ﺃﻥ ﻳﻮﺟﻬﻨﺎ ﻓﻲ ﺿﻮﺀ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺴﺆﺍﻝ ؟

ﺍﻟﻌﻼﻣﺔ ﺻﺎﻟﺢ ﺍﻟﻔﻮﺯﺍﻥ ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ :

ﻣﺎ ﺫﻛﺮ ﺍﻟﺴﺎﺋﻞ ﺍﻟﺮﺩﻭﺩ ، ﻻ ﺑﺪ ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﺻﺎﺩﺭﺓ ﻋﻦ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻳﺘﻘﻨﻮﻥ ﺍﻟﺮﺩ ﻳﻌﺮﻓﻮﻥ ﺍﻟﺨﻄﺄ ﻭﻳُﺘﻘﻨﻮﻥ ﺍﻟﺮﺩ ﻋﻠﻴﻪ ﺑﺎﻟﺪﻟﻴﻞ ﻣﻦ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﻭﺍﻟﺴﻨﺔ ﻭﻧﺸﺮ ﺍﻟﺮﺩﻭﺩ ﻫﺬﺍ ﻭﺍﺟﺐ ﻷﻧﻪ ﺗﻌﻠﻴﻢ ﻟﻠﻤﺴﻠﻤﻴﻦ، ﺇﺫﺍ ﻧﺸﺮ ﻫﻮ ﺑﺪﻋﺘﻪ ﻭﻧﺸﺮ ﻫﻮ ﺃﺧﻄﺎﺀﻩ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺎﺱ، ﻓﻼ ﺑﺪ ﺃﻥ ﺗﻨﺸﺮ ﺍﻟﺮﺩﻭﺩ ﺍﻟﺼﺤﻴﺤﺔ ﻹﺯﺍﻟﺔ ﺿﺮﺭ ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﻭﺍﻷﺧﻄﺎﺀ ﻻ ﺑﺪ ﻣﻦ ﻫﺬﺍ ، ﻫﺬﺍ ﻋﻼﺝ .

ﺇﺫﺍ ﺃُﺧﻔﻴﺖ ﺍﻟﺮﺩﻭﺩ ﺍﻧﺘﺸﺮ ﺍﻟﺸﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻭﺭﺍﺟﺖ ﺍﻟﺒﺪﻉ ! ﻓﻼ ﺑﺪ ﻣﻦ ﻧﺸﺮ ﺍﻟﺮﺩﻭﺩ ﺍﻟﺼﺤﻴﺤﺔ ﻣﺎ ﻫﻮ ﻛﻞ ﺍﻟﺮﺩﻭﺩ !! ﺍﻟﺮﺩﻭﺩ ﺍﻟﺼﺤﻴﺤﺔ ﺍﻟﺼﺎﺩﺭﺓ ﻋﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻳﻌﺮﻓﻮﻥ ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﻭﻳﻌﺮﻓﻮﻥ ﺍﻟﺨﻄﺄ ﻭﻳﻌﺮﻓﻮﻥ ﻛﻴﻒ ﻳﺮﺩﻭﻥ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﻭﺍﻟﺴﻨﺔ . ﻧﻌﻢ .

 ﻣﻦ : ﻧﻮﺭ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺪﺭﺏ ٢٨-٠٢-١٤٣٣ ﻫـ


ℹ http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=126237

---------------------

Semoga Allah berbuat baik kepada anda. Ini Akh Abu Ahmad, wahai Syaikh Shalih Al Fauzan, dia mengirim kepadaku satu pertanyaan yang bagus. Dan kami ingin untuk menjabarkan perkataan tentangnya, berkata didalamnya akh Ahmad:

✔ “Aku mencintai sunnah dan aku benci terhadap bid’ah dan khurafat. Akan tetapi wahai Fadhilatusy Syaikh, bantahan terhadap ahli bid’ah dan orang yang menyimpang dikatakan oleh sebagian orang bahwa itu bukan termasuk manhaj salaf, dan kitab-kitab rudud (bantahan) tidak sepantasnya tersebar kecuali di antara para penuntut ilmu.” Kami mengharapkan bimbingan untuk kami dari Syaikh Shalih sesuai dengan pertanyaan ini?


Al 'Allaamah Shalih Al Fauzan hafizhahullah:

Apa yang telah disebutkan penanya, bantahan-bantahan itu, harus berasal dari ulama yang kokoh dalam memberikan bantahan, dimana mereka mengetahui kesalahan, dan mengokohkan bantahan atas kesalahan itu dengan dalil dari Al Kitab dan As Sunnah. Dan MENYEBARKAN BANTAHAN INI WAJIB, karena itu yang akan mengajari kaum muslimin. Jika dia menyebarkan bid’ahnya dan dia menyebarkan kesalahan-kesalahannya kepada orang-orang, maka harus disebarkan bantahan-bantahan yang benar untuk menghilangkan bahaya bid’ah dan kesalahan-kesalahan. Ini harus. Inilah solusi.

Jika bantahan disembunyikan maka akan tersebar kejelekan di antara manusia dan bid’ah-bid’ah menjadi beredar!. MAKA HARUS DISEBARKAN BANTAHAN-BANTAHAN yang benar, tidak semua bantahan!! Bantahan-bantahan yang benar berasal dari ahlul ilmi yang mengetahui bid’ah dan mengetahui kesalahan dan mengetahui bagaimana membantahnya dari Al Kitab dan As Sunnah.

Dari Nuur 'Alad Darb 28-02-1433H

                    ✱✱✱

✒Alih Bahasa: Ahmad Abu Sa'ad Al-Faruq Al-Makassari حفظه الله - [FBF 3]

مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
❂ WA Forum Berbagi Faidah [FBF]

Sebarkan Bantahan, Jangan Sembunyikan

::: SEBARKAN BANTAHAN, JANGAN SEMBUNYIKAN :::

✯✯✯

ﺃﺣﺴﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻟﻴﻜﻢ ﻫﺬﺍ ﺍﻷﺥ ﺃﺑﻮ ﺃﺣﻤﺪ ، ﺍﻟﺤﻘﻴﻘﺔ ﻳﺎ ﺷﻴﺦ ﺻﺎﻟﺢ ﺍﻟﻔﻮﺯﺍﻥ ﺃﺭﺳﻞ ﻟﻲ ﺳﺆﺍﻝ ﺟﻴﺪ ﻭﺟﻤﻴﻞ ﻭﻧﺮﻳﺪ ﺃﻥ ﻧﺒﺴﻂ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﻘﻮﻝ ﻳﻘﻮﻝ ﻓﻴﻪ ﺍﻷﺥ ﺃﺣﻤﺪ :

✔ ﺃﻧﺎ ﺃﺣﺐ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻭﺃﻛﺮﻩ ﺍﻟﺒﺪﻉ ﻭﺍﻟﺨﺮﺍﻓﺎﺕ ، ﻭﻟﻜﻦ ﻳﺎ ﻓﻀﻴﻠﺔ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﻟﺮﺩﻭﺩ ﻋﻠﻰ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺒﺪﻉ ﻭﺍﻟﺰﻳﻎ ﻳﻘﻮﻝ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻣﻦ ﻣﻨﻬﺞ ﺍﻟﺴﻠﻒ ﻭﺃﻥ ﻛﺘﺐ ﺍﻟﺮﺩﻭﺩ ﻻ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﺃﻥ ﺗﻨﺸﺮ ﺇﻻ ﺑﻴﻦ ﻃﻠﺒﺔ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻧﺮﺟﻮ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺻﺎﻟﺢ ﺃﻥ ﻳﻮﺟﻬﻨﺎ ﻓﻲ ﺿﻮﺀ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺴﺆﺍﻝ ؟

ﺍﻟﻌﻼﻣﺔ ﺻﺎﻟﺢ ﺍﻟﻔﻮﺯﺍﻥ ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ :

ﻣﺎ ﺫﻛﺮ ﺍﻟﺴﺎﺋﻞ ﺍﻟﺮﺩﻭﺩ ، ﻻ ﺑﺪ ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﺻﺎﺩﺭﺓ ﻋﻦ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻳﺘﻘﻨﻮﻥ ﺍﻟﺮﺩ ﻳﻌﺮﻓﻮﻥ ﺍﻟﺨﻄﺄ ﻭﻳُﺘﻘﻨﻮﻥ ﺍﻟﺮﺩ ﻋﻠﻴﻪ ﺑﺎﻟﺪﻟﻴﻞ ﻣﻦ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﻭﺍﻟﺴﻨﺔ ﻭﻧﺸﺮ ﺍﻟﺮﺩﻭﺩ ﻫﺬﺍ ﻭﺍﺟﺐ ﻷﻧﻪ ﺗﻌﻠﻴﻢ ﻟﻠﻤﺴﻠﻤﻴﻦ، ﺇﺫﺍ ﻧﺸﺮ ﻫﻮ ﺑﺪﻋﺘﻪ ﻭﻧﺸﺮ ﻫﻮ ﺃﺧﻄﺎﺀﻩ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺎﺱ، ﻓﻼ ﺑﺪ ﺃﻥ ﺗﻨﺸﺮ ﺍﻟﺮﺩﻭﺩ ﺍﻟﺼﺤﻴﺤﺔ ﻹﺯﺍﻟﺔ ﺿﺮﺭ ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﻭﺍﻷﺧﻄﺎﺀ ﻻ ﺑﺪ ﻣﻦ ﻫﺬﺍ ، ﻫﺬﺍ ﻋﻼﺝ .

ﺇﺫﺍ ﺃُﺧﻔﻴﺖ ﺍﻟﺮﺩﻭﺩ ﺍﻧﺘﺸﺮ ﺍﻟﺸﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻭﺭﺍﺟﺖ ﺍﻟﺒﺪﻉ ! ﻓﻼ ﺑﺪ ﻣﻦ ﻧﺸﺮ ﺍﻟﺮﺩﻭﺩ ﺍﻟﺼﺤﻴﺤﺔ ﻣﺎ ﻫﻮ ﻛﻞ ﺍﻟﺮﺩﻭﺩ !! ﺍﻟﺮﺩﻭﺩ ﺍﻟﺼﺤﻴﺤﺔ ﺍﻟﺼﺎﺩﺭﺓ ﻋﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻳﻌﺮﻓﻮﻥ ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﻭﻳﻌﺮﻓﻮﻥ ﺍﻟﺨﻄﺄ ﻭﻳﻌﺮﻓﻮﻥ ﻛﻴﻒ ﻳﺮﺩﻭﻥ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﻭﺍﻟﺴﻨﺔ . ﻧﻌﻢ .

 ﻣﻦ : ﻧﻮﺭ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺪﺭﺏ ٢٨-٠٢-١٤٣٣ ﻫـ


ℹ http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=126237

---------------------

Semoga Allah berbuat baik kepada anda. Ini Akh Abu Ahmad, wahai Syaikh Shalih Al Fauzan, dia mengirim kepadaku satu pertanyaan yang bagus. Dan kami ingin untuk menjabarkan perkataan tentangnya, berkata didalamnya akh Ahmad:

✔ “Aku mencintai sunnah dan aku benci terhadap bid’ah dan khurafat. Akan tetapi wahai Fadhilatusy Syaikh, bantahan terhadap ahli bid’ah dan orang yang menyimpang dikatakan oleh sebagian orang bahwa itu bukan termasuk manhaj salaf, dan kitab-kitab rudud (bantahan) tidak sepantasnya tersebar kecuali di antara para penuntut ilmu.” Kami mengharapkan bimbingan untuk kami dari Syaikh Shalih sesuai dengan pertanyaan ini?


Al 'Allaamah Shalih Al Fauzan hafizhahullah:

Apa yang telah disebutkan penanya, bantahan-bantahan itu, harus berasal dari ulama yang kokoh dalam memberikan bantahan, dimana mereka mengetahui kesalahan, dan mengokohkan bantahan atas kesalahan itu dengan dalil dari Al Kitab dan As Sunnah. Dan MENYEBARKAN BANTAHAN INI WAJIB, karena itu yang akan mengajari kaum muslimin. Jika dia menyebarkan bid’ahnya dan dia menyebarkan kesalahan-kesalahannya kepada orang-orang, maka harus disebarkan bantahan-bantahan yang benar untuk menghilangkan bahaya bid’ah dan kesalahan-kesalahan. Ini harus. Inilah solusi.

Jika bantahan disembunyikan maka akan tersebar kejelekan di antara manusia dan bid’ah-bid’ah menjadi beredar!. MAKA HARUS DISEBARKAN BANTAHAN-BANTAHAN yang benar, tidak semua bantahan!! Bantahan-bantahan yang benar berasal dari ahlul ilmi yang mengetahui bid’ah dan mengetahui kesalahan dan mengetahui bagaimana membantahnya dari Al Kitab dan As Sunnah.

Dari Nuur 'Alad Darb 28-02-1433H

                    ✱✱✱

✒Alih Bahasa: Ahmad Abu Sa'ad Al-Faruq Al-Makassari حفظه الله - [FBF 3]

مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
❂ WA Forum Berbagi Faidah [FBF]